Ketegangan Tarif Membayangi Pertemuan Para Mendag G20

Kamis, 01 Okt 2026, 01:00 WIB

MILWAUKEE - Para menteri perdagangan G20 dijadwalkan memulai pembicaraan pada hari Rabu (30/9) di Amerika Serikat (AS) yang diwarnai ketegangan akibat tarif yang diberlakukan Presiden Donald Trump dengan menargetkan para mitra bekerja keras mengatasi kelebihan kapasitas produksi.

Pertemuan para pejabat dari Kelompok 20 negara ekonomi utama itu akan berlangsung di kota Milwaukee, wilayah Midwest yang dihadiri Tiongkok, India, Russia, Jepang, Jerman, dan Prancis.

Ket. Foto: Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer — Sumber: AFP/Jim WATSON

Namun, para analis memperkirakan pembicaraan selama dua hari tersebut akan menemui jalan buntu karena tarif Trump membebani hubungan, sementara Tiongkok menolak kekhawatiran tentang ekspornya, yang menurut para kritikus didorong oleh kelebihan kapasitas industri.

Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer membela pendekatan Washington pada sebuah diskusi meja bundar hari Selasa di Milwaukee, dengan mengatakan bahwa pemerintahan “bukan anti-perdagangan”.

Ia menambahkan bahwa negara-negara menghadapi tantangan serupa terkait kelebihan kapasitas global dan “kebijakan non-pasar”.

Minggu ini, mitra dagang utama AS seperti Kanada dan Uni Eropa juga diperkirakan akan mendorong hubungan perdagangan yang lebih dalam di luar AS.

“Jangan mengharapkan terobosan apa pun di Milwaukee," kata Josh Lipsky dari lembaga think tank Atlantic Council kepada AFP, seraya mencatat preferensi Trump untuk negosiasi bilateral.

Meskipun para mitra G20 akan berupaya keras untuk menemukan cara bekerja sama dengan ekonomi terbesar di dunia, mereka juga berada di bawah tekanan untuk menyuarakan kekhawatiran terkait tarif,” tambah mantan pejabat perdagangan AS, Wendy Cutler, yang sekarang bekerja di Asia Society Policy Institute.

AS memegang jabatan presiden bergilir G20, yang terdiri dari 19 negara ditambah Uni Eropa dan Uni Afrika.

Trump telah melancarkan serangkaian tarif terhadap mitra dagangnya sejak tahun lalu, secara terpisah menargetkan sektor-sektor seperti baja dan otomotif.

Meskipun Mahkamah Agung membatalkan tarif khusus negara yang diberlakukan Trump pada bulan Februari, Washington sejak itu menuduh tindakan yang diambil terhadap kerja paksa tidak memadai sehingga memberlakukan tarif baru pada 60 negara, termasuk Tiongkok, India, dan Uni Eropa.

Selain itu, Washington juga sedang menyelidiki 16 mitra terkait kelebihan kapasitas industri, sebuah keluhan yang umum dilayangkan kepada Tiongkok. Para kritikus mengatakan hal ini membanjiri pasar, menekan harga secara tidak adil.

Namun penyelidikan AS yang sedang berlangsung melampaui ekonomi terbesar kedua di dunia, membawa ancaman tarif lebih lanjut ke Uni Eropa dan negara-negara G20 seperti Jepang dan Korea Selatan.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.