Simfoni Ekologi Natal
📅 Selasa, 24 Des 2019, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Koran Jakarta/ Ones
Oleh Aloys Budi Purnomo Pr
Menyambut Natal 2019, saya membayangkan bahwa Natal perdana ditandai dengan simponi ekologi. Dua alasan mengapa ini terjadi. Pertama, berdasarkan salah satu bacaan pada masa Adven, masa persiapan menyambut Natal, yang dikutip dari Kitab Nabi Yesaya 11:1-10. Kedua, berdasarkan bacaan Injil di perayaan Natal yang mengabarkan saat Yesus lahir, yakni dari Injil Lukas 2:8-15. Simponi ekologi Natal sudah dinubuatkan ratusan tahun sebelum kelahiran Yesus ketika seorang Nabi Yesaya merenungkan tentang Sang Raja Damai dari tunggul Isai.
Sang Nabi bilang, suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya berbuah. Tunas dari tunggul, suatu gambaran ekologis. Nabi Yesaya menubuatkan tentang kelahiran Yesus sebagai tunas dari tunggul Isai. Dalam perspektif ekologi lingkungan, gambaran ini indah banget.
Saat kita memperhatikan suatu tunas mulai bersemi, betapa indahnya! Pertanda kehidupan baru dimulai. Pengharapan baru mulai bersemi pula. Tunas baru itu bukan lagi suatu tanaman, melainkan kehidupan human, bahkan kemanusiaan yang ilahi, yakni Yesus. Itulah sebabnya Nabi Yesaya meneruskan nubuatnya.
Roh Tuhan Allah akan ada pada-Nya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan Allah. Ya, kesenangan-Nya ialah takut akan Tuhan Allah yang diperkenalkan-Nya di kemudian hari dan dihayati hingga hari ini sampai akhir zaman sebagai Bapa. Siapakah yang seperti itu selain Yesus Kristus, yang kelahiran-Nya sedang kita kenang dan rayakan? Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.
Itulah gaung merdu simponi pertama. Selanjutnya, dikatakan Nabi Yesaya tentang berkah yang dihadirkan Sang Raja Damai, yakni Yesus Kristus. Ia menghadirkan damai yang ditandai oleh data ekologis pula. Maka, sang nabi menggambarkan, serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing.
Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu.
Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. Betapa indahnya, buah berkah ekologis, yakni saling keterhubungan yang penuh damai sejahtera dalam semangat persaudaraan! Tidak ada yang akan berbuat jahat atau berlaku busuk di seluruh gunung-Nya yang kudus.
Sebab seluruh Bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan Allah Yang Maha Esa, seperti air laut yang menutupi dasarnya. Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa.
Dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediaman-Nya akan menjadi mulia. Itulah dua pertama simponi ekologi Natal dari Perjanjian Lama seturut nubuat Nabi Yesaya. Lalu digenapilah nubuat itu, ketika seorang Bayi lahir di Betlehem dari seorang perawan, namanya indah mempesona: Maria dari Nazareth.
Kelahiran Bayi itu diiringi simfoni surgawi dan terhubung dengan Bumi. Warta simponi ekologi Natal disampaikan kepada para gembala yang sehari-harinya hidup di tengah bentangan semesta alam, padang rumput yang hijau, namun juga dengan segala persoalan dan tantangan yang dihadapinya.
Dan kepada para gembala itulah, untuk pertama kalinya, malaikat surga, Gabriel dan rombongan surgawinya mengabarkan kelahiran Yesus Kristus di Betlehem. Santo Lukas dengan indah berkisah.
Di daerah itu ada gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi. Mereka sangat ketakutan. Simfoni ekologi Natal bergema di waktu malam yang pasti gelap gulita.
Para gembala hanya bercahayakan bintang-bintang di langit, namun di antara bintang-bintang itu hadirlah malaikat-Nya membawa kabar sukacita Natal perdana. Itu terjadi bukan di istana raja, bukan di tempat ibadah, bukan di stadion apalagi di mal-mal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!