Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Cegah Kebutaan Permanen Akibat Glaukoma: Kenali Jenis, Gejala, dan Teknologi Terapi Modern di JEC

📅 Selasa, 10 Mar 2026, 23:05 WIB | Oleh:
Cegah Kebutaan Permanen Akibat Glaukoma: Kenali Jenis, Gejala, dan Teknologi Terapi Modern di JEC Doc: Koran Jakarta - Haryo Brono
Ket. Dr. Zeiras Eka Djamal, SpM(K), Dokter Mata Subspesialis Glaukoma di JEC Group dalam Media Gathering 7 Iftar JEC di Jakarta pada Selasa (10/3). Deteksi dan skrining rutin sangat krusial, karena kerusakan saraf mata pada Glaukoma tidak bisa diperbaiki sehingga terlambatnya penanganan bisa menyebabkan gangguan penglihatan yang permanen.

JAKARTA - Glaukoma merupakan penyakit saraf mata progresif yang merusak saraf optik secara perlahan yang salah satunya dapat diakibatkan oleh peningkatan tekanan di dalam bola mata. Dalam kondisi normal, tekanan bola mata berada pada kisaran 10–21 mmHg.

Ketika tekanan meningkat atau saraf optik menjadi lebih rentan, kerusakan dapat terjadi secara bertahap hingga menyebabkan penyempitan lapang pandang dan berujung pada kebutaan permanen. Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja, tetapi lebih sering terjadi pada individu berusia di atas 40 tahun dan menjadi penyebab kebutaan tertinggi kedua setelah katarak.

Glaukoma sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal sehingga kerap baru terdeteksi ketika kerusakan penglihatan sudah berat. Berbeda dengan katarak, kerusakan akibat glaukoma tidak dapat dipulihkan, meskipun sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini.

Di negara berkembang, sekitar 80-90% kasus glaukoma tidak terdiagnosis, sementara menurut jurnal yang dipublikasikan di PubMed oleh Tham et al., jumlah penderita glaukoma di dunia diperkirakan mencapai sekitar 76 juta orang pada tahun 2020.

Angka tersebut diperkirakan aan terus meningkat menjadi sekitar 111,8 juta orang pada tahun 2040 seiring dengan pertumbuhan populasi dan meningkatnya angka harapan hidup. Di Indonesia, prevalensi glaukoma mencapai sekitar 0,46% atau 4–5 orang per 1.000 penduduk (Kementerian Kesehatan RI tahun 2023).

Dalam rangka memperingati Pekan Glaukoma Sedunia (World Glaucoma Week) 2026 yang berlangsung pada 8–14 Maret 2026, JEC Group mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap glaukoma.

Pekan Glaukoma Sedunia merupakan inisiatif global dari World Glaucoma Association yang diperingati setiap minggu kedua bulan Maret untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya deteksi dini dan pencegahan kebutaan akibat glaukoma, dengan tema tahun ini “Uniting for a Glaucoma-Free World.”

Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K), Ketua Glaukoma Service, JEC Group mengatakan, Mayoritas kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala sehingga sering baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan. Namun jika muncul keluhan seperti sakit kepala hebat, penglihatan mendadak kabur, mual, muntah, atau nyeri mata, masyarakat perlu segera memeriksakan diri. Karena itu, skrining mata secara berkala sangat penting untuk mendeteksi glaukoma lebih dini.

“Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko glaukoma, seperti riwayat keluarga, diabetes melitus, penggunaan steroid jangka panjang, kelainan refraksi tinggi (miopia/hipermetropia), katarak, atau riwayat trauma mata. Namun, glaukoma tidak hanya menyerang usia lanjut. Pada bayi juga dapat terjadi glaukoma bawaan dengan angka sekitar 1 dari 10.000–20.000 kelahiran menurut American Academy of Ophthalmology (2025), sementara pada orang dewasa penyakit ini sering berkembang tanpa gejala hingga tahap lanjut,” imbuh Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K), dalam keteranganya.

Jenis-Jenis Glaukoma yang Perlu Diketahui

Glaukoma bukan satu jenis penyakit tunggal. Terdapat beberapa tipe yang memiliki karakteristik berbeda:

Glaukoma Primer Sudut Terbuka (Primary Open-Angle Glaucoma)
Ini adalah jenis yang paling umum. Penyakit berkembang perlahan dan sering tanpa gejala. Penglihatan biasanya menyempit dari sisi samping secara bertahap sehingga sering tidak disadari hingga stadium lanjut.

Glaukoma Primer Sudut Tertutup (Angle-Closure Glaucoma)
Jenis ini dapat terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala seperti nyeri mata hebat, mata merah, sakit kepala, mual, serta penglihatan kabur. Kondisi ini termasuk kegawatdaruratan medis yang memerlukan penanganan segera.

Glaukoma Kongenital
Terjadi pada bayi atau anak-anak akibat kelainan bawaan pada sistem aliran cairan mata.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...
Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Nasional
Pelaksanaan program penghap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.