UMKM Diajak Naik Kelas, Kemenkop Dorong Fesyen Berkelanjutan Jadi Tren Baru
📅 Jumat, 26 Sep 2025, 20:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf.
JAKARTA – Produk fesyen berkelanjutan adalah tren baru di industri mode yang menggabungkan gaya dengan kepedulian lingkungan.
Ini bukan sekadar baju keren, tapi baju yang diproduksi dengan lebih ramah bumi—misalnya menggunakan bahan organik, daur ulang, atau proses produksi yang hemat energi.
Fesyen berkelanjutan menjawab dua tantangan sekaligus: tingginya permintaan konsumen muda akan produk etis, dan tekanan global untuk menekan jejak karbon industri tekstil yang dikenal boros sumber daya.
Meski harga produk biasanya lebih tinggi, nilainya ada pada lifecycle yang lebih panjang, brand image yang kuat, dan peluang menembus pasar global yang makin peduli pada isu hijau.
Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mendorong pelaku usaha untuk mengembangkan produk fesyen yang tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga berkelanjutan secara lingkungan dan sosial.
Sebaiknya Anda baca juga:
Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM Siti Azizah menyampaikan bahwa keberlanjutan dalam industri fesyen merupakan elemen krusial untuk dapat bersaing di pasar global yang semakin mengutamakan produk-produk ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Mari kita dorong lahirnya generasi fesyen yang bukan hanya menguasai pasar, tetapi juga membawa misi keberlanjutan,” kata Siti Azizah dalam acara Indonesia Fashion Ecosystem Summit (IDFES) 2025 di Jakarta, Jumat (26/9).
Siti menuturkan industri fesyen Indonesia memiliki potensi besar, menyumbang hampir 20 persen dari nilai tambah ekonomi kreatif nasional dan membuka lapangan pekerjaan bagi jutaan orang, terutama pelaku UMKM.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, di tengah potensi tersebut, Siti menyebut sektor ini juga menghadapi tantangan global seperti pergeseran preferensi konsumen ke produk ramah lingkungan, percepatan digitalisasi, serta munculnya ekonomi sirkular dan teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI).
Tren ritel juga mengalami pergeseran signifikan. Konsumen kini menginginkan pengalaman belanja yang terintegrasi antara online dan offline, serta transparansi dalam proses produksi.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Reni Yanita menyampaikan bahwa pada triwulan II-2025, kontribusi industri fesyen terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas tercatat sebesar 6,96 persen, naik 1,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi ketenagakerjaan, sektor ini menyerap sekitar 1,6 juta tenaga kerja di industri kecil dan hampir 89 ribu di industri besar pada 2024.
Reni juga mengungkapkan bahwa komoditas pakaian jadi masuk dalam lima besar ekspor industri pengolahan nonmigas sejak 2023 hingga Juni 2025.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor pakaian dan aksesori pakaian, termasuk produk rajutan atau kaitan, pada Januari hingga Desember 2024 mencapai 4,14 miliar dolar AS, meningkat 8,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Negara tujuan utama ekspor meliputi Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!