Gempa yang Memicu Kebangkitan Keterampilan Kerajinan Arsitektur Tradisional Nepal
📅 Sabtu, 14 Okt 2023, 02:25 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Prakash MATHEMA
Gempa bumi mematikan yang terjadi di Nepal delapan tahun lalu telah membuat monumen berusia berabad-abad menjadi puing-puing. Namun tugas restorasi yang besar-besaran telah memicu kebangkitan kembali keterampilan kerajinan arsitektur yang sempat memudar.
Tukang kayu bernama Dinesh Tamang misalnya, ia adalah satu dari ratusan pengrajin yang mempelajari keterampilan baru setelah gempa.
"Saya mendapat kesempatan bekerja di proyek rekonstruksi, membangun kembali kuil dan rumah yang rusak," kata Tamang, yang merupakan seorang pengangguran sebelum gempa berkekuatan 7,8 skala Richter yang menewaskan hampir 9.000 orang.
"Pekerjaan ini sangat bermanfaat," kata dia sambil dengan hati-hati mengukir pola rumit pada panel kayu dengan pahat dan palu.
Bencana gempa bumi tahun 2015 juga menghancurkan ratusan monumen dan istana kerajaan, termasuk situs Warisan Dunia UNESCO di Lembah Kathmandu yang menarik pengunjung dari seluruh dunia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di Nepal yang sangat religius, kuil dan situs warisan bukan sekadar tempat wisata, namun merupakan bagian integral dari kehidupan budaya dan spiritual. Permintaan masyarakat untuk pembangunan kembali kuil dan situs itu memicu kebutuhan akan pekerja yang mahir dalam teknik arsitektur tradisional termasuk pasangan bata dan pengerjaan kayu dan logam yang rumit.
"Nepal kaya akan warisan budaya," kata Tamang. "Anda melihat kuil di mana-mana dan saya selalu terpesona dengan desain kayunya," tutur dia.
Akademi Vokasi Nepal, tempat Tamang bersekolah, mengatakan pihaknya telah melatih ratusan keterampilan tradisional sejak gempa terjadi.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Meskipun gempa tersebut merupakan peristiwa yang tragis, gempa tersebut telah menciptakan peluang di berbagai sektor," kata Rabindra Puri, seorang pelestari warisan budaya dan pendiri akademi tersebut. "Permintaan tenaga kerja terampil kini meningkat amat drastis," imbuh dia.
Puri mengatakan bahwa akademi tersebut memperluas fasilitasnya setelah gempa untuk memenuhi lonjakan permintaan pelatihan. "Setahu saya, lulusan kita tidak ada yang menganggur," ungkap dia.
Awalnya, banyak yang khawatir Nepal tidak memiliki keterampilan yang diperlukan untuk melakukan tugas besar pembangunan kembali. Kerusakan istana dan kuil terjadi pada periode antara abad ke-12 dan ke-18 ketika Lembah Kathmandu dibagi menjadi tiga kerajaan yaitu Kathmandu, Patan, dan Bhaktapur.
Para pemahat kayu, pematung batu, dan pekerja logam yang menciptakan kuil dan istana spektakuler datang dari lokasi yang amat jauh dan dibayar alakadarnya dari anggaran kerajaan.
Keterampilan ini secara historis dilakukan secara eksklusif oleh keluarga-keluarga yang tergabung dalam kelompok etnis Newa dan diwariskan dari generasi ke generasi. Namun seiring berjalannya waktu banyak yang memilih profesi lain.
"Ayah mereka tidak mau mengajari anak laki-lakinya, dan anak laki-lakinya tidak mau belajar, sehingga hampir punah," kata Puri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!