Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads
-

Peran Pemuda Menjembatani Ragam Keyakinan

📅 Jumat, 23 Mar 2018, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Peran Pemuda Menjembatani Ragam Keyakinan Doc: istimewa

Judul : Antologi Kisah Orang Muda untuk Perdamaian

Penyusun : Abdullah Alawi, dkk

Penerbit : Wahid Foundation

Cetakan : 2017

Tebal : 154 halaman

ISBN : 978-602-7891-06-7

Jumlah pemuda Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2010 mencapai 63 juta. Menurut Bung Karno, pemuda memiliki kekuatan luar biasa. Dengan hanya 10 pemuda, begitu Sang Proklamator bilang dalam sebuah pidatonya, dia bisa mengguncangkan gunung. Buku ini merangkum perjuangan 12 pemuda menjembatani perbedaan pemahaman dan keyakinan yang kerap digosok-gosok orang tak bertanggung jawab sehingga menjadi konflik.

Ini tidak melulu ulah warga, tapi juga akibat kebijakan bias pemerintah. Bahkan, UU PNPS 1965 Nomor 24 Tahun 2013 tentang Adminitrasi Kependudukan masih menyisakan poin diskriminatif karena menegasikan pengakuan terhadap beberapa keyakinan masyarakat (hlm 8). Hal demikian, pada aras sosial merampas hak sebagian masyarakat. Misalnya dituturkan Auliyah Fauziyah tentang perampasan hak ribuan warga Manislor, Kabupaten Kuningan. Hingga sekarang mereka sengaja tidak diberi e-KTP oleh pemerintah karena menganut Jamaah Ahmadiyah Indonesia. Kalau mereka mau mendapat e-KTP harus melepaskan keyakinan.

Kebijakan deviatif ini menorehkan derita tersendiri bagi masyarakat Manislor. Tanpa e-KTP, mereka tidak bisa mendapat jaminan kesehatan BPJS, menjadi nasabah bank, dan layanan publik lainnya. "Tindakan pemerintah daerah yang tak memberi e-KTP kepada warga Manislor adalah pelanggaran hak asasi warga, karenanya harus dilawan," kata Aulia (hlm 53).

Penganut Syiah pun mendapat intimidasi. Yulda Sapti Lofa menuturkan, kengerian persepsi beberapa guru madrasah tempat dia belajar yang menghalalkan darah orang Syiah. Persepsi demikian dia dengar sendiri. Sebagai keluarga penganut Syiah, dia merasa tidak nyaman belajar di lembaga pendidikan tersebut. Di sekolah Muhammadiyah, keyakinannya mendapat apresiasi. Guru agama tidak pernah mempersoalkan keyakinannya. Justru sang guru memberi wawasan kepada siswa, perbedaan itu wajar dalam Islam (hlm 150).

Menjadi pemeluk keyakinan minoritas memang cemas karena mudah disudutkan. Ini pula yang dirasakan Ari Januar yang beragama Kristen. Selama ini, dia banyak mendengar hinaan terhadap agamanya. Rasa tidak suka terhadap keyakinan lain lebih sering karena ketidakpahaman. Tambah lagi doktrin sejak kecil tak berdasar yang celakanya dianggap benar.

Konstruksi persepsi demikian dengan sendirinya menciptakan kewaspadaan ekstra terhadap apa pun yang berkaitan dengan keyakinan lain. Ini dimulai dari menjaga jarak karena takut tertular hingga tindakan menyesatkan demi menjaga orisinalitas keyakinannya. "Keimanan kan tergantung pada kepercayaan diri sendiri. Kalau memang percaya dengan keimanannya, kenapa harus takut hilang?" kata Ari (hlm 43).

Dialog dengan pikiran terbuka kadang menghasilkan solusi terbaik. Ini yang dilakukan Awan Firmanto yang memutuskan meninggalkan Islam demi bersiteguh memeluk Katolik. Dengan dialog, dia bisa meyakinkan keluarganya yang sejak awal keberatan, bahkan melarangnya pindah agama. Awan dengan bijak berkata kepada keluarganya bahwa dia memeluk Katolik bukan karena Islam salah. Dia memilih Katolik karena menemukan kenyamanan di dalamnya. "Saya memang nyaman dengan Katolik. Saya bisa memandang sudut pandang dari masyarakat minoritas. Lagi pula agama Katolik itu salah satu yang mengedepankan logika. Itu cocok dengan saya," kata Awan (hlm 62).

Buku ini diterbitkan Wahid Foundation, salah satu dari lima lembaga yang selama 30 bulan mengadakan program "Respect and Dialogue" untuk menguatkan hak-hak kewarganegaraan. Buku ini hadir sebagai bukti kecil keberhasilan program tersebut mendayakan warga untuk memperjuangkan hak serta meneguhkan paradigma perdamaian di atas perbedaan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Daerah
Pengaturan pembelian BBM di...
Daerah
Ritual Munara Fan Nanggi di...

Hiu paus terdampar di Bantul

2 jam lalu | Wahyu AP

Rona
Hiu paus terdampar di Bantul
Daerah
Edukasi bantuan hidup dasar...
Advertisement
Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

19 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.