Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Penanganan 17 Kejadian Konflik Antara Satwa dengan Manusia

📅 Senin, 21 Jul 2025, 21:35 WIB | Oleh:
Penanganan 17 Kejadian Konflik Antara Satwa dengan Manusia Doc: Antara
Ket. Seekor harimau sumatra terkena bius petugas medis untuk dipindahkan ke tempat rehabilitasi setelah sebelumnya berkonflik dengan masyarakat setempat di Sumatera Barat.

Padang - Balai Konservasi Sumber Daya Manusia (BKSDA) Sumatera Barat (Sumbar) menangani 17 kejadian konflik atau interaksi negatif satwa dengan manusia di sejumlah daerah.

"Selama kurun waktu Januari hingga 18 Juli 2025 kami menangani 17 interaksi negatif antara satwa dengan manusia," kata Kepala BKSDA Sumbar Hartono di Kota Padang, Senin.

Hartono mengatakan setiap satwa yang berkonflik dengan masyarakat tersebut langsung diatasi oleh petugas yang kemudian dilepasliarkan ke habitat aslinya. Namun, sebelum itu diperiksa tim medis BKSDA terlebih dahulu untuk memastikan kondisi kesehatan satwa.

Apabila satwa yang berkonflik tidak layak untuk dilepasliarkan misalnya karena sudah terlalu lama dipelihara oleh masyarakat, maka BKSDA melakukan tahapan rehabilitasi hingga sifat liar hewan itu kembali seperti semula. Hal ini penting dilakukan guna memastikan satwa bisa bertahan di habitat asli setelah menjalani masa rehabilitasi.

"Jadi, tim medis akan memeriksa kesehatan satwa dulu untuk memastikan apakah bisa dilepasliarkan atau tidak," kata Hartono.

Ia menyebutkan dari 17 kejadian konflik tersebut 10 di antaranya melibatkan harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae). Sisanya merupakan kucing mas (Caracal aurata), beruang madu (Helarctos malayanus), tapir (Tapirus), dan macan dahan (Neofelis nebulosa).

Menurut dia, ada banyak faktor bisa menyebabkan seekor satwa keluar dari habitat alaminya ke permukiman warga, di antaranya menipisnya ketersediaan bahan makanan, perburuan liar, perusakan atau pembukaan kawasan hutan secara ilegal.

"Munculnya satwa ke permukiman warga juga bisa disebabkan oleh adanya semacam pancingan tidak langsung oleh masyarakat. Sebagai contoh, sisa-sisa makanan berupa daging yang dibuang ke aliran sungai sehingga tercium dan merangsang satwa tertentu untuk mencarinya," kata dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

18 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Megapolitan
Pemkot Jakut Vaksinasi Ribu...
Ekonomi
Industri sepatu rumahan kua...

Pelaksanaan program penghapusan bentor

23 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
Megapolitan
Pemprov DKI gelar program o...
Megapolitan
Jelang Pertunjukkan Teater ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.