Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Studi Ungkap Organisasi Indonesia Belum Siap Hadapi Ancaman Siber Berbasis AI

📅 Senin, 11 Mei 2026, 19:35 WIB | Oleh:
Studi Ungkap Organisasi Indonesia Belum Siap Hadapi Ancaman Siber Berbasis AI Doc: Fortinet
Ket. Logo Fortinet. Studi terbaru mengungkap ancaman siber berbasis AI melampaui kesiapan banyak organisasi di Indonesia dan Asia Pasifik. Fragmentasi sistem dan tingginya volume alert mendorong adopsi platform keamanan terpadu.

JAKARTA - Kompleksitas ancaman keamanan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) dinilai semakin melampaui tingkat kesiapan banyak organisasi di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik. Kondisi ini mendorong kebutuhan mendesak akan transformasi sistem keamanan digital menuju pendekatan berbasis platform terintegrasi yang didukung otomatisasi dan kecerdasan buatan.

Temuan tersebut terungkap dalam studi terbaru yang dilakukan Forrester Consulting atas penugasan Fortinet. Studi tersebut menyoroti bahwa organisasi di kawasan Asia Pasifik menghadapi tekanan besar akibat meningkatnya ancaman siber berbasis AI di tengah kompleksitas lingkungan teknologi informasi yang terus berkembang.

Laporan itu menunjukkan ancaman eksternal yang semakin canggih kini diperparah oleh persoalan internal, seperti fragmentasi sistem keamanan, tingginya volume peringatan keamanan, hingga keterbatasan otomatisasi dalam operasional keamanan.

Sebanyak 69 persen organisasi di Asia Pasifik menyebut ancaman berbasis AI sebagai kekhawatiran utama mereka. Sementara itu, 64 persen responden menilai fragmentasi alat keamanan dan arsitektur sistem yang terpisah-pisah menjadi tantangan besar dalam menjaga keamanan digital.

Selain itu, 46 persen organisasi mengaku kewalahan menghadapi volume peringatan keamanan yang begitu tinggi sehingga menyulitkan identifikasi ancaman nyata. Sebanyak 43 persen lainnya masih mengandalkan proses manual dalam menangani respons insiden keamanan.

Studi tersebut juga menemukan bahwa tingkat kematangan keamanan siber organisasi di kawasan ini masih relatif terbatas. Sebanyak 68 persen organisasi berada pada tingkat kematangan menengah, sementara hanya 16 persen yang telah mencapai tingkat lanjut.

Temuan ini menegaskan bahwa kompleksitas sistem keamanan kini tidak lagi sekadar menjadi tantangan operasional, tetapi telah berkembang menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko siber.

Project Lead Forrester Consulting, Amelia Lau, mengatakan organisasi di Asia Pasifik saat ini menghadapi tantangan ganda, yakni meningkatnya ancaman berbasis AI dan bertambahnya kompleksitas internal sistem keamanan.

Menurut dia, meskipun investasi pada keamanan siber tetap tinggi, banyak organisasi masih kesulitan mengoperasionalkan sistem keamanan mereka secara efektif.

“Peralihan menuju pendekatan berbasis platform yang terintegrasi akan menjadi kunci untuk meningkatkan visibilitas, efisiensi, dan ketahanan organisasi dalam menghadapi ancaman siber,” ujarnya melalui siaran pers pada hari Senin (11/5).

Studi tersebut juga mencatat adanya percepatan adopsi arsitektur keamanan terpadu berbasis platform. Saat ini baru 29 persen organisasi yang telah mengoperasikan platform keamanan terintegrasi, namun angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 60 persen dalam kurun 12 hingga 24 bulan ke depan.

Dorongan utama transformasi ini berasal dari kebutuhan mengurangi keragaman alat keamanan yang digunakan, meningkatkan integrasi lintas sistem, serta mengelola kompleksitas lingkungan hybrid yang semakin berkembang.

Meski begitu, tantangan tetap ada. Sebanyak 51 persen organisasi menyebut biaya migrasi dan potensi gangguan operasional sebagai hambatan utama. Sementara 46 persen lainnya masih meragukan kemampuan platform keamanan lintas domain.

Di sisi lain, sekitar 90 persen organisasi meyakini konsolidasi sistem keamanan akan meningkatkan berbagai indikator operasional. Lebih dari 60 persen memproyeksikan peningkatan minimal 10 persen dalam waktu deteksi ancaman, kecepatan respons insiden, produktivitas analis keamanan, hingga efisiensi pusat operasi keamanan (SOC).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.