Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dinkes DIY Tangani Kasus 'Stunting' dengan Pendekatan Siklus Kehidupan

📅 Senin, 15 Mei 2023, 23:54 WIB | Oleh:
Dinkes DIY Tangani Kasus 'Stunting' dengan Pendekatan Siklus Kehidupan Doc: antaranews
Ket. Ilustrasi- Dinkes DIY tangani kasus stunting dengan pendekatan siklus kehidupan.

YOGYAKARTA -- Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta menyebutkan penanganan kasus stunting di lima kabupaten/kota di provinsi ini dilakukan dengan pendekatan siklus kehidupan.

"Intervensi yang kami lakukan dengan pendekatan siklus kehidupan karena stunting ini kejadiannya membutuhkan proses dalam waktu yang lama," kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Endang Pamungkasiwi di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, pendekatan siklus kehidupan diperlukan karena berdasarkan penelitian Dinkes DIY kasus stunting antara lain dipicu kurangnya nutrisi saat calon ibu masih remaja atau pada usia produktif.

"Oleh karena itu, intervensi kami mulai sejak calon ibu masih usia remaja," ujar Endang.

Ia mengatakan Dinkes kabupaten/kota di DIY secara rutin melakukan program perbaikan gizi hingga memeriksa kadar hemoglobin (Hb) pada remaja putri sebagai calon ibu.

Pasalnya, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 tidak sedikit remaja Indonesia yang mengalami kekurangan gizi dan anemia.

Mengacu data riset itu, sebesar 23,8 persen remaja putri mengalami anemia dan 8,7 persen remaja berusia 13-15 tahun termasuk dalam kategori kurus dan sangat kurus.

"Hal itu kalau tidak dikelola dengan baik akan memiliki tingkat risiko melahirkan anak-anak stunting sehingga pemeriksaan Hb, pemberian tablet tambah darah, serta peningkatan pemeriksaan kesehatan ibu hamil harus dilakukan," kata dia.

Endang yakin dengan berbagai upaya pendekatan bidang kesehatan maupun edukasi akan mampu menekan angka stunting di DIY hingga mencapai 14 persen pada 2024 sesuai target dalam Perpres Nomor 72 Tahun 2021.

Ia menyebutkan prevalensi kasus stunting di DIY pada 2019 mencapai 21,04 persen, kemudian turun menjadi 17,3 persen pada 2021, dan kembali turun menjadi 16,4 persen pada 2022.

Berdasarkan pemantauan Dinkes DIY, sebaran kasus stunting di provinsi ini bukan hanya terjadi di pelosok desa, tetapi merata hingga wilayah perkotaan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

18 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Megapolitan
Pemkot Jakut Vaksinasi Ribu...
Ekonomi
Industri sepatu rumahan kua...

Pelaksanaan program penghapusan bentor

23 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
Megapolitan
Pemprov DKI gelar program o...
Megapolitan
Jelang Pertunjukkan Teater ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.