Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads
-

Gaung Musik Klasik dari Zaman Baroque

📅 Jumat, 02 Feb 2018, 01:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Gaung Musik Klasik dari Zaman Baroque Doc: dok. Invitation to the Dance
Ket. Avip Priatna (hadap belakang) tengah memimpin orkestra The Resonanz Music Studio dalam pergelaran Invitation to the Dance di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (1/2). Invitation to the Dance menampilkan Isyana Sarasvati dan Jonathan Kuo, pianis muda berbakat.

Awal 2018 The Resonanz Music Studio (TRMS) pimpinan Avip Priatna kembali menunjukkan konsistensinya untuk mengisi dan memajukan musik klasik orkestra di Indonesia. Melalui pertunjukan berkualitas bersama dengan Jakarta Concert Orchestra (JCO), Avip Priatna menggelar konser pembuka bertajuk Invitation to the Dance yang di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (1/2). Invitation to the Dance merupakan komposisi untuk orkestra yang ditulis komponis Jerman, Carl Maria von Weber yang menjadi salah satu komposisi pada pertunjukan yang dimainkan sekitar 55 musisi profesional.

Jonathan Kuo, pianis muda berbakat Indonesia dan Isyana Sarasvati turut memeriahkan pertunjukan ini. "Sebagai salah satu konduktor yang aktif di Indonesia, Avip Priatna senantiasa menghadirkan pertunjukan musik klasikdalam upaya mendekatkan masyarakat dan memajukan musik klasik orkestra di Indonesia," ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, yang menjadi pendukung pergelaran tersebut.

Para musisi ini menyuguhkan penampilan dari berbagai karya komposer dunia yang bertema musik tarian, mulai dari tarian waltz yang menenangkan dari Johann Strauss II, yang berkolaborasi dengan suara indah Isyana Sarasvati hingga tarian kematian karya Franz Liszt yangsukses dibawakan iringan piano Jonathan Kuo. Terdapat pula tampilan tarian dengan inspirasi kedaerahan Norwegian Dances milik Edvarg Grieg dan Panen Raya oleh Fero Aldiansya Stefanus, sebuah karya inspirasi musik daerah Indonesia yang khusus ditulis untuk pagelaran konser ini.

Avip Priatna menambahkan ia ingin mempersembahkan penampilan baru khususnya untuk pecinta musik klasik di Jakarta dan mengusung tema tarian. "Karena musik klasik selalu terinspirasi dari tarian, dari zaman Barok (baroque) sampaisekarang," tuturnya.

Dengan konser ini pun ia ingin agar para penikmat musik dapat melihat bahwa para musisi Indonesia berbakat dan mampu memainkan komposisi musik klasik dunia. Ada sembilan lagu yang dimainkan di bawah arahan Avip Priatna, yaitu Spanish Dance No.1 milik Manuel de Falla, Invitation to the Dance Carl Maria von Weber, Pavane Gabriel Fauré, Panen Raya Fero Aldiansya Stefanus, Totentanz Franz Liszt, Norwegian Dances Op 35 Edvard Hagerup Grieg, Les Filles de Cadix Léo Delibes, Frühlingsstimmen Walzer Op 410 Johann Strauss, dan Danse Bacchanale Camille Saint Saëns. "Melalui konser Invitation to the Dance ini, saya ingin menunjukkan bahwa kita memiliki orkestra yang terdiri dari para musisi berbakat yang mampu menampilkan karya komposer dunia," ujar Avip.

Seperti Pulang ke Rumah

Isyana Sarasvati, salah satu penyanyi Indonesia yang terkenal dengan musik pop dan suara khas, sukses dengan penampilan memukau dalam pertunjukan orkestra JCO.

Sebagai soprano, Isyana mampu meraih nada-nada tinggi tanpa kesulitan. Ketimbang memikirkan kesulitan dalam menyanyikan lagu klasik tersebut, ia mengaku lebih merasa gembira. "Lebih excites ketimbang memikirkan kesulitan nanti stres sendiri," ungkapnya.

Isyana menambahkan ia merasa senang karena mendapat kesempatan untuk menyanyikan musik klasik kembali, karena sebelum menjadi penyanyi pop seperti saat ini, ia lebih dahulu belajar musik klasik.

"Saya senang karena dapat kesempatan untuk menyanyikan musik klasik, karena seperti pulang ke rumah. Kan saya berawal dari sini," ungkapnya seusai konser.

Dalam peetunjukan tersebut, Isyana menyanyikan dua lagu klasik yaitu Les Filles de Cadix karya Léo Delibes dan Frühlingsstimmen - Walzer, Op 410 milik Johann Strauss II, di mana Johann Strauss merupakan salah satu komposer kesukaannya.

Dalam menentukan kedua lagu ini, Avip Priatna sempat berdiskusi untuk mencari lagu yang cocok untuk Isyana. "Diskusi dengan Isyana yang iramanya cocok dengan tarian. Yang satu bolero dan satunya lagi waltz," ujar Avip.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Halaman Rubrik
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Membanggakan! Dua Perempuan Indonesia Jadi Juara Dunia Kewirausahaan Sosial, Apa Rahasia Mereka?

Membanggakan! Dua Perempuan Indonesia Jadi Juara Dunia Kewirausahaan Sosial, Apa Rahasia Mereka?

24 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.