Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Gus Dur dan Edukasi Multikultural

📅 Jumat, 01 Mar 2019, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Maka, dalam pendekatan pendidikan multikultural menggunakan strategi antara lain menerapkan pembelajaran yang mengedepankan dialog mendalam. Dalam dialog mendalam, peserta didik dilatih mengembangkan sikap saling membuka diri dan belajar mengenal perbedaan serta menghargai perbedaan. Proses dialog diharapkan dapat mencari titik-titik persamaan sambil memahami perbedaan.

Kemudian, menerapkan pembelajaran bermakna (meaningful learning) yang berkaitan dengan cara peserta didik memperoleh pengetahuan baru, menerimanya, serta mengkaitkan dengan kehidupan. Siswa dalam pendidikan multikultural bukan sebagai objek, tetapi dilibatkan secara reciprocal dalam kehidupan peserta didik sebagai bagian dari kehidupan mereka. Untuk itu, persoalan masyarakat perlu masuk kurikulum.

Guru dituntut berinisiatif menangkap dinamika sosial yang tengah berkembang sebagai unsur penunjang bahan pelajaran. Bahan-bahan tersebut digali dari dinamika masyarakat. Hal ini penting karena bahan-bahan yang hangat akan menambah khasanah peserta didik.

Perlu juga menerapkan strategi pembelajaran kooperatif dengan berprinsip kerja sama. Tujuannya, membangun kolaborasi dalam kehidupan siswa dengan masyarakat majemuk. Untuk saat ini, model pembelajaran lebih cenderung menggunakan strategi kompetisi di mana antarsiswa saling bersaing mencapai prestasi.

Dalam praktik lapangan pokok bahasan "Pluralitas Masyarakat Indonesia" mata pelajaran IPS Kelas 8, dikaitkan dengan kehidupan sekitar peserta didik seperti kelenteng Hok Tik Bio, Pati. Murid berkunjung ke kelenteng untuk observasi dan berbincang dengan penjaga kelenteng dan ketua yayasan.

Hasilnya, memunculkan kesadaran baru siswa. Paham negatif siswa terhadap tempat ibadah Konghucu mulai berkurang. Mayoritas siswa beragama Islam. Mereka menjadi lebih terbuka terhadap pemeluk agama lain. Selain itu, sebagai tindak lanjut, siswa dilibatkan oleh pengurus kelenteng dalam kegiatan-kegiatan bakti sosial seperti pembagian takjil, pasar murah, dan pengobatan gratis.

Tugas menanamkan toleransi semakin berat, seiring dengan makin mendekatnya perhelatan politik pilpres dan pileg. Tetapi kita tidak boleh berhenti menanamkan sikap toleransi. Sebab toleransi adalah fondasi dasar dan kunci utama keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Indonesia tidak dapat berdiri, tanpa nilai-nilai toleransi karena realitasnya negari ini berdiri di atas kebinekaan.

Penulis Guru SMP 5 Pati, Alumnus Pascasarjana UPI

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
injourney
Advertisement
astra2
Daerah
Status Siaga Kekeringan Met...

Cincinnati Open, Area Sial bagi Swiatek Dikalahkan Pegula

51 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Cincinnati Open, Area Sial ...

Prawirotaman Adakan Festival Guna Menunjang Kunjungan Wisata

56 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Prawirotaman Adakan Festiva...
Olahraga
Brentford Kalahkan Tottenha...
NTT Terus Diguncang Gempa Susulan, Sulteng Diterpa Lindu 5,4

NTT Terus Diguncang Gempa Susulan, Sulteng Diterpa Lindu 5,4

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.