Kenaikan Imbal Hasil Dollar AS Bakal Menekan Rupiah
📅 Selasa, 29 Sep 2026, 03:05 WIB | Oleh: Tim RedaksiLebih lanjut Badiul mengatakan kenaikan suku bunga The Fed menjadi 3,75–4 persen dan proyeksi kenaikan sekali lagi pada triwulan IV 2026 bukan sekedar persoalan moneter AS. “Bagi Indonesia, ini memperbesar tekanan terhadap rupiah, arus modal, dan stabilitas eksternal,” kata Badiul.
Menurut Badiul, persoalan utama saat ini bukan memilih antara menjaga rupiah atau pertumbuhan, melainkan memperkuat instrumen lain agar stabilitas tidak seluruhnya dibebankan kepada suku bunga.
“Persoalan utamanya bukan memilih antara rupiah atau pertumbuhan, melainkan memperkuat instrumen agar stabilitas tidak seluruhnya dibebankan kepada suku bunga. Kebijakan swap, lindung nilai, transaksi mata uang lokal, dan pengelolaan likuiditas perlu bekerja lebih efektif,” kata Badiul.
Dia juga mengingatkan adanya risiko lanjutan berupa flight to quality akibat kenaikan imbal hasil aset dollar AS.
“Situasi ini bukan tanpa risiko, setidaknya ada risiko yang perlu diawasi yaitu flight to quality. Ketika imbal hasil aset dollar meningkat, investor memiliki insentif memindahkan dana dari pasar negara berkembang menuju aset AS. Dampaknya dapat menjalar melalui nilai tukar, biaya pembiayaan, impor, hingga tekanan inflasi domestik,” pungkas Badiul.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!