‘It Ends’: Backrooms Perjalanan di Pedalaman
Minggu, 23 Agu 2026, 05:15 WIBFilm horor independen âIt Endsâ menawarkan konsep sederhana yang berkembang menjadi pengalaman surealis dan penuh teka-teki. Debut penulis-sutradara muda Alexander Ullom ini mengikuti empat sahabat yang terjebak dalam perjalanan dengan mobil yang seolah tidak pernah berakhir.
James (Phinehas Yoon), Tyler (Mitchell Cole), Fisher (Noah Toth), dan Day (Akira Jackson) baru saja menyelesaikan sekolah ketika mereka menaiki sebuah Jeep dan memasuki jalan gelap di tengah hutan.
Dari Los Angeles Times, awalnya perjalanan itu tampak biasa. Namun, jalan yang mereka lalui perlahan berubah menjadi sesuatu yang tidak masuk akal. Tidak ada persimpangan, tidak ada jalan keluar, dan tidak ada tempat aman untuk berhenti.
Ketika mereka mencoba menghentikan kendaraan, sekelompok orang asing yang putus asa dan agresif muncul dari dalam hutan dan berusaha merebut mobil mereka.
Pilihan mereka kemudian hanya dua: terus mengemudi atau menghadapi sesuatu yang menunggu di luar.
Masalahnya, perjalanan tersebut tidak memiliki akhir yang jelas.
Mereka mulai menyadari bahwa aturan normal tidak lagi berlaku. Mereka tidak perlu makan atau minum, sementara mobil mereka juga tidak kehabisan bahan bakar. Waktu pun kehilangan maknanya.
Pada titik tertentu, pertanyaan yang muncul bukan lagi bagaimana mereka bisa keluar dari situasi tersebut, tetapi apakah sebenarnya ada jalan keluar?
Film ini tayang perdana di SXSW pada 2025, lebih dari setahun sebelum âBackroomsâ karya Kane Parsons hadir di layar lebar. Keduanya memiliki kesamaan dalam menghadirkan dunia yang tampak normal tetapi menyimpan sesuatu yang sangat keliru.
Namun, âIt Endsâ tidak sepenuhnya mengandalkan teror. Film ini perlahan bergeser menjadi eksplorasi filosofis tentang kehidupan, tujuan, pilihan, dan bagaimana manusia menghadapi situasi yang tidak dapat mereka kendalikan.
Ullom juga memanfaatkan ruang sempit di dalam mobil sebagai pusat cerita. Kamera sebagian besar tetap berada di sekitar kendaraan, sementara dunia di luar berubah menjadi pemandangan yang samar dan sulit dipahami.
Di dalam mobil, hubungan keempat karakter berkembang. Mereka menciptakan berbagai kebiasaan untuk mengatasi ketegangan, bercanda, bertengkar, dan mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Musik karya Matthew Robert Cooper turut membangun atmosfer dengan suara-suara berulang dari lampu hazard Jeep yang menciptakan tekanan sepanjang perjalanan.
Sinematografi Evan Draper dan Jazleana Jones kemudian digunakan Ullom untuk menampilkan perubahan waktu melalui rangkaian montase. Jarak tempuh terus bertambah, tetapi tujuan mereka tetap tidak pernah terlihat.
Hal menarik lainnya adalah cara film ini memperlakukan konsep kemajuan. Mobil terus bergerak, tetapi pergerakan tersebut tidak otomatis berarti mereka semakin dekat dengan tujuan.
Gagasan itu membuat âIt Endsâ berbeda dari film perjalanan pada umumnya. Berbagai film seperti âThe Fast and the Furiousâ, âMad Max: Fury Roadâ, âTwo-Lane Blacktopâ, hingga âThelma & Louiseâ menggunakan perjalanan sebagai bentuk gerak menuju sesuatu.
Dalam âIt Endsâ, bergerak justru bisa berarti terjebak.
Film ini juga menyelipkan kritik terhadap kehidupan modern. Ketergantungan pada teknologi, internet, GPS, serta obsesi terhadap tujuan material menjadi bagian dari persoalan yang dihadapi para karakter.
Salah satu karakter bahkan menyadari bahwa ia memiliki lebih sedikit foto keluarganya di ponsel dibandingkan meme. Ketika koneksi internet menghilang, mereka mulai mempertanyakan seberapa banyak kehidupan mereka selama ini bergantung pada teknologi.
Para pemain yang relatif belum dikenal menjadi salah satu kekuatan film. Phinehas Yoon membawa karakter James yang ambisius tetapi sulit disukai, sementara Mitchell Cole memainkan Tyler sebagai sosok sinis dan praktis.
Noah Toth dan Akira Jackson memberikan keseimbangan melalui humor sehingga cerita tidak terus-menerus berada dalam tekanan.
Yang membuat âIt Endsâ menarik adalah keputusan Ullom untuk tidak memberikan semua jawaban kepada penonton. Ketika salah satu karakter meninggalkan mobil dan tidak pernah terlihat lagi, film tidak menjelaskan apakah keputusan tersebut benar atau justru sebuah kesalahan.
Dengan demikian, penonton dipaksa menentukan sendiri makna dari perjalanan tersebut.
Apakah mereka harus terus bergerak?
Apakah mereka seharusnya berhenti dan menerima keadaan?
Atau justru perjalanan tanpa akhir itu merupakan gambaran kehidupan mereka sejak awal?
âIt Endsâ tidak memberikan jawaban sederhana. Film ini menggunakan premis horor tentang empat orang yang terjebak di jalan tanpa ujung untuk membicarakan sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: manusia yang terus bergerak karena merasa harus memiliki tujuan, meski tidak selalu tahu ke mana mereka sebenarnya menuju.
Bagi Alexander Ullom, konsep perjalanan tanpa akhir menjadi ruang untuk memperkenalkan gaya penyutradaraan yang eksperimental sekaligus menunjukkan bahwa film berskala kecil masih dapat menghasilkan gagasan besar.
- Review Film
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.