Kesenjangan Talenta Digital Hambat Ekonomi Kreatif
📅 Kamis, 08 Okt 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiJakarta - Penguatan talenta digital menjadi salah satu kunci bagi Indonesia untuk mengoptimalkan potensi ekonomi kreatif sekaligus meningkatkan devisa negara. Besarnya peluang pada industri musik, game, animasi, layanan digital, hingga pariwisata dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri.
Dikutip dari Antara, Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani mengatakan ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk menjadi sumber pertumbuhan baru, tetapi kontribusinya masih perlu terus didorong agar mampu memberikan nilai tambah yang lebih tinggi bagi perekonomian.
“Ekonomi kreatif ini banyak dibicarakan, bahkan ada kementeriannya sendiri, tetapi sebenarnya jumlahnya masih relatif rendah. Padahal, sebenarnya kalau kita melihat dari potensinya, itu sangat besar,” ujar Aviliani.
Menurut dia, salah satu strategi yang dapat dikembangkan adalah pilar Red Hot Industry yang mencakup game, musik, animasi, dan layanan digital. Pengembangan sektor tersebut, kata dia, sangat bergantung pada peningkatan kualitas dan jumlah talenta digital di dalam negeri.
Penguatan talenta digital menjadi semakin penting karena sektor-sektor tersebut tidak hanya membutuhkan modal dan teknologi, tetapi juga tenaga kerja yang mampu menghasilkan produk kreatif berdaya saing global. Tanpa ketersediaan talenta yang memadai, peluang Indonesia untuk mengembangkan industri digital dan memperoleh devisa berpotensi tidak maksimal.
Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan bahwa pengembangan talenta yang siap menghadapi masa depan bukan sekadar persoalan pendidikan, tetapi berkaitan langsung dengan daya saing ekonomi.
“Pengembangan talenta yang siap menghadapi masa depan bukan hanya agenda pendidikan. Ini adalah agenda daya saing,” kata Destry dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Rabu (7/10).
Menurut Destry, transisi energi, transformasi digital, dan keuangan berkelanjutan menciptakan kebutuhan terhadap berbagai keterampilan baru, mulai dari insinyur dan spesialis data hingga tenaga ahli kecerdasan artifisial (AI) dan risiko terkait iklim.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investasi pada keterampilan sumber daya manusia dan kapasitas kelembagaan perlu menjadi bagian penting dari strategi pembangunan ekonomi. Talenta, kata Destry, merupakan unsur yang mengubah modal dan inovasi menjadi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!