Rupiah Dibayangi Pelemahan - 01 Oktober 2026
📅 Kamis, 01 Okt 2026, 07:48 WIB | Oleh: Muchamad IsmailJAKARTA – Rupiah diperkirakan masih bergerak volatil karena tekanan eksternal belum mereda, terutama dari gejolak geopolitik dan perubahan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed.
Kondisi tersebut berpotensi memperkuat dollar AS dan menahan ruang penguatan rupiah.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi melihat volatilitas rupiah dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal, salah satunya konflik antara AS dan Iran yang membuat harga minyak tetap tinggi sehingga menempatkan fiskal Indonesia ke posisi rentan guncangan.
Selain itu, The Fed memberikan sinyal untuk melakukan kalibrasi ulang kebijakan moneter serta kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Karenanya, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Kamis (1/10), bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di kisaran 17.890 - 18.940 rupiah per dollar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Rabu (30/9), bergerak menguat 87 poin atau 0,48 persen dari sehari sebelumnya menjadi 17.894 rupiah per dollar AS.
“Pergerakan rupiah dipengaruhi intervensi Bank Indonesia (BI) yang konsisten di pasar valuta asing (valas),” ujar Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa di Jakarta.
Amru menambahkan BI tetap konsisten melakukan intervensi setelah rupiah sempat menembus 18.000 rupiah per dollar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
BI menegaskan intervensi spot di pasar valas untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tetap dilakukan sesuai dengan dinamika pasar.
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G Hutapea menerangkan komposisi intervensi spot sekitar 30 persen merupakan komposisi yang bersifat historis dan tidak menjadi target dalam pelaksanaan intervensi.
Secara historis, seiring dengan upaya BI mendorong perkembangan pasar valas domestik, ia menyebut komposisi penggunaan instrumen spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun Non-Deliverable Forward (NDF) mulai lebih berimbang.
Namun, hal tersebut tidak berarti komitmen BI untuk melakukan intervensi di pasar spot berkurang.
Di samping itu, sentimen global turut mempengaruhi pergerakan rupiah, yakni kenaikan yield US Treasury dan penguatan dollar AS.
Yield US Treasury 10 tahun disebut berada di sekitar 5,27 persen, sementara dollar AS menguat dan berada dekat level tertinggi tahun ini.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!