Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Survei Deloitte: Infrastruktur Global Beralih ke Sistem Terintegrasi, AI Kian Berperan

31 Sabtu, 31 Okt 2026, 20:10 WIB | Oleh:
Survei Deloitte: Infrastruktur Global Beralih ke Sistem Terintegrasi, AI Kian Berperan Survei Deloitte: Infrastruktur Global Beralih ke Sistem Terintegrasi, AI Kian Berperan Doc: Istimewa
Ket. Ilustrasi infrastruktur digital. Survei Deloitte terhadap 985 pemimpin di 21 negara mengungkap peralihan infrastruktur global menuju sistem terintegrasi, dengan AI, pendanaan, regulasi, dan ketahanan sistem sebagai tantangan utama.

JAKARTA — Infrastruktur global tengah memasuki fase perubahan seiring semakin eratnya hubungan antara sistem fisik dan digital. Jaringan energi, transportasi, air, komunikasi, hingga layanan publik tidak lagi dapat dikelola sebagai aset yang berdiri sendiri. Keterhubungan tersebut menuntut pemerintah dan pelaku industri mengubah cara merencanakan, membiayai, membangun, serta menjaga keberlanjutan infrastruktur.

Temuan itu terungkap dalam laporan 2026 Future of Infrastructure Survey yang dirilis Deloitte pada 30 Oktober 2026. Survei terhadap 985 pemimpin infrastruktur dari organisasi pemerintah, swasta, dan nirlaba di 21 negara tersebut menunjukkan meningkatnya kebutuhan terhadap infrastruktur pintar dan saling terhubung.

Sebanyak 69 persen responden memperkirakan permintaan terhadap infrastruktur pintar dan terintegrasi akan meningkat. Namun, perubahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, terutama dalam koordinasi lintas sektor, pendanaan, regulasi, ketahanan sistem, dan ketersediaan tenaga kerja dengan keterampilan teknologi.

Laporan tersebut mencakup empat kategori aset infrastruktur, yakni infrastruktur dan jaringan digital; energi, air, dan utilitas lainnya; mobilitas dan transportasi; serta infrastruktur sosial dan hiburan. Investasi diperkirakan terus berkembang pada berbagai kategori tersebut. Meski demikian, Deloitte menilai tantangan utama bukan hanya menyediakan modal, melainkan memastikan berbagai aset dapat dibangun dan dioperasikan sebagai satu ekosistem.

Infrastruktur yang semakin terhubung juga membuat gangguan pada satu bagian berpotensi memengaruhi sistem lainnya. Karena itu, model pengelolaan yang terfragmentasi dinilai semakin sulit menjawab kebutuhan infrastruktur modern.

Kelly Marchese, Infrastructure Practice Leader Deloitte Consulting LLP, mengatakan perubahan tersebut mengharuskan para pemimpin melihat infrastruktur sebagai satu kesatuan yang saling bergantung, bukan sekadar kumpulan aset individual.

“Infrastruktur tidak lagi sekadar sekumpulan aset yang terisolasi. Survei terbaru kami menunjukkan bahwa sistem fisik dan digital telah menyatu, yang mengharuskan para pemimpin untuk berpikir melampaui model tradisional dan mengelola infrastruktur sebagai satu kesatuan yang saling terhubung,” ujar Marchese melalui siaran pers pada hari Jumat (31/10).

Menurut dia, tantangan yang dihadapi saat ini mencakup pendanaan, pembangunan, dan perlindungan sistem yang melintasi batas sektor maupun wilayah. Koordinasi, pendekatan baru terhadap risiko, serta peningkatan kapasitas teknologi dan sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan tersebut.

Infrastruktur Bergerak Menuju Sistem yang Saling Terhubung

Salah satu perubahan utama yang disoroti Deloitte adalah pergeseran dari pengelolaan aset secara terpisah menuju pendekatan system of systems. Dalam model ini, infrastruktur fisik dan digital saling bergantung untuk mendukung operasional berbagai layanan.

Kebutuhan terhadap konektivitas dan energi menjadi bagian penting dari perubahan tersebut. Sebanyak 68 persen responden mengidentifikasi kebutuhan konektivitas sebagai salah satu faktor yang mendorong perkembangan infrastruktur, sedangkan 64 persen menyoroti kebutuhan energi.

Di sisi lain, 45 persen responden menyebut ketergantungan antarsistem sebagai tantangan utama. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak cukup dilakukan melalui perencanaan masing-masing sektor. Diperlukan koordinasi yang lebih luas agar pengembangan jaringan digital, pasokan energi, transportasi, dan utilitas dapat berjalan selaras.

Ketergantungan tersebut juga membawa risiko gangguan berantai atau cascading failures. Gangguan pada jaringan listrik, misalnya, dapat memengaruhi layanan komunikasi dan operasional transportasi yang bergantung pada pasokan energi. Sebaliknya, gangguan pada sistem digital dapat menghambat pengelolaan fasilitas fisik yang telah menggunakan teknologi otomatisasi.

Deloitte menilai organisasi perlu memperkuat visibilitas dan perencanaan bersama agar risiko yang muncul pada satu sektor tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih luas.

Pendanaan dan Regulasi Masih Menjadi Hambatan

Meningkatnya kebutuhan investasi belum sepenuhnya diikuti kemampuan organisasi merealisasikan proyek. Survei Deloitte mencatat 31 persen responden menyebut keterbatasan anggaran sebagai hambatan utama dalam pelaksanaan proyek infrastruktur.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...

Main di Kandang, Arema FC Digulung Bali United

2 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Main di Kandang, Arema FC D...

Subuh Keliling untuk Mencari Masukan Warga

2 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Subuh Keliling untuk Mencar...
Daerah
Rapat Anggota Tahunan Sebua...
Advertisement
Gubernur Jabar Prihatin Banyak Warganya Terjerat Pinjol dan Judol

Gubernur Jabar Prihatin Banyak Warganya Terjerat Pinjol dan Judol

31 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.