Rupiah Terseret Gejolak Global: Bayang-Bayang The Fed Tekan Mata Uang Garuda
📅 Rabu, 03 Sep 2025, 17:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja
JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir tidak dapat dilepaskan dari sentimen eksternal, terutama terkait prospek penurunan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve. Ekspektasi bahwa The Fed akan mulai memangkas suku bunga biasanya memicu pergeseran aliran modal global. Investor cenderung menata kembali portofolio mereka, mengalihkan dana dari aset berdenominasi dolar AS ke instrumen lain yang dianggap lebih menguntungkan.
Namun, transisi ekspektasi ini kerap menimbulkan gejolak jangka pendek di pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketidakpastian mengenai timing dan besaran pemangkasan suku bunga membuat pelaku pasar mengambil posisi hati-hati, sehingga menekan permintaan rupiah. Di sisi lain, ketahanan rupiah juga bergantung pada kombinasi faktor domestik, seperti stabilitas fundamental ekonomi, daya tarik instrumen keuangan dalam negeri, dan efektivitas kebijakan moneter Bank Indonesia.
Dengan demikian, pelemahan rupiah lebih bersifat refleksi dari dinamika global ketimbang pelemahan struktural domestik. Respons kebijakan yang terukur, termasuk menjaga cadangan devisa, intervensi pasar bila diperlukan, serta koordinasi erat dengan pemerintah, menjadi kunci untuk meredam volatilitas agar tidak mengganggu aktivitas ekonomi riil.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Rabu (3/9) sore, melemah sebesar 2 poin atau 0,01 persen menjadi Rp16.416 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.414 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menganggap pelemahan nilai tukar (kurs) dipengaruhi adanya prospek penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Sebaiknya Anda baca juga:
"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah, dipengaruhi oleh faktor global kenaikan index dollar yang signifikan, sehubungan dengan prospek penurunan suku bunga The Fed," ujarnya di Jakarta, Rabu (3/9).
Prospek penurunan suku bunga pada September 2025 diperkirakan sebesar 25 basis points (bps) dengan tingkat keyakinan 92 persen berdasarkan CME FedWatch.
Potensi penurunan suku bunga acuan tersebut akan dipengaruhi rilis data Purchasing Managers' Index (PMI) PMI Jasa AS yang pada Kamis (4/9/2025), serta data Non-Farm Payrolls (NFP) AS pada Jumat (5/9/2025).
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk NFP, Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) melaporkan akan mencapai 7,51 juta pada Agustus 2025, naik dari bulan sebelumnya yang sebesar 7,44 juta.
"Sementara dari domestik, meredanya aksi demonstrasi telah meningkatkan kepercayaan pelaku pasar yang tercermin dari peningkatan pada obligasi negara dan index saham," ungkap Rully.
Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga melemah ke level Rp16.424 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.418 per dolar AS.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!