Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

RI Harus Siap Antisipasi Potensi Stagflasi di AS

📅 Kamis, 02 Mei 2024, 00:52 WIB | Oleh: Tim Redaksi
RI Harus Siap Antisipasi Potensi Stagflasi di AS Doc: Sumber: Departemen Perdagangan AS - KORAN JAKARTA/
Ket. DAVID DONABEDIAN Kepala Investasi CIBC Private Wealth US - Ini adalah laporan terburuk. Inflasi yang lebih tinggi dari yang diperkirakan.

JAKARTA - Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) merilis data makroekonomi terbaru mengindikasikan ekonomi negara ekonomi terbesar itu terancam menuju stagflasi. Tanda-tanda suram tersebut mengisyaratkan tantangan-tantangan berat di masa mendatang, menurut Business Insider.

Berdasarkan laporan, Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat (AS) meningkat pada tingkat tahunan hanya 1,6 persen di kuartal I-2024 jauh di bawah proyeksi 2,5 persen. Pertumbuhan yang lebih lambat dari yang diharapkan itu mengikuti kenaikan 3,4 persen yang tercatat pada Oktober-Desember 2023 dan 4,9 persen pada kuartal sebelumnya.

"Ini adalah laporan terburuk dari dua hal pertumbuhan yang lebih lambat dari yang diperkirakan. Inflasi yang lebih tinggi dari yang diperkirakan," kata Kepala Investasi CIBC Private Wealth US, David Donabedian.

Pertumbuhan yang lemah dan melonjaknya harga-harga konsumen merupakan tanda-tanda stagflasi, yang ditandai dengan kelesuan ekonomi dan kenaikan inflasi dalam jangka waktu yang lama. AS terakhir kali dilanda stagflasi pada 1970- an ketika inflasi melonjak hingga dua digit saat ekonomi jatuh.

Para pembuat kebijakan di AS merespons dengan menaikkan suku bunga acuan hingga mencapai 20 persen untuk menurunkan harga, namun membuat ekonomi AS jatuh ke dalam resesi yang dalam. Federal Reserve (the Fed) pada Maret menahan suku bunga di kisaran 5,25 persen-5,5 persen.

Harga Minyak

Pakar ekonomi Universitas Airlangga, Rudi Purwono, yang diminta pendapatnya, mengatakan pemerintah harus bersiap mengantisipasi berbagai dampak global seperti stagflasi dan bentuk krisis lainnya, terutama dari ekonomi terbesar dunia seperti Amerika Serikat.

"Harus diperhatikan kondisi global seperti potensi stagnasi di AS karena akan berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi nasional. Ini bisa mempengaruhi harga minyak dan nilai tukar, karena ini dapat menyebabkan kenaikan harga secara umum di pasar atau inflasi.

Untuk mengatasi kenaikan nilai dollar AS dan melindungi ekonomi domestik, pemerintah harus memastikan pertumbuhan ekonomi terus berjalan sesuai target yang telah ditetapkan.

Pemerintah juga, katanya, harus siap menghadapi perubahan harga minyak dengan menyesuaikan APBN. Selain itu, otoritas keuangan harus berperan aktif menjaga stabilitas ekonomi.

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB. Suhartoko, mengatakan kebijakan AS sangat dilematis. Di satu sisi target inflasi belum mencapai 2 persen, sementara pertumbuhan ekonomi jauh di bawah proyeksi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.00...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.