Rupiah Masih Rentan - 16 September 2026

Rabu, 16 Sep 2026, 07:35 WIB

JAKARTA – Rupiah berpotensi kembali tertekan pada perdagangan tengah pekan seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang memperkuat ketidakpastian pasar global.

Kondisi tersebut dapat mendorong investor mengalihkan dana ke aset safe haven, sehingga meningkat­kan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, ter­masuk rupiah.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi meliat ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman me­nyerang Arab Saudi dan sehingga mengancam pasokan mi­nyak global setelah fasilitas pipa minyak lintas negara milik Riyadh terdampak.

Ketidakpastian semakin meningkat se­telah pembicaraan mengenai Selat Hormuz ditunda antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Karenanya, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terha­dap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Rabu (16/9), bergerak melemah di kisaran 17.690-17.750 ru­piah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Selasa (15/9), bergerak mele­mah 25 poin atau 0,14 persen dari sehari sebelumnya men­jadi 17.694 rupiah per dollar AS.

“Pelemahan rupiah dipe­ngaruhi konflik geopolitik di Asia Barat,” ujar Ibrahim.

Dia menambahkan kelompok Houthi (Ansarullah) di Ya­man melancarkan serangan lanjutan terhadap Arab Saudi pada Senin (14/9), sembari memperkuat posisi mereka di titik-titik strategis di sepanjang Laut Merah.

Lebih lanjut, posisi-posisi tersebut juga dianggap memungkinkan ke­lompok itu melancarkan lebih banyak serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandab, sehingga mengancam pasokan minyak di kawasan sekitar.

Setelah Ansarullah Yaman melumpuhkan operasional pipa minyak lintas-negara (timur-barat) milik Riyadh pada pekan lalu, para analis memperkirakan bahwa perkembangan ini dapat mengganggu tambahan 4-5 persen dari pasokan global.

Sentimen lain berasal dari penundaan pembicaraan me­ngenai Selat Hormuz antara Iran dengan AS.

Begitu pula pe­nundaan pertemuan antara Oman, Iran, dan negara-negara Teluk untuk membahas pembukaan kembali Selat Hormuz.

“Presiden AS Donald Trump pada hari Senin (14/9) kembali melontarkan klaim yang sering ia sampaikan bahwa Iran sedang mengupayakan kesepakatan damai.

Namun, Teheran membantah klaim Trump tersebut,” ung­kap Ibrahim.

  • kurs rupiah hari ini

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.