Wali Kota Bandung Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Warga
📅 Rabu, 21 Okt 2026, 15:00 WIB | Oleh: Ilham SudrajatSistem Peringatan Dini
Selain kesiapsiagaan masyarakat, Farhan menekankan pentingnya layanan kedaruratan yang mudah diakses, respons yang cepat, serta koordinasi yang efektif dalam penanganan bencana.
Ia menyampaikan bahwa pengujian terhadap layanan 112 untuk kedaruratan umum, 113 untuk pemadam kebakaran, dan 119 untuk kegawatdaruratan medis menunjukkan respons dalam waktu kurang dari 15 menit.
Hasil pengujian tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi bagi Pemkot Bandung untuk terus memperkuat kesiapan layanan, meningkatkan koordinasi antarpihak, dan mengoptimalkan penanganan kedaruratan.
Menurut Wali Kota Farhan, kesiapan layanan perlu terus ditingkatkan agar masyarakat memperoleh penanganan yang tepat sesuai kebutuhan dan tingkat kedaruratan. Evaluasi berkala juga diperlukan untuk memastikan mekanisme komunikasi, koordinasi, dan tindak lanjut laporan berjalan semakin efektif.
Pemkot Bandung juga menjajaki penguatan sistem komunikasi peringatan dini melalui pemanfaatan frekuensi Radio Republik Indonesia (RRI), termasuk kemungkinan penggunaan perangkat penerima informasi peringatan bagi masyarakat. Pengembangan ini diarahkan untuk memperluas jangkauan penyampaian informasi ketika terjadi situasi darurat.
Di tingkat kewilayahan, pemetaan risiko dan pendataan warga rentan menjadi bagian penting dalam mendukung perencanaan evakuasi dan penanganan darurat. Edukasi serta simulasi kebencanaan secara berkala juga perlu diperkuat dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, komunitas, dan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).
Wali Kota Farhan menjelaskan, Siskamling Siaga Bencana diarahkan menjadi wadah koordinasi berbagai unsur, antara lain BPBD, Dinas Kebakaran dan Penyelamatan, Dinas Sosial, Satpol PP, Linmas, Posyandu, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas masyarakat.
Ia menegaskan bahwa keberlanjutan fungsi kesiapsiagaan harus menjadi perhatian bersama. Karena itu, penguatan kapasitas masyarakat, koordinasi lintas sektor, dan integrasi dalam tata kelola kewilayahan perlu terus dikembangkan agar manfaat program dapat dirasakan secara berkelanjutan.
“Yang paling penting adalah bagaimana budaya siaga bencana menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan terus berjalan. Kolaborasi, integrasi, dan pelaksanaan berbasis risiko serta berorientasi kepada masyarakat menjadi kunci untuk membangun ketangguhan kota,” kata dia.
Melalui penguatan Siskamling Siaga Bencana, Pemkot Bandung mendorong tumbuhnya masyarakat yang lebih siap menghadapi risiko bencana, didukung koordinasi lintas sektor dan sistem penanganan kedaruratan yang semakin terintegrasi.
Wali Kota Farhan menegaskan, ketangguhan Bandung dibangun melalui tiga pilar: menjaga diri, menjaga sesama, dan memastikan pemerintah hadir dalam penanganan bencana. “Warga jaga warga, warga jaga kota. Kota nu urang sadayana,” tutur dia. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!