Survei Deloitte: Infrastruktur Global Beralih ke Sistem Terintegrasi, AI Kian Berperan
Sabtu, 31 Okt 2026, 20:10 WIB | Oleh: Haryo BronoSelain itu, 22 persen responden menyoroti ketidakjelasan rencana implementasi dan imbal hasil investasi atau return on investment (ROI). Persoalan tersebut membuat sejumlah proyek sulit memperoleh kepastian pendanaan, terutama ketika kebutuhan modal besar harus diimbangi dengan risiko dan manfaat jangka panjang.
Deloitte melihat bahwa pendekatan pembiayaan yang seragam tidak selalu sesuai dengan karakter setiap proyek. Infrastruktur digital, energi, transportasi, dan sosial memiliki kebutuhan investasi serta profil risiko yang berbeda.
Karena itu, pendanaan proyek perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing aset. Kombinasi pembiayaan pemerintah dan swasta, penyusunan portofolio proyek yang layak investasi, serta pembagian risiko yang lebih seimbang dapat menjadi bagian dari strategi untuk memperluas realisasi pembangunan.
Selain pendanaan, hambatan kelembagaan juga memperlambat pelaksanaan proyek. Sebanyak 39 persen responden menyebut kompleksitas kebijakan, regulasi, dan perizinan sebagai kendala utama. Sementara itu, 29 persen menilai proses pengadaan yang rumit menjadi hambatan dalam merealisasikan proyek.
Deloitte juga menyoroti bahwa lebih dari satu dari sepuluh megaproyek di dunia menghadapi penundaan signifikan atau pembatalan. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan modal saja tidak menjamin proyek dapat berjalan sesuai rencana apabila proses persetujuan, pengadaan, dan koordinasi antarlembaga masih terkendala.
Penyederhanaan proses perizinan dan pengadaan menjadi salah satu langkah yang dinilai dapat mempercepat pelaksanaan proyek. Dalam konteks tersebut, pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai dilihat sebagai salah satu instrumen untuk meningkatkan efisiensi proses kerja.
Survei menunjukkan 36 persen organisasi saat ini memprioritaskan penggunaan AI untuk mengotomatisasi berbagai tugas. Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi 42 persen dalam tiga tahun mendatang.
Ketahanan Infrastruktur Menghadapi Ancaman Fisik dan Digital
Keterhubungan infrastruktur juga mengubah cara organisasi memandang risiko. Perlindungan tidak lagi cukup dilakukan terhadap masing-masing aset, tetapi perlu mencakup keseluruhan sistem yang saling bergantung.
Survei Deloitte memperlihatkan adanya perbedaan perhatian antara ancaman siber dan risiko bencana alam. Sebanyak 60 persen responden dari kalangan pemerintah menyebut keamanan siber sebagai prioritas investasi utama. Namun, hanya 33 persen yang memprioritaskan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam dan perubahan iklim.
Kesenjangan tersebut menjadi perhatian karena 56 persen responden mengidentifikasi cuaca ekstrem sebagai salah satu risiko utama bagi infrastruktur. Banjir, badai, gelombang panas, dan kejadian cuaca ekstrem lainnya dapat mengganggu operasional jaringan energi, transportasi, komunikasi, maupun fasilitas publik.
Dalam sistem yang saling terhubung, dampak gangguan fisik dapat meluas ke layanan digital dan sebaliknya. Oleh sebab itu, strategi ketahanan perlu mempertimbangkan hubungan antara risiko fisik dan digital, termasuk kemungkinan terjadinya gangguan berantai.
Deloitte menilai organisasi perlu mengembangkan pendekatan yang lebih menyeluruh dalam mengidentifikasi ancaman, menyiapkan respons, dan menjaga keberlangsungan layanan infrastruktur.
AI Semakin Masuk ke Operasional Infrastruktur
Kecerdasan buatan juga menjadi salah satu teknologi yang diperkirakan semakin berpengaruh terhadap pengelolaan infrastruktur. Penggunaannya mulai berkembang dari aplikasi yang berdiri sendiri menjadi bagian dari proses operasional, pemeliharaan, dan pengambilan keputusan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!