Gus Dur dan Edukasi Multikultural
📅 Jumat, 01 Mar 2019, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: koran jakarta/ones
Oleh Udi Utomo, ss mpd
Ketika menyebut nama mendiang Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur), terbayang sosok dengan sikap-sikap toleran dan pluralis. Pada situasi bangsa saat ini yang ditandai dengan makin menguatnya sikap-sikap intoleran, peringatan ke-9 wafatnya seolah bangsa mengharapkan kehadirannya kembali di tengah-tengah bangsa. Dia mampu mengayomi seluruh bangsa baik yang berbeda etnis, agama, maupun budaya.
Keberpihakan Gus Dur pada kelompok-kelompok minoritas tidak diragukan lagi. Salah satunya dengan mencabut Keputusan Presiden (Keppres) No 14 Tahun 1967 tentang Larangan Pelaksanaan Adat dan Agama Tionghoa di tempat umum. Dia lalu mengeluarkan Keppres No 6 Tahun 2000 yang mengizinkan perayaan Tahun Baru Imlek secara terbuka.
Sekarang bangsa merindukan sosok pluralis seperti Gus Dur. Beberapa kejadian terakhir menunjukkan gejala menguatnya sikap-sikap intoleransi. Kasus terbaru rencana pembongkaran makam umat kristiani di pemakaman umum Dusun Ngares Kidul, Mojokerto. Masyarakat menolak makam tersebut dengan klaim makam umum makam muslim.
Sebelumnya terjadi peristiwa penggergajian salib di salah satu makam di Kotagede, Yogyakarta. Sedangkan pada peringatan Imlek yang baru saja, ada surat pernyataan dari ormas Forum Muslim Bogor yang menolak perayaan tersebut. Makin menguatnya intoleransi saat ini tidak terlepas dari peristiwa politik.
Menurut Bagong Suyanto (2019), sikap-sikap intoleransi makin menguat karena imbas perpecahan dan kontestasi politik yang berkelindan dengan sikap fanatik agama. Akibat konflik kepentingan dan hasrat berkuasa, perkembangan politik identitas menjadi lebih menonjol. Hal ini kemudian mengakibatkan masyarakat ikut arus dan terlibat dalam sikap permusuhan kepada kelompok lain yang memiliki nilai berbeda.
Akibatnya, terjadi ekslusivitas yaitu hilangnya zona sosial yang dapat dijadikan antarumat berbeda untuk bertemu dan saling mengenal lebih mendalam. Garis demarkasi antarkelompok masyarakat yang berbeda cenderung makin tegas, kaku, dan tersegregasi.
Menghadapi situasi seperti ini, kita perlu menguatkan toleransi. Semangat toleransi sedang dibutuhkan saat ini. Pendidikan memiliki peran penting menanamkan toleransi. Sikap-sikap toleransi akan terpateri kuat dalam diri individu, bila ditanamkan sejak dini.
Tanamkan Empati
Selain faktor-faktor eksternal seperti politik yang dapat memunculkan sikap intoleransi, jika ditelaah, tumbuhnya sikap intoleransi karena sikap empati warga semakin menipis. Orang semakin banyak berprasangka negatif terhadap orang atau kelompok lain yang berbeda dengan dirinya. Selain itu, timbul klaim kebenaran (truth claim) berlebihan. Kebenaran hanya ada pada diri dan kelompoknya.
Untuk menghilangan sifat-sifat tersebut harus digiatkan menanamkan empati agar orang dapat merasakan kondisi orang lain. Hal ini akan menumbuhkan sikap toleran dengan menerima adanya perbedaan.
Penumbuhan sikap toleransi dapat menggunakan pendekatan pendidikan multicultural yang dipandang sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang majemuk dan plural. Sedang pengertian pendidikan multikultural adalah proses belajar mengajar yang memfasilitasi peserta didik untuk berubah dari perspektif monokultural, penuh prasangka, dan diskriminatif ke perspektif multikultural yang menghargai keragaman, perbedaan, toleran, dan terbuka/inklusif (Mahfud, 2013).
Dalam pendidikan multikultural, pendidikan berperan sebagai media transformasi sosial, budaya, dan multikulturalisme. Pendidikan yang mampu memberi tawaran-tawaran yang mencerdaskan melalui cara mendesain materi, metode, kurikulum yang mampu menyadarkan (consciousness) siswa akan pentingnya sikap toleran, menghormati perbedaan agama, etnis, dan budaya (Hakim, 2018).
Agar terjadi perubahan paradigma tersebut, menuntut transformasi pembelajaran yang tidak hanya terbatas pada dimensi pengetahuan (kognitif). Lebih dari itu menuntut perubahan dimensi kesadaran (afektif) dan perilaku (psikomotorik). Tidak saja siswa memiliki pengetahuan akan nilai-nilai toleransi, tetapi yang jauh lebih utama, siswa memiliki suatu kesadaran yang diwujudkan dalam perilaku toleransi dalam kehidupan sehari-harinya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!