Harga Pangan Harus Untungkan Petani | Koran Jakarta
Koran Jakarta | November 27 2020
No Comments
Sektor Pertanian I Milenial Diminta Tidak Malu dan Gengsi Menjadi Petani

Harga Pangan Harus Untungkan Petani

Harga Pangan Harus Untungkan Petani

Foto : Sumber: BPS – Litbang KJ/and - KJ/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

» Nilai tukar petani saat ini berkisar 99–102 atau masih jauh dari ideal di level 120.

» Jika makin banyak anak muda jadi petani, Indonesia bisa bebas dari impor pangan.

 

JAKARTA – Harapan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar para anak muda, khususnya kaum milenial, tidak malu dan gengsi untuk menjadi petani akan sulit terwujud selama belum ada perubahan mendasar pada kesejahteraan petani.

Apalagi dalam praktiknya selama ini saat musim panen justru pemerintah malah mengimpor pangan sehingga harga di tingkat petani jatuh.

Belum lagi harga gabah sering di­mainkan oleh oknum pengepul dengan menunda pembelian sehingga dalam posisi terdesak petani akhirnya men­jual murah. Selama masalah yang me­rugikan petani itu belum terselesaikan, maka sulit menarik para milenial untuk terjun ke sektor pertanian.

Milenial yang dikenal dengan kreati­vitas dan inovasi di bidang teknologi informasi, tetap tidak akan berdaya ke­tika berhadapan dengan kebijakan yang nyata-nyata merugikan petani.

Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ah­mad, menegaskan minimnya generasi milenial yang terjun ke sektor pertanian karena sektor tersebut semakin tidak menarik yang dipicu banyak faktor.

Pertama, harga pangan yang kerap tidak menguntungkan petani sebagai produsen karena sudah dipatok pemerin­tah. Sebagai akumulasinya terlihat pada Nilai Tukar Petani (NTP) yang selama be­lasan tahun terakhir cenderung melorot.

“Jadi, NTP itu akumulasi dari semua­nya. Siapa yang tertarik jika tak mengun­tungkan lagi,” tegasnya.

Saat ini, NTP hanya berkisar 99–102, sedangkan NTP yang ideal ada di level 120. Artinya, jika harga yang dikeluar­kan petani 100 maka mereka menerima harga 120 dari produksinya, sehingga mereka untung sebesar 20.

Kedua, kata Tauhid, sektor pangan juga termasuk rentan terhadap per­ubahan cuaca dan hama. Akibatnya, ba­nyak petani yang cenderung beralih ke sektor-sektor yang menjanjikan dan le­bih tahan terhadap perubahan apa pun.

Sementara itu, Peneliti CIPS, Galuh Octania, dalam hasil risetnya menyebut­kan posisi petani tidak menguntungkan karena tidak memiliki kuasa untuk me­netapkan harga Gabah Kering Panen (GKP) dan Gabah Kering Giling (GKG).

“Saat bertransaksi, petani tidak memi­liki posisi tawar yang menguntungkan ka­rena harga komoditas sangat bergantung pada pasar. Petani hanya sebagai price taker dan bukan price maker,” kata Galuh.

Dia juga menyoroti rantai pasok yang berlapis di mana untuk beras lokal mu­lai dari petani hingga ke konsumen se­tidaknya melalui 4 hingga 6 pelaku dis­tribusi. Distributor inilah yang banyak mendapat keuntungan ketimbang peta­ni sebagai penghasil komoditas.

“Sudah sepatutnya petani mendapat­kan posisi yang lebih baik dan menda­patkan keuntungan dari harga jual beras di tingkat konsumen,” kata Galuh.

Rantai distribusi yang panjang, ter­nyata bukan satu-satunya penyebab harga pangan di Indonesia terbilang ma­hal. Penelitian yang dilakukan oleh Inter­national Rice Research Institute (IRRI) pada 2016 mengungkapkan bahwa ongkos produksi pertanian di Indone­sia terbilang mahal. Disebutkan, ongkos produksi beras di Indonesia lebih ma­hal ketimbang negara lain, yaitu sebesar 4.079 rupiah per kilogram, hampir 2,5 kali lipat dari biaya produksi di Vietnam sebesar 1.679 rupiah per kg, hampir dua kali dari Thailand yakni 2.291 rupiah per kg, dan India 2.306 rupiah per kg.

“Studi IRRI menunjukkan komponen ongkos produksi yang besar ini adalah sewa tanah 1.719 rupiah dan biaya tenaga kerja 1.115 rupiah untuk memproduksi 1 kg beras tanpa sekam,” katanya.

Pilar Penting

Presiden Jokowi dalam acara Forum Petani Muda Organik yang disiarkan se­cara daring pada Kamis (29/10), optimis­tis jika semakin banyak anak muda men­jadi petani, Indonesia dapat terbebas dari impor pangan. Malah, Indonesia berpo­tensi akan menjadi pengekspor dan me­menuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

“Saya berharap forum petani organik muda ini dapat mengajak lebih banyak anak-anak muda untuk kembali ber­tani, tidak malu, tidak gengsi. Tapi seba­liknya, bangga dan bersemangat karena menjadi petani itu mulia,” kata Presiden.

Inovasi pada sektor pertanian, kata Ke­pala Negara, akan menjadi pilar penting pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Dengan pengolahan pertanian se­cara modern, saya harapkan pertanian dapat tumbuh sebagai pilar penting per­tumbuhan ekonomi Indonesia. Pertani­an akan semakin maju. Masyarakat akan semakin lebih sejahtera,” kata Presiden.

n ers/E-9

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment