Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
-

Pummach, Makan Kerang Tanpa Rasa Bersalah

📅 Senin, 03 Jul 2017, 05:10 WIB | Oleh:
Pummach, Makan Kerang Tanpa Rasa Bersalah Doc: koran jakarta/SELO CAHYO
Ket. Alat Pummach - Penyerahan alat Pummach oleh Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penerapan Teknologi (PKM-T), kepada Munawar (tiga dari kanan), selaku Sekretaris Komunitas Nelayan Kerang, di Banjar Kemuning, Kecamatan Sedati, Kabpaten Sidoarjo.

Bagi penggemar seafood, olahan kerang tentu sudah bukan menu yang asing lagi. Selain rasanya yang lezat serta dapat dimasak dengan beragam cara, kerang merupakan biota laut yang kaya gizi dan relatif tidak semahal jenis seafood lainnya, semisal kepiting atau lobster. Sayangnya, selama ini di dalam kerang terdapat kandungan kadar logam berat, seperti timbal (Pb), cadmium (Cd) dan merkuri (Hg) yang sangat berbahaya. Jika seseorang mengonsumsi makanan yang terpapar timbal (Pb) tinggi bisa menyebabkan keracunan, diare, dan pingsan mendadak.

Sementara mengonsumsi makanan yang terpapar cadmium (Cd) bisa merusak hati, paru-paru, dan ginjal, sedangkan makanan yang terpapar merkuri (Hg) bisa menyebabkan rusaknya jaringan kulit hingga saraf. Berangkat dari kenyataan itulah, lima orang mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya membuat inovasi dan berhasil membuat alat yang bisa untuk menurunkan kadar logam berat tersebut. Alat tersebut diberi nama Pummach (Depuration Mini Machine) yang mudah dioperasionalkan di kalangan nelayan.

Kelima mahasiswa dari lintas fakultas di Unair itu adalah Oktavia Arini Zuhriastuti (S-1 Budi Daya Perairan, 2014) sebagai ketua tim, Moch. Yazid Abdul Zalalil Amin (D-3 Higiene Perusahaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja, 2014), Luqmanul Hakim (S-1 Pendidikan Dokter Gigi, 2014), Ria Setiawati (S-1 Pendidikan Dokter, 2014) dan Abdul Hamid (D-3 Otomasi Sistem Instrumentasi, 2015).

Dengan bimbingan Wakil Dekan I Fakultas Perikanan dan Kelautan Unair, Endang Dewi Masithah, inovasi dan kreativitas itu dituangkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penerapan Teknologi (PKM-T), dan berhasil lolos seleksi pendanaan Kemenristekdikti tahun 2017. Ketua Tim PKM-T, Oktavia Arini Zuhriastuti, menjelaskan latar belakang digagasnya Pummach karena laut sebagai tempat bermuaranya berbagai saluran air sehingga menjadi tempat berkumpulnya berbagai zat pencemar lingkungan.

Salah satu zat yang berbahaya itu adalah logam berat. Keberadaan logam berat di perairan sangat berbahaya, baik secara langsung untuk kehidupan biota laut maupun secara tak langsung bagi kesehatan manusia. "Di sisi lain, di antara biota laut yang dapat terpapar logam berat adalah kerang. Hal ini karena kerang bisa hidup dengan cara filter feeder (menyerap dan menyaring makanan di lingkungan habitatnya). Jadi, kerang dapat mengolah dan mentransformasi setiap logam berat yang masuk dalam tubuh dan menyebabkan kerang dapat bertahan hidup.

Tentu saja hal itu membuat masyarakat cemas sebab kerang merupakan salah satu makanan favorit di masyarakat karena memiliki kandungan gizi sangat baik dan ekonomis," tuturnya baru-baru ini. Karena itu, tim berusaha membuat alat untuk membantu para nelayan bisa menurunkan kadar logam berat pada kerang tangkapannya sehingga mampu meningkatkan daya beli konsumen.

Oktavia dan timnya melakukan praktik Pummach ini di sentra penangkapan kerang di Desa Banjar Kemuning, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Di sinilah masyarakat nelayan sekaligus diajari cara menurunkan kadar logam berat pada kerang tersebut. "Untuk mengoperasionalkan mesin Pummach dibutuhkan daya listrik. Selain itu, alat ini dirancang dari berbagai komponen, seperti kotak kontainer, pompa air, sinar UV, filter air, flow meter, pipa kran, dan rak kontainer," paparnya.

Oktavia menjelaskan cara pengoperasian alat, pertama harus mengecek kran untuk memastikan jalur diluar aliran tertutup rapat, tidak ada kebocoran. Selanjutnya, mengisi kontainer dengan air laut yang sudah diatur salinitas dan suhunya. Berikutnya, menyalakan semua komponen seperti sinar UV dan filter air. Terakhir, memasukkan kerang pascapanen itu ke dalam rak kontainer.

Jika langkah itu sudah dilakukan, proses depurasi pada alat Pummach mulai berlangsung selama 24 jam. "Dalam kurun waktu itu, kerang akan mengalami puasa sehingga akan terjadi proses ekskresi, yaitu kerang mengeluarkan logam berat yang ada dalam saluran pencernaannya. Dari hasil proses eksresi tersebut akan diserap melalui filter air yang berbahan dari cangkang kerang.

Proses itu akan berlangsung terus-menerus hingga kadar logam berat pada kerang menurun secara bertahap," terang dia. Kelebihan dari alat Pummach ini, meskipun ukuran yang ditawarkan relatif kecil, tetapi kapasitas kerang yang dapat dimasukkan bisa sampai 10 kilogram. Selain itu, efektivitas penurunan logam berat pada kerang mampu mencapai hingga 40 persen.

"Kemudian yang terakhir, dengan adanya sinar UV pada Pummach maka kerang akan steril dari bakteri-bakteri salmonella, campylobacter, shigella, cholerae, dan dari berbagai virus, seperti norovirus, hepatitis A, dan astrovirus," pungkas dia. SB/E-3

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
Pemerintah Usulkan Pembentu...
Luar Negeri
Ketika Eropa Membara, Korba...

BMKG Waspadai Kemunculan Bibit Siklon Tropis 96W

33 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
BMKG Waspadai Kemunculan Bi...
Luar Negeri
Pakistan Terancam Gelap Gul...
Luar Negeri
Prancis Disapu Gelombang Pa...
Daerah
Khofifah Pastikan Pasokan B...
  • Dua Minggu Hilang, Seekor Jerapah Bernama Gracie Ditemukan Segar Bugar 6 Km dari Kandangnya di Texas
    Preview komentar:
    Siapa juga yang mau nyuri Jerapah :) Dia ...
  • Dalam 3 Tahun Terakhir, 114 Orang Menabrakkan Diri di Jalur Kereta Api
    Preview komentar:
    Mereka adalah korban tekanan hidup dan ketidakberdayaan sbg ...
  • Hasil Pertandingan Grup F Piala Dunia 2026: Jepang Kuntit Belanda Usai Singkirkan Tunisia dengan Skor Telak 4-0
    Preview komentar:
Jerman Catat Rekor Suhu Tertinggi Sepanjang Masa 41°C Saat Eropa Dilanda Gelombang Panas

Jerman Catat Rekor Suhu Tertinggi Sepanjang Masa 41°C Saat Eropa Dilanda Gelombang Panas

29 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.