Alberta Sekundarti Bagikan Lima Pelajaran Servant Leadership untuk Profesional HR
Selasa, 27 Okt 2026, 19:17 WIB | Oleh: Haryo BronoAdaptasi karier membutuhkan kemauan belajar
Pelajaran ketiga berasal dari perjalanan karier Alberta yang beralih dari jurnalis televisi ke dunia korporasi dan pengelolaan SDM. Perubahan profesi tersebut, menurut dia, membutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman sekaligus kemauan mempelajari keterampilan baru.
Pengalaman dari profesi sebelumnya tetap dapat menjadi modal ketika seseorang berpindah industri atau fungsi pekerjaan. Kemampuan berkomunikasi, membangun jejaring, merespons situasi dengan cepat, dan mengelola krisis, misalnya, dapat diterapkan dalam konteks pekerjaan yang berbeda.
Namun, keterampilan yang dapat ditransfer perlu dilengkapi dengan pemahaman terhadap kebutuhan industri yang dituju. Karena itu, profesional perlu mengenali kompetensi yang dibutuhkan, mengambil kesempatan untuk mengerjakan hal baru, serta memperbarui pengetahuan melalui pelatihan dan sertifikasi yang relevan.
“Never stop learning. Apa pun yang menjadi konteks dari industri yang mau kita capai, kita harus tahu apa yang dibutuhkan,” ungkap Alberta.
Pembelajaran berkelanjutan juga menjadi penting ketika perubahan teknologi dan model bisnis memengaruhi kebutuhan tenaga kerja. Kemampuan untuk terus belajar membantu profesional menyesuaikan diri tanpa harus terpaku pada pengalaman atau keahlian yang dimiliki saat ini.
Keamanan psikologis mendorong inovasi
Pelajaran keempat menyoroti pentingnya psychological safety atau keamanan psikologis di tempat kerja. Konsep ini merujuk pada kondisi ketika anggota tim merasa aman untuk menyampaikan pendapat, mengajukan ide, bertanya, atau mengakui kesalahan tanpa khawatir langsung dipermalukan atau dihakimi.
Menurut Alberta, lingkungan kerja yang terbuka dapat dibangun melalui kebiasaan mendengarkan dan pendekatan coaching. Dalam pendekatan tersebut, pemimpin tidak selalu memberikan jawaban secara langsung, tetapi membantu anggota tim mengembangkan kemampuan berpikir dan mengambil keputusan.
Misalnya, ketika seorang karyawan mengajukan usulan, pemimpin dapat mengajaknya mengevaluasi sejumlah alternatif, mempertimbangkan risiko, dan menjelaskan konsekuensi dari setiap pilihan. Proses ini memberi kesempatan kepada anggota tim untuk mengembangkan penalaran dan tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil.
Pendekatan tersebut juga membantu membangun kepercayaan diri dan rasa memiliki terhadap pekerjaan. Ketika karyawan merasa pendapatnya didengar, mereka berpeluang lebih besar untuk terlibat dalam diskusi dan menyampaikan gagasan baru.
Meski demikian, keamanan psikologis bukan berarti menghilangkan standar kinerja atau menghindari evaluasi. Lingkungan kerja yang sehat tetap membutuhkan akuntabilitas, umpan balik yang jelas, dan kesediaan untuk memperbaiki kesalahan.
Budaya perusahaan harus tercermin dalam pengalaman pelanggan
Pelajaran kelima berkaitan dengan penyelarasan budaya organisasi, terutama di industri perhotelan. Alberta menilai budaya perusahaan perlu terhubung dengan perilaku karyawan dan pengalaman yang diterima pelanggan.
Dalam industri hospitality, karyawan berperan penting dalam menerjemahkan nilai dan identitas merek ke dalam pelayanan sehari-hari. Karena itu, penyelarasan antara people dan brand perlu dilakukan secara konsisten, meskipun setiap properti atau merek memiliki karakteristik berbeda.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!