Jabar Perkuat Ekspor Kopi, Teh, dan Kakao Melalui WIITEX 2026

Rabu, 10 Jun 2026, 06:17 WIB

BANDUNG - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) memperkuat ekspor komoditas lokal nonmanufaktur seperti kopi, teh, hingga kakao melalui promosi di West Java International Industry and Trade Expo (WIITEX) 2026, yang juga sebagai strategi menjaga eksistensi perdagangan luar negeri di tengah pelemahan nilai tukar rupiah.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat Nining Yuliastiani selepas agenda Bewara Jawa Barat (Beja) Volume 18 dengan tema WIITEX 2026: "The Golden Belt of Java: Coffee, Tea, and Cocoa for The Future" di Gedung Sate Bandung, mengatakan bahwa struktur ekspor Jabar selama ini didominasi sektor manufaktur yang rentan karena bergantung pada bahan baku impor.

Ket. Foto: Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat Nining Yuliastiani selepas agenda Bewara Jawa Barat (Beja) Volume 18 dengan tema WIITEX 2026: "The Golden Belt of Java: Coffee, Tea, and Cocoa for The Future" di Gedung Sate Bandung. — Sumber: antara foto

"Jawa Barat itu ekspornya memang paling besar, tapi yang diekspor itu kebanyakan bahan bakunya impor. Ini problem karena basisnya produk-produk manufaktur seperti kendaraan, mesin, dan tekstil. Oleh karena itu rentan banget saat ini, apalagi nilai rupiah melemah. Jadi ini kita berusaha menggerakkan ekspor agar tetap eksis dengan mendorong potensi lokal kita," ujar Nining di Bandung, Selasa (9/6).

Nining menjelaskan WIITEX 2026 merupakan pameran perdana Pemprov Jabar yang mengintegrasikan agroindustri kopi, teh, dan kakao dari hulu hingga hilir dalam kerangka hilirisasi.

Ekosistem ini melibatkan 72 pelaku usaha serta 19 lembaga/institusi seperti Bea Cukai, Karantina, dan Kementerian Perdagangan guna memfasilitasi perizinan hingga pasar ekspor.

Dalam ajang ini, Pemprov Jabar akan mempertemukan pelaku usaha dengan 42 buyer terkonfirmasi dari 11 negara secara hibrida, di antaranya Malaysia, Thailand, Filipina, Arab Saudi, Amerika Serikat, Jerman, hingga kehadiran langsung Duta Besar Pakistan.

Tercatat ada tren pertumbuhan positif pada volume ekspor kopi Jabar yang naik dari sekitar 3 juta ton pada 2024 menjadi 5,3 juta ton pada 2025.

Kenaikan signifikan juga terjadi pada kakao olahan yang pada 2025 bernilai 687 juta dolar AS (volume 75 juta ton), dan pada triwulan I-2026 ini telah mengantongi nilai ekspor 123 juta dolar AS.

Sebaliknya, komoditas teh Indonesia mengalami penurunan ekspor sekitar 16 persen dari tahun 2024 ke 2025 akibat rendahnya daya saing dan dominasi penjualan teh curah. Melalui WIITEX 2026, Pemprov Jabar mendorong strategi "premiumisasi" produk teh untuk mendongkrak harga jual dan memperluas pasar global.

Selain memfasilitasi business matching dan lelang komoditas yang transparan bagi petani, WIITEX 2026 juga akan melakukan pelepasan ekspor dua kontainer kopi menuju Mesir, serta penandatanganan kesepakatan (Letter of Intent dan MoU) antara sejumlah pelaku usaha lokal dengan pembeli internasional.

Sementara itu, Analis Perdagangan Ahli Madya sekaligus Ketua Tim Perkebunan pada Ditjen PEN Kementerian Perdagangan, Irman Adi Purwanto Moefthi, menyatakan dukungan penuh pusat terhadap WIITEX 2026 yang dinilai paralel sebagai prapromosi menjelang Trade Expo Indonesia (TEI) pada Oktober mendatang.

"Kegiatan WIITEX ini tentu juga akan mem-boost peningkatan dari kegiatan Trade Expo Indonesia ini sendiri. Ini menjadi salah satu contoh bagaimana daerah melalui kegiatan internasional seperti ini semakin menggiatkan promosi produk Indonesia ke mata dunia," kata Irman.

Ia menambahkan, Kemendag juga mengupayakan diversifikasi pasar agar ekspor komoditas nasional tidak bergantung pada satu negara saja. Pasar potensial seperti wilayah Afrika Utara dan Timur Tengah (termasuk Mesir) serta Rusia kini dibidik karena memiliki ketertarikan tinggi terhadap produk teh selain kopi.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Sriyono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.