Sorgum Bisa Jadi Alternatif Meningkatkan Ketahanan Pangan RI
📅 Sabtu, 19 Okt 2024, 00:09 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: BPS
JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan Indonesia memiliki keunggulan biodiversiti terbesar kedua di dunia salah satunya sorgum yang berpotensi sebagai sumber karbohidrat yang sarat gizi.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, dalam keterangannya pada peringatan Hari Pangan Sedunia baru-baru ini, mengatakan Indonesia sebenarnya punya kesempatan untuk meningkatkan ketahanan pangan salah satunya dengan memanfaatkan sorgum untuk sumber karbohidrat selain beras.
Faktor geografis dan demografis, jelas Arief, menghasilkan kompleksitas tersendiri bagi ketahanan pangan nasional. Namun di balik tantangan tersebut, Indonesia memiliki biodiversiti terbesar kedua di dunia, sehingga potensi pangan pokok alternatif seperti sorgum, penting untuk terus didiseminasikan secara luas kepada masyarakat.
"Jumlah penduduk kita saat ini sudah 280 juta, terdiri dari 17 ribu pulau yang setiap daerah punya karakteristik climate yang berbeda-beda, sehingga kita punya kompleksitas yang luar biasa," kata Arief saat menyampaikan pidato kunci dalam diskusi bertajuk Sorgum: Sumber Pertumbuhan Baru untuk Ketahanan Pangan, yang diadakan Wanita Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).
Di Indonesia timur itu sangat memungkinkan ditanami sorgum secara luas karena sorgum tidak perlu banyak air seperti halnya padi. Jadi, sumber karbohidrat masyarakat bisa pula dari sorgum.
Sebaiknya Anda baca juga:
Terkait biodiversitas yang dimiliki Indonesia, menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Indonesia adalah negara dengan kekayaan biodiversitas tertinggi kedua di dunia dan bisa dikatakan sebagai negara megabiodiversitas.
Pada 2022, Indonesia memiliki skor 0,614, dan Brasil menempati tertinggi pertama dengan skor 0,772. Sementara dalam himpunan data Bapanas, di Indonesia total terdapat 945 biodiversitas pangan, terdiri dari 77 jenis sumber karbohidrat, 75 jenis sumber protein, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 40 jenis bahan minuman, 26 jenis kacang-kacangan, dan 110 jenis rempah dan bumbu.
"Terkait sorgum, jika menilik kandungan gizinya, bisa dikatakan sorgum memiliki kandungan energi, protein, lemak, dan serat yang lebih tinggi dibandingkan beras dan terigu," tambah Arief.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sorgum pun lebih mudah dicerna sehingga cocok bagi penyintas obesitas, diabetes melitus, dan diet karbohidrat. Dalam 100 gram sorgum mengandung energi 366 kilokalori (kkal), karbohidrat 73 gram, protein 11,0 gram, lemak 3,3 gram dan serat 1,2 gram.
"Kita ingin pangan itu bukan hanya mencakup ketercukupan, ketersediaan, dan stabilitas harga, tetapi juga harus memenuhi gizi yang diperlukan oleh kita semua," katanya.
Sorgum tidak hanya mengandung karbohidrat, tetapi juga memiliki banyak manfaat lainnya yang baik bagi kesehatan tubuh, sehingga dia mengajak untuk mengampanyekan keunggulan sorgum secara luas.
Diminta terpisah, Deputi bidang Pemantauan Indonesia Human Rights Committee and Social Justice (IHCS), Lalu Ahmad Laduni, menyatakan bahwa biodiversitas yang dimiliki Indonesia harus dioptimalkan secara maksimal, terutama melalui pendekatan yang berakar pada pola pertanian keluarga.
Laduni menekankan bahwa pertanian keluarga merupakan fondasi utama atau soko guru dari pertanian nasional, dan seharusnya menjadi fokus utama dalam setiap upaya pengembangan potensi tanaman alternatif seperti sorgum.
"Keunggulan biodiversitas Indonesia adalah anugerah yang harus kita manfaatkan dengan bijak, namun penting untuk diingat bahwa pertanian keluarga merupakan kunci keberlanjutan di sektor pertanian," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!