Ledakan AI Bikin Sewa Bangunan di San Francisco Makin Tak Terjangkau, Warga Terdesak hingga Terusir dari Kota
Jumat, 09 Okt 2026, 00:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SMichael Lens dari UCLA menilai sebuah kota membutuhkan tenaga kerja dengan tingkat pendapatan yang beragam. Menurutnya, San Francisco tidak bisa hanya menjadi tempat bagi pekerja teknologi dan profesional bergaji tinggi, sementara pekerja restoran, guru, tenaga kesehatan dan pekerja jasa tidak mampu tinggal di dekat tempat mereka bekerja.
Efek lainnya adalah meningkatnya kepadatan hunian. Sebagian warga yang tidak mampu membayar sewa memilih tinggal di unit yang lebih kecil atau berbagi satu tempat dengan semakin banyak orang.
Dalam sejumlah kasus yang ditemukan organisasi perumahan, satu kamar tidur dapat ditempati empat atau lima orang, sementara sejumlah pekerja imigran bahkan dilaporkan tidur bersama dalam sebuah unit studio.
Bagi kelompok yang akhirnya kehilangan tempat tinggal, pilihan untuk tetap tinggal di San Francisco semakin terbatas. Sebagian berpindah ke wilayah yang lebih jauh, sementara lainnya terpaksa menerima hunian dengan kondisi yang kurang layak.
Persoalan ini menjadi paradoks dari ledakan ekonomi berbasis AI. Industri tersebut menghasilkan perusahaan bernilai sangat tinggi, menciptakan pekerjaan bergaji besar dan membawa modal baru ke kota, tetapi pada saat bersamaan keuntungan ekonomi itu ikut meningkatkan persaingan mendapatkan ruang hidup.
Wali Kota San Francisco Daniel Lurie pada September lalu bahkan menyatakan adanya "darurat sewa" dan mengusulkan sejumlah langkah, termasuk memperbesar bantuan hukum bagi penyewa yang menghadapi penggusuran serta meningkatkan kompensasi bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Namun, para pendukung perumahan berbeda pandangan mengenai solusi jangka panjang. Sebagian mendorong pembangunan hunian sebanyak mungkin agar pasokan meningkat dan tekanan harga berkurang. Kelompok lain menilai pembangunan rumah terjangkau yang secara khusus melindungi kelompok berpenghasilan rendah juga harus menjadi prioritas.
Di tengah perdebatan tersebut, satu persoalan menjadi semakin nyata: lonjakan kekayaan akibat AI tidak otomatis membuat seluruh warga ikut menikmati pertumbuhan ekonomi.
Jika pertumbuhan industri tidak diikuti penambahan hunian yang memadai dan terjangkau, San Francisco menghadapi risiko semakin sulit mempertahankan keberagaman penduduknya—termasuk orang-orang yang bekerja di restoran, rumah sakit, sekolah, hotel, transportasi dan berbagai layanan yang membuat kota tetap berjalan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!