Mengukur Risiko dan Kesiapan dalam Menghadapi Bencana Geologi
Jumat, 11 Sep 2026, 00:00 WIBDua bencana geologi, yakni erupsi Gunung Anak Krakatau dan gempa magnitudo 7,7 skala richter di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), menegaskan pentingnya penguatan pemantauan, sistem peringatan dini, dan mitigasi pemerintah untuk menekan dampak keselamatan, kesehatan, sosial, dan ekonomi masyarakat.
Posisi geografis Indonesia di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) membuat negeri ini memiliki tingkat kerawanan bencana geologi yang tinggi. Pertemuan dan pergerakan sejumlah lempeng tektonik besar membentuk jalur gunung api sekaligus menjadi sumber aktivitas kegempaan, termasuk gempa tektonik dan potensi tsunami.
Kondisi tersebut membuat bencana geologi bukan sekadar ancaman sesekali, melainkan risiko yang harus menjadi bagian dari perencanaan pembangunan nasional. Erupsi gunung api dapat mengganggu mobilitas, kesehatan, pariwisata, hingga aktivitas ekonomi, sementara gempa tektonik yang sulit diprediksi secara tepat dapat merusak bangunan, infrastruktur, dan mata pencaharian masyarakat dalam waktu singkat.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat hingga September 2025 terdapat 33 kejadian gempa bumi merusak, tertinggi dalam catatan periode yang mereka laporkan.
Terbaru, Dua bencana geologi kembali menjadi perhatian nasional dalam beberapa hari terakhir. Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda sempat memasuki fase erupsi menerus selama sekitar 25 jam sebelum akhirnya berakhir, sementara gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Timur Laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya menyangkut ancaman keselamatan di sekitar kawasan gunung api, tetapi juga dapat menimbulkan efek berantai terhadap aktivitas ekonomi dan kesehatan masyarakat. Gangguan penerbangan, pelayaran, pariwisata, serta aktivitas usaha sebagian Pulau Jawa dan Sumatera berpotensi menekan pendapatan pelaku usaha dan menghambat distribusi barang apabila erupsi berlangsung atau meningkat.
Dari sisi kesehatan, paparan abu vulkanik dapat mengganggu kualitas udara dan memicu iritasi mata serta gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan. Karenanya, sejumlah daerah di lima provinsi seperti Jawa Barat, Banten, Jakarta, Lampung dan Bengkulu menerapkan pembelajaran jarak jauh alias daring untuk siswa jenjang dasar hingga menengah atas.
Sementara itu, Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga berpotensi memperlebar tekanan ekonomi dan sosial masyarakat. Hingga 3 September, kerugian dan kebutuhan pemulihan diperkirakan mencapai 2,59 triliun rupiah, dengan sekitar 99.398 rumah rusak serta 3.886 prasarana strategis terdampak, termasuk fasilitas kesehatan, pendidikan, dan tempat ibadah.
Dua peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ancaman geologi bukan sekadar persoalan bencana, tetapi juga ujian terhadap kesiapsiagaan masyarakat dan kapasitas mitigasi pemerintah. Karakter ancaman yang berbedaâerupsi gunung api yang dapat dipantau melalui aktivitas vulkanik dan gempa bumi yang datang relatif tiba-tibaâmenuntut sistem peringatan dini serta respons yang cepat dan tepat agar risiko korban maupun kerugian dapat ditekan.
Di tengah kondisi tersebut, pemantauan aktivitas gunung api dan gempa bumi menjadi penting untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat sekaligus memahami langkah mitigasi yang perlu dilakukan. Lantas, bagaimana perkembangan terbaru kedua bencana tersebut dan apa saja yang perlu diwaspadai masyarakat?
Berikut petikan wawancara dengan Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, gempa Nagekeo, serta imbauan mitigasi bagi masyarakat, yang dirangkum wartawan Koran Jakarta, Frederikus W Sabini, dalam beberapa kesempatan.
Bu Lana, bisa dijelaskan bagaimana kronologi erupsi menerus Gunung Anak Krakatau yang baru saja terjadi?
Ya. Gunung Anak Krakatau mengalami episode erupsi menerus selama 25 jam. Episode itu dimulai sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB dan berakhir pada Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB. Setelah periode tersebut, aktivitas erupsi kembali menunjukkan karakteristik letusan ringan secara berkala yang memang menjadi ciri khas Gunung Anak Krakatau.
Apa hasil pengamatan setelah episode erupsi menerus itu berakhir?
Setelah episode erupsi menerus berakhir, teramati tiga kali erupsi tipe strombolian dengan warna kolom erupsi hitam. Kembalinya erupsi strombolian yang merupakan karakteristik khas Gunung Anak Krakatau, untuk sementara kami intepretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang tersebut.
Bagaimana dengan aktivitas kegempaan saat ini? Apakah sudah turun?
Belum. Meski episode erupsi menerus telah berakhir, pemantauan instrumental pada periode 6-7 September 2026 masih merekam dinamika kegempaan yang tinggi. Tercatat tiga kali gempa erupsi, sembilan kali gempa hembusan, 93 kali gempa low frequency, 98 kali gempa hybrid/ fase banyak, empat kali gempa tremor menerus, serta satu kali gempa vulkanik dangkal. Tingginya frekuensi gempa hybrid dan low frequency ini menunjukkan masih adanya pergerakan fluida dan tekanan di dalam tubuh gunung.
Dengan data tersebut, bagaimana status Gunung Anak Krakatau saat ini?
Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga. Dengan masih tingginya kegempaan dan potensi erupsi strombolian, maka kemungkinan terjadinya letusan dalam beberapa periode ke depan masih tinggi.
Apa saja potensi bahaya yang paling mungkin terjadi saat ini?
Potensi bahaya utama berupa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat di sekitar kawah. Selain itu ada juga potensi aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi. Untuk masyarakat di wilayah pesisir, kami imbau tidak perlu khawatir berlebihan, tetapi tetap waspada.

DOK ESDM
Apa imbauan Badan Geologi kepada masyarakat, wisatawan, dan nelayan?
Kami mengingatkan masyarakat, wisatawan, dan pendaki untuk tidak mendekat atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api. Bagi masyarakat yang terdampak abu vulkanik, kami imbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker guna menghindari gangguan pernapasan.
Khusus untuk masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung, kami minta untuk tetap tenang dan tidak mempercayai isu-isu hoaks terkait erupsi yang dikaitkan dengan potensi tsunami. Warga diminta beraktivitas normal sambil terus mengikuti arahan BPBD setempat.
Bagaimana mekanisme pemantauan yang dilakukan Badan Geologi terhadap Anak Krakatau?
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG terus melakukan pemantauan 24 jam. Pemantauan khusus terhadap Gunung Anak Krakatau dilakukan melalui dua pos pengamatan, yakni Pos Pengamatan Pasauran di Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, serta Pos Pengamatan Kalianda di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Data dari seismograf, tiltmeter, dan kamera CCTV kami pantau secara real time.
Bergeser ke gempa. Bisa dijelaskan secara detail kejadian gempa M7,7 di Timur Laut Nagekeo?
Gempa bumi terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58.23 WIB. Berdasarkan data BMKG, episentrum berada pada koordinat 8,33 LS-121,32 BT di Timur Laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, dengan magnitudo awal M7,0 dan kedalaman 10 kilometer. Parameter gempa kemudian diperbarui menjadi M7,7 dengan kedalaman 15 kilometer.
Data dari GeoForschungsZentrum atau GFZ Jerman mencatat episentrum pada koordinat 8,375 LS-121,545 BT dengan magnitudo M6,25 pada kedalaman 10 kilometer.
Mengapa guncangan gempa ini terasa sampai ke Bali dan Sulawesi Selatan?
Lokasi episenter berada di laut. Daerah terdekat memiliki morfologi yang beragam, mulai dari dataran, berombak, bergelombang, perbukitan, hingga pegunungan. Wilayah tersebut tersusun atas batuan gunung api berumur Tersier serta batuan sedimen berumur Kuarter.
Kondisi geologi ini menjadi salah satu faktor yang memperkuat guncangan di permukaan. Batuan yang telah mengalami pelapukan maupun sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi.
Berdasarkan data tapak lokal Vs30, daerah sekitar episenter terklasifikasi dalam Kelas Tanah C, Kelas Tanah D, dan Kelas Tanah E. Keberadaan kelas tanah yang lebih lunak ini berarti potensi guncangan gempa bumi di area tersebut terasa lebih intens.
Apa penyebab utama gempa tektonik ini?
Berdasarkan parameter sumber, gempa tersebut memiliki mekanisme sesar naik yang berasosiasi dengan Zona Sesar Naik Busur Belakang Flores atau _Flores Back Arc Thrust_. Zona ini memang merupakan salah satu sumber gempa aktif di wilayah Nusa Tenggara. Berdasarkan peta zonasi, daerah tersebut berada dalam Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi Menengah hingga Tinggi.
Apakah kondisi ini pernah terjadi sebelumnya?
Sesar naik busur belakang Flores, tercatat pernah menyebabkan gempa bumi merusak dan beberapa diantaranya memicu tsunami. Gempa bumi yang diikuti tsunami diantaranya gempa bumi Flores Utara pada tahun 1961 dan gempa bumi Flores tahun 1992. Gempa bumi yang merusak lainnya melanda Pulau Flores diantaranya gempa bumi Solor pada tahun 1982 dan Gempa bumi Manggarai tahun 2003.
Seberapa kuat guncangan yang tercatat di lapangan?
Berdasarkan informasi BMKG, intensitas guncangan tercatat IV-V MMI di Ruteng, V MMI di Kota Bima dan Kabupaten Dompu, serta IV-V MMI di Ende, Labuan Bajo, Maumere, dan Sumba Timur. Artinya guncangan cukup kuat dan berpotensi menimbulkan kerusakan pada bangunan yang tidak tahan gempa.
Badan Geologi Kementerian ESDM mengungkapkan terdapat indikasi bencana likuifaksi di wilayah Waekokak usai terjadi gempa di Flores. Bisa dijelaskan?
Indikasi tersebut berupa adanya mata air yang keluar beberapa saat usai gempa terjadi. Jenis likuifaksi berupa semburan air berpasir atau lumpur. Dampak yang ditimbulkan dari likuifaksi ini adalah kerusakan tanah, pondasi yang relatif rendah hingga sedang. Likuifaksi yang terjadi tidak seperti di Palu.
Likuifaksi ini masih dalam kategori relatif aman dan bukan seperti kasus likuifaksi tipe Palu yang dapat mengalir jauh. Kami masih perlu memastikan dengan identifikasi lapangan untuk memastikan apakah likuifaksi atau bukan.
Apa imbauan Badan Geologi kepada masyarakat pascagempa ini?
Kami meminta masyarakat tetap tenang dan waspada, mengikuti arahan BPBD setempat, memeriksa kondisi bangunan, serta mematuhi rambu dan jalur evakuasi.
Masyarakat juga diminta untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait gempa bumi dan tsunami. Kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan tetap perlu dijaga. Sementara itu, warga diimbau menghindari area tebing yang berpotensi mengalami pergerakan tanah, terutama saat kondisi hujan.

- bencana geologi
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Bukan Sekadar Hujan, Badan Geologi Ungkap “Bom Waktu” di Balik Longsor Cisarua
-
Layanan Pemeriksaan Mata Gratis untuk Warga Pesisir Asilulu Maluku Tengah
-
Infinity Continuity dan Campaign for Good Satukan Pemimpin Korporasi dan Sosial untuk Memperkuat Ketahanan Bisnis di Indonesia
-
Musim Kemarau, Disdamkar Garut Imbau Warga Waspada Potensi Kebakaran Rumah dan Lahan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.