Cegah Radikalisme Sejak Bangku Sekolah, BNPT Ajak 1.600 Pelajar Jadi Agen Perdamaian
📅 Rabu, 21 Okt 2026, 00:11 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoJAKARTA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono mengajak 1.600 pelajar SMA se-Jabodetabek menjadi agen perdamaian dan pelopor perubahan di lingkungan sekolah, dalam kegiatan Kemah Kebangsaan BP2M, di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, generasi muda memiliki peran penting dalam merawat persatuan, termasuk melalui perilaku sehari-hari dan aktivitas di ruang digital.
"Setelah mengikuti Kemah Kebangsaan ini saya harap teman-teman bisa menjadi agen-agen perubahan di sekolah masing-masing, ini ada 58 sekolah. Kemarin saya juga sudah deklarasi dengan komite sekolah yang meliputi tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua," ujar Eddy, yang dikonfirmasi ANTARA.
Di tengah derasnya arus informasi, dia mengingatkan pelajar perlu memiliki kemampuan untuk memilah informasi secara kritis agar tidak mudah terpengaruh provokasi, ujaran kebencian, maupun konten yang mendorong kekerasan.
Dia berharap para pelajar mampu menumbuhkan sikap saling menghargai, menjaga persatuan di tengah perbedaan, serta membangun ruang digital yang sehat dan bebas dari ujaran kebencian.
Untuk itu, Kepala BNPT mengajak para pelajar menerapkan prinsip 3T, yakni Tahan, Telusuri, dan Timbang, sebelum mempercayai atau membagikan informasi.
"Jangan sampai terpapar oleh info-info kekerasan, ujaran kebencian. Jadi, teman-teman harus menerapkan 3T, Tahan dulu informasinya, Telusuri dulu jangan dibagikan informasinya, dan Timbang dulu perlu tidak di-share informasinya," tuturnya.
Eddy juga mengingatkan pentingnya perhatian bersama terhadap ruang digital yang diakses anak dan remaja.
Berdasarkan data yang dihimpun BNPT, terdapat 782 anak di 18 provinsi yang terpapar konten kekerasan melalui berbagai grup digital, termasuk true crime community (TCC), yang membahas berbagai kasus kriminal dan insiden kekerasan.
Data tersebut, kata dia, menjadi pengingat bahwa pendampingan terhadap anak di ruang digital perlu diperkuat melalui kolaborasi orang tua, tenaga pendidik, sekolah, pemerintah, dan masyarakat.
Dia mengatakan upaya perlindungan tidak hanya dilakukan dengan meningkatkan kewaspadaan, tetapi juga dengan membekali generasi muda kemampuan berpikir kritis, empati, dan tanggung jawab dalam menggunakan media digital.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Umum Persatuan Intelektual Muda dan Pelajar Indonesia (Pionir) Muhammad Hanif mengatakan kegiatan Kemah Kebangsaan menjadi momentum penting bagi pelajar untuk mempererat persaudaraan sekaligus mengembangkan sikap kritis dan demokratis.
"Harapan saya semoga kegiatan ini dapat menjadi momentum bagi semua untuk memperkuat tali persaudaraan dan membuktikan bahwa pelajar Indonesia adalah pelopor perubahan yang kritis serta demokratis," ungkap Hanif.
Kegiatan tersebut diikuti pelajar dari 58 sekolah sebagai ruang pembelajaran bersama untuk memperkuat wawasan kebangsaan, toleransi, dan semangat persaudaraan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!