Pemerintah Ingin Tingkatkan Kembali Stabilitas Politik
📅 Selasa, 09 Sep 2025, 01:45 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA - Selang beberapa hari setelah DPR menjawab tuntutan masyarakat sipil 17+8 dengan enam komitmen, Presiden Prabowo Subianto pun melakukan reshuffle atau perombakan terbatas Kabinet Merah Putih pada Senin (8/9).
Sejumlah menteri diganti yakni diantaranya Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Polkam), Menteri Keuangan (Menkeu), Menteri Perlindungan Pekerja Migran, Menteri Koperasi dan Menteri Pemuda dan Olahraga. Selain itu, Presiden juga melantik Menteri dan Wakil Menteri Urusan Haji dan Umrah.
Presiden dalam kesempatan itu melantik Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan yang baru, lalau Politisi Partai Golkar, Mukhtarudin sebagai Menteri Perlindungan Pekerjaan Migran Indonesia (P2MI), Menteri Koperasi Ferry Joko Julianto. Sedangkan, Kepala BP Haji Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan) menjadi Menteri Haji dan Umrah didampingi Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai wakilnya. Sedangkan, pejabat Menko Polkam dan Menpora akan disusul pelantikannya.
Menanggapi reshuffle kabinet itu, Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti mengatakan, reshuffle sudah bisa diprediksi terutama karena Menteri Keuangan sebelumnya dianggap tidak ada terobosan kebijakan fiskal, hanya menjadikan pajak dan utang sebagai backbound penerimaan negara di APBN.
“Kalau melihat sosok Purbaya Yudi Sadewa, beliau pintar, kita tunggu gebrakan kebijakan yang benar-benar bisa menyelesaikan masalah, bukan sekadar menutup utang dengan utang dan kenaikan pajak dan cukai,” kata Esther.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Dosen Magister Ekonomi Terapak Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan, penggantian atau reshuflle kabinet dapat berdampak positif dan negatif terhadap perekonomian terutama untuk kementerian penting, seperti Kemenkopolkam dan Kemenkeu.
Penggantian Menko Polkam jika diambil sisi positifnya, maka Pemerintah mau menunjukkan betapa seriusnya menurunkan risiko politik dan meningkatkan stabilitas politik.
“Ini menjadi penting bagi dunia bisnis atas jaminan berusaha tanpa diganggu oleh ketidakstabilan politik. Dengan adanya kestabilan politik menciptakan kepastian dan menurunkan risiko usaha,” kata Suhartoko.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari perspektif negatifnya muncul pertanyaan mengapa penggantinya belum diumumkan? Kondisi ini akan mendorong mencuatnya analisis spekulatif yang dapat meningkatkan ketidakpastian. Komunikasi kepada masyarakat secara cepat dan transparan paling tidak akan menurunkan naiknya risiko politik.
Untuk Menteri Keuangan, dia mengatakan pekerjaan rumahnya sangat berat di dalam fiskal, baik dari sisi penerimaan maupuan pengeluaran anggaran. “Di tengah situasi menurunnya daya beli masyarakat, meningkatkan penerimaan pajak dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) secara signifikan menjadi tugas yang sangat berat,” kata Suhartoko.
Untuk menjual surat utangpun juga cukup berat, karena terjadinya peningkatan surat utang pada masa Presiden Jokowi. Selain itu peringkat utang tidak superior, inflasi relatif lebih tinggi dari negara lain dan tidak kalah pentingnya adalah adanya trend jangka panjang melemahnya rupiah. Inilah yg mendorong surat utang Indonesia cukup tinggi bunga nominalnya.
“Menteri keuangan yang baru punya latar belakang yang kuat dalam pasar keuangan. Ini yang sebenarnya diinginkan Presiden Prabowo untuk menyelesaikan persoalan fiskal yang berat. Pergantian Menkeu akan disambut positif oleh dunia bisnis, jika menteri baru dalam jangka pendek secara cepat menghasilkan kinerja yang baik dan terkomunikasikan dengan baik juga,”pungkasnya.
Keluar dari Pelambatan
Pada kesempatan lain, Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng, menilai pergantian itu merupakan jawaban atas gelombang aksi massa belakangan ini.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!