Memprioritaskan Literasi bagi Masyarakat Terpencil di Papua Barat
📅 Senin, 19 Okt 2026, 23:32 WIB | Oleh: Tim Penulis
Manokwari - Pemerintah Provinsi Papua Barat memprioritaskan pemerataan akses literasi bagi orang asli Papua (OAP), anak-anak, perempuan, dan masyarakat di wilayah terpencil yang masih menghadapi keterbatasan layanan perpustakaan.
Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani di Manokwari, Senin, mengatakan program literasi harus memperhatikan kebutuhan kelompok masyarakat, terutama yang kesulitan memperoleh bahan bacaan dan informasi.
"Pengembangan literasi harus perhatikan kebutuhan anak-anak, generasi muda, perempuan, serta masyarakat di daerah yang sulit dijangkau layanan perpustakaan," kata dia.
Ia menjelaskan pemerataan layanan tersebut dapat dilakukan melalui pengembangan pojok baca, pemanfaatan perpustakaan digital, serta penguatan fasilitas perpustakaan hingga tingkat kampung.
Program lainnya yang juga penting untuk dilakukan mencakup kegiatan membaca bersama, literasi keluarga, hukum, dan kesehatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.
"Pelaksanaan kegiatan itu memerlukan keterlibatan pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, serta komunitas pegiat literasi," ujarnya.
Oleh karena itu, pemerintah provinsi melakukan penandatanganan nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama guna memperluas jangkauan pelayanan perpustakaan serta meningkatkan kegemaran membaca.
Pemerintah provinsi berharap, setiap mitra mengambil peran sesuai tugas dan kapasitas masing-masing, sehingga kesepakatan tersebut menghasilkan kegiatan yang dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
"Masing-masing pihak diharapkan bisa menjalankan tugasnya masing-masing agar bisa menghasilkan kegiatan yang berdampak nyata," ujarnya.
Dia mengingatkan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Papua Barat untuk menyusun rencana kerja yang memuat pembagian tanggung jawab secara terukur serta mekanisme pemantauan dan evaluasi berkala.
Kolaborasi tersebut tidak hanya fokus pada perluasan akses, tetapi membangun budaya membaca sejak usia dini yang dimulai dari lingkungan keluarga dan diperkuat melalui kegiatan pembelajaran di sekolah.
"Jadi bukan hanya perluasan akses saja, tapi bagaimana kegiatan itu mendorong budaya membaca sejak usia dini," ucap Lakotani.
Menurut dia, orang tua memiliki peran penting mewujudkan kebiasaan membaca anak, sedangkan tenaga pendidik mengintegrasikan kegiatan literasi dalam proses belajar serta pengelola perpustakaan.
Kemampuan dalam memahami informasi juga membantu masyarakat di seluruh wilayah Papua Barat untuk menghadapi perubahan, mengembangkan kreativitas, dan mengambil keputusan secara bijaksana.
"Festival literasi hari ini menjadi sarana memperkenalkan buku, pengetahuan, teknologi, serta berbagai praktik pengembangan budaya membaca ke depannya," ucap dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!