Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Filolog Sebut Cerita Panji Masih Relevan karena Banyak Kisahkan Perbedaan Kelas

📅 Rabu, 23 Okt 2024, 00:54 WIB | Oleh: Tim Penulis
Filolog Sebut Cerita Panji Masih Relevan karena Banyak Kisahkan Perbedaan Kelas Doc: ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari
Ket. Penampilan tari topeng yang mengisahkan salah satu karakter Panji di Gedung Perpusnas, Jakarta, Selasa (22/10/2024) pada pembukaan Pameran Cerita Panji: Prahara, Kembara, Asmara.

Jakarta - Filolog Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Adi Wisnurutomo menyatakan bahwa cerita Panji masih relevan hingga kini karena banyak mengisahkan tentang perbedaan kelas sosial.

"Cerita Panji sering menggunakan konflik perbedaan kelas sosial. Kisah di dalamnya disajikan dengan adanya karakter dengan perbedaan kelas sosial dalam masyarakat yang diawali dengan konflik dan berakhir dengan cerita cinta bahagia," katanya di Perpusnas, Jakarta, Selasa.

Ia menyebutkan beberapa dongeng tentang perbedaan kelas, misalnya Ande-Ande Lumut dari Jawa, di mana salah satu tokohnya, Klenting Kuning yang diperlakukan tidak adil oleh ketiga saudaranya (Klenting Merah, Klenting Hijau, dan Klenting Biru).

Selain itu, cerita tentang Bawang Merah dan Bawang Putih yang sudah sering dikisahkan dari mulut ke mulut juga mengangkat perbedaan kelas sosial, dan terinspirasi dari cerita Panji.

"Bahkan tidak hanya kelas sosial, tetapi juga perbedaan wujud seperti cerita Kethek Ogleng (pertunjukan tari dari Ponorogo dengan kera sebagai tokoh utama). Penggunaan pola yang sama ini menunjukkan bahwa pembahasan dan konflik terkait kesenjangan masih dianggap relevan dari masa ke masa," ucap Adi.

Ia juga mengemukakan dalam ranah politik, cerita Panji tidak hanya melibatkan tokoh-tokoh yang berasal dari Jawa saja, meskipun latar utamanya adalah kerajaan dan daerah-daerah yang berada di Jawa bagian Timur.

"Cerita Panji tidak jarang berinteraksi dengan tokoh-tokoh dari luar Jawa, bahkan, pada beberapa kisah, Panji akan menjadi tokoh yang tidak berasal dari Jawa," ujar dia.

Ia menyebutkan dua tokoh dari kisah Panji yakni Sabrang (yang kemudian diartikan sebagai menyeberang), dan Klana (diartikan sebagai berkelana), di mana sebutan tersebut merujuk pada tokoh-tokoh dari kerajaan lain seperti Makassar, Bengkulu, hingga Banda.

"Banyak spekulasi yang muncul tentang siapa Klana sebenarnya, mulai dari sindiran terhadap musuh-musuh Majapahit, Raden Patah (raja Muslim pertama di Jawa), hingga pemberontak Trunajaya, Pangeran Adipati Anom, atau beberapa tokoh sejarah lainnya," tuturnya.

Kisah Panji menjelma dalam berbagai rupa kesenian, seperti dalam relief, pertunjukan tari, wayang, dongeng, hingga karya sastra.

Pameran Cerita Panji: Prahara, Kembara, Asmara berlangsung selama 22-24 Oktober di Perpusnas, selain itu, Perpusnas juga berkolaborasi bersama Kementerian Kebudayaan menyelenggarakan Pameran Panji pada tanggal yang sama di Gedung Kesenian Jakarta.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
PT KAI Tutup 116 Perlintasa...
Ekonomi
Menkeu Ungkap Banyak Rumor ...

Wali Kota Bogor Aktivasi Museum Pajajaran

39 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
Wali Kota Bogor Aktivasi Mu...
Nasional
Mantan Wamenaker Noel Divon...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.