Serangan Balik Benfica Uji Pertahanan Milan

Rabu, 16 Sep 2026, 06:23 WIB

MILAN - Dua mantan juara Eropa bertemu di ajang Liga Eropa. AC Milan mengawali langkah fase liga musim ini dengan menjamu Benfica di San Siro, Kamis (17/9) dini hari WIB. Laga dua klub besar yang pernah mengangkat trofi kompetisi antarklub tertinggi Eropa itu menjadi salah satu pertandingan paling menarik di pekan pembuka.

Milan dan Benfica sama-sama gagal memenuhi ambisi menembus Liga Champions musim lalu. Namun, keduanya datang ke Liga Eropa dengan status kandidat kuat untuk melangkah jauh, bahkan menjadi juara ketika kompetisi mencapai fase penentuan di Frankfurt di musim semi mendatang.

Ket. Foto: Pemain AC Milan Luka Modric, Yunus Musah, Mario Gila, Koni De Winter, Mike Maignan, Davide Bartesaghi, Goncalo Ramos, Strahinja Pavlovic, dan Alphadjo Cisse memberikan penghormatan kepada mendiang pemain AC Milan Franco Baresi sebelum pertandingan Serie A Italia antara AC Milan lawan Venezia di Stadion San Siro, Milan, Italia. — Sumber: AFP/Stefano RELLANDINI

Bagi Milan, kompetisi Eropa menjadi kesempatan untuk membuka lembaran baru setelah musim lalu berakhir mengecewakan. Enam kekalahan dalam 10 pertandingan terakhir Serie A membuat posisi Rossoneri dalam perburuan tiket Liga Champions terlepas. Situasi tersebut kemudian memicu perubahan besar di tubuh klub.

Massimiliano Allegri hanya bertahan satu musim dalam periode keduanya sebelum akhirnya digantikan Rúben Amorim. Pelatih asal Portugal itu datang dengan misi menghidupkan kembali permainan Milan. Hasil awal menunjukkan tanda-tanda positif karena Rossoneri belum terkalahkan di awal musim.

Setelah mengalahkan Torino dan Venezia, Milan harus puas bermain imbang melawan Juventus dan Lazio. Hasil di Turin terasa menyakitkan setelah Juventus mencetak gol penyama kedudukan pada menit-menit akhir. Sebaliknya, ketika menghadapi Lazio di Roma, Milan justru menunjukkan mentalitas kuat dengan bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk membawa pulang satu poin.

Kini, setelah absen dari kompetisi Eropa musim lalu, Milan kembali tampil di pentas kontinental untuk pertama kalinya sejak tersingkir dari Liga Champions 2024-25 di babak playoff fase gugur.

Amorim sendiri bukan sosok asing dengan atmosfer Liga Eropa. Musim lalu dia membawa Manchester United hingga final, meski akhirnya gagal mengangkat trofi. Pengalaman tersebut menjadi modal berharga bagi pelatih yang sebelumnya membangun reputasi bersama Sporting CP.

Menariknya, Liga Eropa mempertemukan Amorim dengan Benfica. Dia salah satu rival besar klub yang pernah dibelanya sebagai pemain selama sembilan tahun. Kini, dia berada di sisi lain dan akan mencoba membawa Milan menundukkan klub Portugal tersebut.

“Kami tahu sejarah dan kebesaran Milan. Tetapi harus membangun tim yang ingin bermain untuk menang dan tidak takut menghadapi siapa pun,” ujar Amorim, menegaskan ambisinya bersama Rossoneri.

Di kubu lawan, Benfica datang dengan kepercayaan diri tinggi. Musim lalu mereka hanya mampu finis di posisi ketiga Primeira Liga di bawah José Mourinho. Hasil itu membuat klub harus memulai perjalanan Eropa dari babak kualifikasi Liga Eropa.

Kehadiran Marco Silva kemudian membawa perubahan signifikan. Benfica sempat mengawali perjalanannya dengan kekalahan mengejutkan dari St Gallen, tetapi mampu membalas dengan kemenangan telak 5-0 di leg kedua. Setelah itu, mereka menyingkirkan Hearts dengan agregat 7-2 dan AGF dengan agregat 6-2 untuk memastikan tempat di fase liga.

Sejak itu, Benfica melaju impresif di kompetisi domestik. Mereka meraih kemenangan dalam empat pertandingan berikutnya dengan mencetak 12 gol. Terakhir, Benfica bangkit di menit-menit akhir untuk mengalahkan Gil Vicente 3-1 dan mencatat kemenangan ketujuh secara beruntun di semua kompetisi.

Silva sadar San Siro bukan tempat mudah untuk didatangi. Namun, pelatih Benfica itu menolak menjadikan nama besar Milan sebagai alasan untuk bermain defensif. “Kami ingin lolos ke fase berikutnya. Milan memang menonjol karena sejarah dan kebesarannya, tetapi kami akan menghadapi semua lawan dengan ambisi yang sama dan berusaha mendapatkan poin sebanyak mungkin,” ujar Silva.

Catatan sejarah juga memberikan keuntungan psikologis bagi Milan. Benfica belum pernah menang atas Rossoneri dalam tujuh pertemuan kompetitif. Bahkan, dua pertemuan paling terkenal terjadi di final Piala Champions, ketika Milan mengalahkan Benfica pada tahun 1963 dan 1990. Secara keseluruhan, Milan mencatat lima kemenangan dan dua hasil imbang dalam tujuh pertemuan resmi. ben/G-1

Perkiraan Formasi

AC Milan 3-4-2-1

Maignan

De Winter, Gabbia, Pavlovic

Chukwueze, Modric, Musah, Moreira

Pulisic, Cisse

Ramos

Benfica 4-2-3-1

Soares

Aursnes, Araujo, Lenglet, Dahl

Palhinha, Barreiro

Silva, Prestianni, Schjelderup

Pavlidis

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.