Presiden: Konten Recehan Sensasional Korbankan Kualitas Jurnalisme Autentik
📅 Jumat, 10 Feb 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ANTARA/YUDI
» Presiden meminta media mainstream menjadi rumah penjernih informasi atau clearing house of information.
» Survei menunjukan 74,4 persen masyarakat percaya pada media formal, sedangkan hanya 12,7 persen yang percaya media sosial.
DELI SERDANG - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sambutannya saat menghadiri Hari Pers Nasional 2023, di Sumatera Utara, Kamis (9/2), mengatakan kondisi dunia pers saat ini sedang tidak baik-baik saja karena semakin banyaknya media informasi digital yang mengorbankan kualitas isi dan jurnalisme autentik.
Isu utama yang selalu digaungkan insan pers soal kebebasan pers, menurut Presiden, sudah bergeser. "Dulu isu utama dunia pers adalah kebebasan pers. Sekarang apakah isu utamanya tetap sama? Menurut saya sudah bergeser. Karena kurang bebas apalagi kita sekarang ini," jelas Presiden.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pers sekarang ini, kata Jokowi, mencakup seluruh media informasi yang bisa tampil dalam bentuk digital, sehingga semua orang bebas membuat berita. Sebab itu, permasalahan utama dunia pers saat ini adalah membuat pemberitaan yang bertanggung jawab.
Masyarakat, kata Presiden, kini kebanjiran berita dari media sosial dan media digital lainnya, termasuk platform-platform asing yang umumnya tidak memiliki redaksi atau dikendalikan artificial intelligence (AI), di mana algoritma raksasa digital cenderung mementingkan kepentingan sisi komersial saja.
"Algoritma raksasa digital yang mementingkan kepentingan sisi komersial itu hanya akan mendorong konten-konten recehan yang sensasional. Sekarang ini banyak sekali, dan mengorbankan kualitas isi dan jurnalisme autentik. Ini yang kita akan semakin kehilangan," papar Presiden.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kondisi semacam itu, jelas Kepala Negara, tidak boleh mendominasi kehidupan masyarakat. Apalagi karena media konvensional yang beredar saat ini semakin terdesak dalam peta pemberitaan.
Oleh karena itu, Presiden menyampaikan Rancangan Peraturan Presiden yang mengatur tentang platform digital dan perusahaan pers harus segera diselesaikan.
Pada puncak HPN yang pada tahun ini mengangkat tema "Pers Bebas, Demokrasi Bermartabat", Presiden meminta pada media arus utama (mainstream) dapat menjadi rumah penjernih informasi atau clearing house of information.
"Insan media arus utama, media mainstream justru sangat dibutuhkan untuk menjadi 'rumah penjernih informasi'. Penting sekali menjadi clearing house of information," kata Jokowi.
Dengan tetap menyajikan informasi yang terverifikasi maka pers tetap menjalankan peran sebagai communication of hope yang memberi harapan bagi semua.
Selain menyampaikan Selamat Hari Pers Nasional 2023 kepada seluruh insan pers di Tanah Air, Presiden juga berterima kasih kepada insan pers nasional atas kontribusi kepada bangsa dan negara sejak zaman perjuangan kemerdekaan hingga saat ini.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!