Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pengetatan Pasar Global Momentum Pacu Produksi

📅 Senin, 02 Okt 2023, 11:30 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pengetatan Pasar Global Momentum Pacu Produksi Doc: ISTIMEWA

JAKARTA - Langkah 22 negara yang menghentikan ekspor pangan menjadi momentum bagi Indonesia meningkatkan produksi pangan. Hal itu demi tercapainya kemandirian dan kedaulatan pangan.

Pengamat Ekonomi Indef, Nailul Huda, mengatakan pangan merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Jika pangan berdaulat, negara bisa memenuhi kebutuhan masyarakat yang paling mendasar dan urgent. Negara hadir dalam pemenuhan kebutuhan tersebut. Berdaulat juga berarti tidak ketergantungan dengan impor negara lain.

"Dalam beberapa komoditas, kita memang masih membutuhkan peran negara lain. Tetapi pangan dasar seperti beras, pemerintah harus berupaya untuk berdaulat," paparnya kepada Koran Jakarta, Minggu (1/10).

Menurut Huda, siapa pun presidennya, persoalan pangan akan tetap ada dan mungkin eskalasinya semakin besar.

"Stop ekspor pangan hingga ketersediaan input bisa menjadi tantangan ke depannya. Maka kedaulatan pangan harus dijalankan terutama yang menjadi kebutuhan masyarakat luas. Kedaulatan dari hulu hingga hilir," ujarnya.

Kepala Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI), Muhammad Qomarunnajmi, mengatakan kemudahan impor ini juga memanjakan pemerintah.

"Semoga pengetatan pasar ini menjadi momentum untuk mewujudkan kedaulatan pangan," tegas Qomar.

Dia menjelaskan sistem pangan global, dibuat oleh rezim pangan global untuk kepentingan perusahaan global. Mengembangkan sistem pangan lokal oleh masyarakat sendiri, menjadi satu satunya pilihan untuk mewujudkan sistem pangan yang berpihak pada rakyat.

"Dengan memasifkan teknologi teknologi sederhana, memanfaatkan sumber daya lokal, untuk peningkatan produksi," ucapnya.

Presiden Joko Widodo mengkhawatirkan bertambahnya negara yang menghentikan ekspor komoditas pangan dari 19 negara menjadi 22 negara.

Presiden mengakui situasi tersebut membuatnya ngeri karena terhentinya pasokan pangan dari negara tersebut akan berdampak pada kenaikan harga di dalam negeri.

"Ngeri sekali kalau melihat cerita semua negara sekarang mengerem semuanya, tidak ekspor pangannya. Gandum sudah, beras sudah, gula sudah, semuanya ngerem semuanya," kata Presiden Jokowi pada Pembukaan Rakernas IV PDIP di Jakarta, Jumat, pekan lalu.

Jokowi menjelaskan sejumlah negara, seperti Uganda, Russia, Bangladesh, Pakistan, hingga Myanmar memutuskan untuk menghentikan ekspor bahan pangan mereka, termasuk gandum dan beras.

Kepala Negara mengingatkan akibat Ukraina dan Russia menghentikan ekspor gandum mereka, salah satu negara maju di Eropa bahkan kekurangan bahan pangan karena mahalnya harga.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

33 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Megapolitan
Pemkot Jakut Vaksinasi Ribu...
Ekonomi
Industri sepatu rumahan kua...

Pelaksanaan program penghapusan bentor

38 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
Megapolitan
Pemprov DKI gelar program o...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.