Termasuk Jenis Kanker yang Tersembunyi, Siapa Saja yang Berisiko Terkena Kanker Ovarium?
📅 Minggu, 27 Jul 2025, 18:26 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Astra Zeneca
JAKARTA – Kanker Ovarium merupakan kanker yang tersembunyi dan biasanya diketahui setelah berada pada stadium lanjut. Oleh karenanya perlu kesadaran bersama kesadaran terhadap bahaya kanker ini, sekaligus menekankan pentingnya pemeriksaan dan penanganan yang tepat sebagai upaya mendukung kualitas hidup yang lebih baik bagi perempuan dan pasien kanker ovarium.
Kesadaran akan kanker ovarium penting mengingat Data Global Cancer Observatory (Globocan) 2022 menunjukkan bahwa kanker ovarium menempati peringkat ketiga sebagai kanker terbanyak pada perempuan di Indonesia. Kanker ovarium epitelial menjadi jenis kanker ovarium paling umum terjadi yang berkembang pada jaringan epitel, yaitu lapisan tipis yang menutupi bagian luar ovarium.
Indonesia termasuk dalam 10 negara dengan jumlah kasus kanker ovarium tertinggi di dunia. Angka kajadiannya mencapai 15.130 kasus baru setiap tahunnya. Angka kematian yang terjadi mencapai angka 9.673 setiap tahunnya.
“Angka ini mencerminkan masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat mengenai kanker ovarium, serta terbatasnya edukasi seputar faktor risikonya,” kata dr. Muhammad Yusuf, Sp.OG (K) Onk, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Konsultan Onkologi acara edukasi “Kanker Ovarium: Bahaya Tersembunyi yang Harus Diwaspadai,” di Jakarta pada hari Kamis (24/7).
“Melihat kondisi tersebut, sangat penting bagi kita untuk bersama-sama meningkatkan kesadaran akan kanker ovarium, termasuk pemahaman terhadap ancamannya dan edukasi kepada masyarakat, terutama perempuan, mengenai pentingnya deteksi dini kesehatan reproduksi. Edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat, khususnya perempuan, sangat penting guna menekan laju pertumbuhan kasus dan meningkatkan kualitas penanganan secara menyeluruh,” tambahnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seorang perempuan terkena kanker ovarium adalah riwayat keluarga, khususnya jika ada kerabat tingkat pertama (seperti ibu atau saudara kandung) yang pernah menderita kanker ovarium.
Selain itu riwayat reproduksi seperti menstruasi yang dimulai terlalu dini, tidak pernah hamil, atau menopause yang terjadi pada usia lebih tua dari rata-rata; faktor genetik termasuk mutasi pada gen BRCA1/BRCA2 (Breast Cancer Gene). Selain itu adanya kelainan pada mekanisme perbaikan DNA seperti Homologous Recombination Deficiency (HRD); dan obesitas serta risiko yang meningkat seiring bertambahnya usia.
Menjalani gaya hidup sehat memiliki peran penting dalam menurunkan risiko kanker ovarium. Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan antara lain, menjaga berat badan ideal, menjalankan pola makan yang seimbang dan sehat, memilih kontrasepsi oral atau Pil KB, berhenti merokok, hingga menghindari terapi hormon. Kebiasaan ini bisa mendukung kesehatan reproduksi perempuan secara menyeluruh.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berbeda dengan jenis kanker lainnya, hingga saat ini belum tersedia metode skrining yang benar-benar akurat dan dapat diandalkan untuk mendeteksi kanker ovarium sejak dini. Meski begitu, pemeriksaan seperti transvaginal ultrasound dan tes darah CA-125 dapat menjadi opsi pendukung dalam upaya deteksi dini.
Data dari American Cancer Society dan National Cancer Institute menunjukkan bahwa sebagian besar kasus kanker ovarium baru terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut. Hal ini disebabkan karena gejala awal yang cenderung ringan, tidak spesifik, dan sering diabaikan, seperti perut kembung, nyeri panggul, serta gangguan pencernaan.
“Kanker ovarium merupakan penyebab kematian tertinggi dari seluruh kanker ginekologi dengan mayoritas pasien kanker ovarium baru terdiagnosis pada stadium 3 atau 4 akibat gejala awal yang tidak spesifik, sehingga penanganan medis umumnya sudah memerlukan tindakan operasi atau kemoterapi. Terlebih, risiko kekambuhan setelah kemoterapi awal pun sangat tinggi, yaitu mencapai 70% dalam tiga tahun pertama,” tambah dr. Muhammad Yusuf.
Pada kanker ovarium stadium lanjut, pasien umumnya harus menjalani operasi besar untuk mengangkat satu atau kedua ovarium, tuba falopi, rahim, serta semua jaringan kanker yang terlihat. Pasca operasi, pasien perlu menjalankan kemoterapi untuk membunuh sel kanker yang tersisa.
Setelah menyelesaikan kemoterapi awal dan memasuki fase remisi, menjaga pasien agar terhindar dari kekambuhan sangat penting untuk mempertahankan kualitas hidup. Namun, pada kanker ovarium stadium lanjut, tingkat kekambuhan tetap tinggi setelah pengobatan lini pertama. Akibatnya, banyak pasien harus menjalani kemoterapi ulang, yang sering kali disertai dengan periode remisi (masa bebas kanker) yang lebih singkat dan peningkatan risiko kematian.
Dalam beberapa kasus, terapi target dapat diberikan setelah kemoterapi, bergantung pada hasil pemeriksaan molekuler seperti BRCA (Breast Cancer gene) atau HRD (Homologous Recombination Deficiency). Pasien dengan status HRD-positif memiliki biomarker genetik yang menunjukkan bahwa mereka memenuhi syarat untuk menjalani maintenance therapy berbasis PARP (Poly ADP-Ribose Polymerase) inhibitor, seperti Olaparib.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!