Survei Deloitte: Infrastruktur Global Beralih ke Sistem Terintegrasi, AI Kian Berperan
Sabtu, 31 Okt 2026, 20:10 WIB | Oleh: Haryo BronoDalam survei tersebut, 61 persen responden menyebut pemeliharaan prediktif atau predictive maintenance sebagai penerapan AI yang paling banyak digunakan saat ini. Teknologi ini memungkinkan organisasi menganalisis data operasional untuk memperkirakan potensi kerusakan peralatan sebelum gangguan terjadi.
Dengan pendekatan tersebut, pemeliharaan dapat dilakukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan aset, bukan semata-mata mengikuti jadwal rutin. Hal ini berpotensi membantu mengurangi waktu henti operasional dan meningkatkan efisiensi pengelolaan infrastruktur.
Pemanfaatan AI diperkirakan meluas dalam beberapa tahun mendatang. Sebanyak 44 persen pemimpin berencana menggunakan teknologi tersebut untuk memprediksi kebutuhan energi, sedangkan 40 persen berencana menerapkannya dalam pengelolaan logistik rantai pasok.
Meski demikian, penerapan teknologi tersebut masih menghadapi kendala sumber daya manusia. Sebanyak 34 persen responden mengidentifikasi keterbatasan tenaga kerja dengan keterampilan teknologi, khususnya AI dan keamanan siber, sebagai salah satu hambatan utama.
Deloitte menilai pemanfaatan AI membutuhkan fondasi yang memadai, mulai dari kualitas dan tata kelola data hingga pengembangan kompetensi tenaga kerja. Tanpa dukungan tersebut, organisasi berisiko tidak dapat mengoptimalkan teknologi dalam seluruh siklus pengelolaan infrastruktur.
Perubahan Model Pengelolaan Menjadi Kebutuhan
Temuan survei Deloitte memperlihatkan bahwa tantangan infrastruktur global tidak lagi terbatas pada kebutuhan membangun lebih banyak jalan, jaringan energi, fasilitas publik, atau pusat data. Keterhubungan antaraset membuat koordinasi, pengelolaan risiko, dan kesiapan teknologi menjadi bagian penting dari keberhasilan pembangunan.
Pemerintah dan pelaku industri perlu menyesuaikan model operasional agar mampu mengelola infrastruktur lintas sektor dan wilayah. Pendanaan yang sesuai dengan karakter proyek, penyederhanaan regulasi, penguatan ketahanan, serta pengembangan keterampilan digital menjadi sejumlah aspek yang perlu berjalan beriringan.
Survei ini dilakukan terhadap 985 pemimpin infrastruktur dari organisasi pemerintah, swasta, dan nirlaba di 21 negara. Responden berasal dari empat kategori utama aset infrastruktur dan diminta memberikan pandangan mengenai prioritas saat ini, perubahan yang diperkirakan terjadi dalam tiga tahun ke depan, tantangan implementasi, pendanaan, ketahanan, serta pemanfaatan AI dan teknologi baru.
Hasilnya dianalisis berdasarkan cakupan global, kawasan, jenis organisasi, dan kategori aset infrastruktur. Deloitte menggunakan temuan tersebut untuk menggambarkan perubahan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi para pemimpin dalam mengelola infrastruktur di tengah meningkatnya ketergantungan antara sistem fisik dan digital.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!