Akupunktur Jadi Terapi Pendukung Pemulihan Cedera Olahraga
Kamis, 10 Sep 2026, 18:02 WIBJAKARTA â Meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga tidak selalu diikuti dengan persiapan fisik dan latihan penguatan otot yang memadai. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko cedera, mulai dari nyeri otot dan kram hingga cedera pada tendon, ligamen, maupun otot.
Dalam proses pemulihan, akupunktur dapat digunakan sebagai terapi pendukung yang dikombinasikan dengan penanganan medis, fisioterapi, dan program rehabilitasi. Terapi ini antara lain ditujukan untuk membantu mengurangi nyeri, merelaksasi otot, serta mendukung pemulihan fungsi tubuh setelah cedera.
Dokter Spesialis Akupunktur Medik Subspesialis Analgesi dan Anestesi RS Pondok Indah â Pondok Indah dan RS Pondok Indah â Bintaro Jaya, dr. R. Handaya Dipanegara, M.Kes., Sp.Akp., Subsp. A.A. (K), mengatakan bahwa cedera olahraga dapat terjadi karena berbagai faktor.
Menurut dia, olahraga pada dasarnya merupakan bagian penting untuk menjaga kesehatan, kebugaran, dan kualitas hidup. Aktivitas fisik yang dilakukan secara terencana dan terstruktur dapat meningkatkan kebugaran serta mendukung fungsi jantung, paru-paru, otot, dan metabolisme.
Namun, olahraga juga memberikan beban mekanik dan fisiologis terhadap tubuh. Intensitas latihan yang terlalu tinggi, teknik gerakan yang tidak tepat, postur tubuh yang kurang optimal, kurangnya latihan penguatan otot, pemanasan dan pendinginan yang tidak memadai, hingga kurangnya waktu pemulihan serta asupan nutrisi dapat meningkatkan risiko munculnya keluhan maupun cedera.
"Akupunktur berperan sebagai terapi kombinasi yang mendukung pemulihan cedera olahraga, membantu mengurangi keluhan delayed onset muscle soreness (DOMS), serta menunjang kebugaran dan performa olahraga," ujar dr. Handaya.
Mengenal Cedera Olahraga
Cedera olahraga merupakan cedera yang terjadi ketika seseorang melakukan latihan maupun pertandingan. Cedera dapat disebabkan oleh benturan langsung ataupun aktivitas fisik yang berlebihan.
Tingkat keparahannya pun beragam. Cedera ringan dapat berupa nyeri otot, kram, atau keseleo ringan. Sementara itu, cedera yang lebih berat dapat melibatkan robekan otot, ligamen, maupun tendon, dislokasi, hingga patah tulang.
Pada fase awal cedera, pertolongan pertama menjadi bagian penting untuk mencegah kerusakan jaringan yang lebih parah. Salah satu pendekatan yang dikenal adalah metode PRICE, yakni Protect, Rest, Ice, Compression, dan Elevation.
Protect dan rest dilakukan dengan melindungi serta mengistirahatkan bagian tubuh yang mengalami cedera untuk mencegah trauma lanjutan. Selanjutnya, ice atau kompres dingin dapat digunakan untuk membantu meredakan nyeri, sedangkan compression dilakukan dengan memberikan tekanan menggunakan balutan yang aman untuk membantu mengontrol pembengkakan.
Tahap berikutnya adalah elevation, yakni menempatkan bagian tubuh yang cedera lebih tinggi daripada posisi jantung. Cara ini ditujukan untuk membantu mengurangi penumpukan cairan pada area yang mengalami cedera.
Menurut dr. Handaya, pemulihan cedera olahraga tidak semata-mata bertujuan menghilangkan rasa sakit. Pemulihan juga perlu diarahkan untuk mengembalikan fungsi tubuh, memperbaiki pola gerak, mencegah cedera berulang, dan memastikan seseorang dapat kembali berolahraga secara aman.
Pendekatan tersebut dapat dirangkum dalam konsep singkatan OLAHRAGA, yang mencakup Obati nyeri, Latihan daya tahan, Analisis penyebab cedera, Hilangkan trauma, Relaksasi melalui peregangan, Atasi bengkak, Gerakan berlebihan dihindari, dan Akupunktur sebagai terapi pendukung
Bagaimana Akupunktur Membantu Pemulihan?
Akupunktur dilakukan dengan menusukkan jarum berukuran sangat halus pada titik-titik tertentu di tubuh. Dalam akupunktur medik, prosedur tersebut diintegrasikan dengan ilmu kedokteran modern yang mempertimbangkan anatomi, fisiologi, patologi, serta prinsip kedokteran berbasis bukti (evidence-based medicine).
Karena itu, akupunktur medik tidak hanya mempertimbangkan titik akupunktur berdasarkan pendekatan tradisional, tetapi juga struktur jaringan, persarafan, pembuluh darah, otot, serta respons biologis tubuh terhadap rangsangan jarum.
Tindakan tersebut dapat menimbulkan rangsangan mekanik ringan pada jaringan. Rangsangan kemudian berinteraksi dengan sistem saraf dan berbagai mekanisme biologis lokal.
Menurut dr. Handaya, respons tersebut antara lain dapat melibatkan mediator kimia tubuh seperti histamin, prostaglandin, dan nitric oxide (NO). Pelepasan mediator tersebut berhubungan dengan pelebaran pembuluh darah dan peningkatan aliran darah di sekitar area yang mendapatkan stimulasi.
Peningkatan sirkulasi lokal membantu distribusi oksigen dan nutrisi ke jaringan. Sirkulasi yang lebih baik juga mendukung proses metabolisme serta pemulihan jaringan.
Pada jaringan seperti otot, tendon, atau ligamen yang mengalami cedera, proses pemulihan membutuhkan berbagai tahapan biologis, termasuk pembentukan kolagen yang berperan penting terhadap kekuatan dan elastisitas jaringan.
Akupunktur juga memberikan stimulasi terhadap sistem saraf. Stimulasi tersebut memengaruhi pelepasan berbagai neurotransmiter dan mediator, termasuk endorfin, enkefalin, serta serotonin, yang berkaitan dengan mekanisme pengaturan nyeri.
"Dengan menurunnya persepsi nyeri, otot dapat menjadi lebih rileks dan pasien diharapkan dapat menjalani latihan rehabilitasi dengan lebih nyaman," kata dr. Handaya.
Bukan Pengganti Rehabilitasi Utama
Meski dapat digunakan untuk membantu proses pemulihan, akupunktur bukan pengganti penanganan utama cedera olahraga.
Terapi ini menjadi bagian dari pendekatan multimodal yang melibatkan pengobatan medis, fisioterapi, latihan rehabilitasi, serta evaluasi dokter. Jenis terapi dan frekuensi akupunktur perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Hal ini penting karena jenis cedera olahraga sangat beragam. Penanganan cedera otot ringan tentu berbeda dengan cedera ligamen, tendon, dislokasi, atau patah tulang.
Oleh karena itu, pemeriksaan medis sangat diperlukan terutama ketika nyeri menetap, fungsi anggota tubuh terganggu, terjadi pembengkakan signifikan, atau terdapat kecurigaan cedera yang lebih serius.
Potensi untuk Kebugaran dan Performa
Akupunktur juga digunakan sebagai terapi pendukung bagi sebagian pegiat olahraga yang tidak sedang mengalami cedera. Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam kebugaran adalah kapasitas aerobik atau $\text{VO}_2\text{max}$.
$\text{VO}_2\text{max}$ menggambarkan kemampuan maksimal tubuh dalam menggunakan oksigen ketika melakukan aktivitas fisik intens. Parameter tersebut berkaitan dengan kemampuan sistem pernapasan, jantung, pembuluh darah, darah, dan otot dalam mengambil, mengantarkan, serta memanfaatkan oksigen.
dr. Handaya menjelaskan, dukungan terhadap sirkulasi dan kondisi otot menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam penggunaan akupunktur pada pegiat olahraga.
Selain oksigen, tubuh membutuhkan adenosine triphosphate (ATP) sebagai sumber energi utama untuk kontraksi otot dan berbagai fungsi sel. ATP diproduksi melalui proses metabolisme berbagai zat giziâtermasuk karbohidrat, lemak, dan proteinâdengan mitokondria sebagai salah satu pusat utama produksi energi di dalam sel.
Namun, kebugaran dan performa olahraga tidak dapat bergantung pada satu jenis terapi saja. Latihan yang sesuai, pemulihan yang cukup, asupan nutrisi, kualitas tidur, serta evaluasi medis tetap menjadi bagian utama dalam menjaga kondisi tubuh.
Dengan demikian, akupunktur lebih tepat ditempatkan sebagai terapi pendukung dalam rangkaian penanganan dan pemulihan, bukan sebagai pengganti latihan fisik ataupun rehabilitasi.
Apakah Akupunktur Sakit?
Salah satu kekhawatiran yang sering muncul adalah rasa sakit ketika jarum ditusukkan. Padahal, jarum akupunktur berukuran sangat halus dan berbeda dengan jarum suntik yang biasa digunakan untuk pemberian obat.
Sensasi yang dirasakan pasien dapat berbeda-beda. Sebagian pasien merasakan sensasi ringan, seperti hangat, pegal halus, atau sedikit berdenyut ketika mendapatkan stimulasi.
Kapan Akupunktur Dapat Dilakukan?
Akupunktur dapat dipertimbangkan setelah pertolongan pertama dilakukan dan berdasarkan kondisi cedera serta anjuran dokter. Waktu dimulainya terapi, jumlah sesi, dan durasinya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Pada cedera akut, evaluasi medis tetap menjadi langkah paling penting untuk memastikan tidak ada kerusakan jaringan berat yang membutuhkan penanganan operasi atau tindakan khusus lainnya.
Tetap Perlu Penanganan Komprehensif
Akupunktur dapat menjadi salah satu pilihan terapi pendukung dalam pemulihan cedera olahraga. Manfaat yang diharapkan antara lain membantu mengurangi nyeri dan ketegangan otot, mendukung fleksibilitas serta ruang gerak, dan membuat pasien lebih nyaman menjalani proses rehabilitasi.
Namun, keberhasilan pemulihan tetap dipengaruhi oleh banyak faktor. Penanganan perlu disesuaikan dengan jenis dan tingkat keparahan cedera, sementara latihan rehabilitasi harus dilakukan secara bertahap.
Bagi masyarakat yang mengalami cedera saat berolahraga atau merasakan nyeri otot yang tidak kunjung membaik, pemeriksaan medis secara komprehensif sangat diperlukan
- Fisioterapi
- Olahraga
- Kebugaran
- Akupunktur
- Nyeri Otot
- RS Pondok Indah
- kesehatan
- Rehabilitasi
- Cedera Olahraga
- Terapi Nyeri
- pemulihan cedera
- DOMS
- akupunktur medik
- performa olahraga
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Turki Siapkan Paket Senjata dan Korea Utara Kirim 50.000 Tentara ke Russia: Apa Saja yang Kita Ketahui Perang Ukraina Hari ke-1.629?
-
MagangHub Buka Peluang Peserta Berlanjut Jadi Pekerja.
-
Clear Gandeng Shin Tae-yong Bina Talenta Muda Sepak Bola Indonesia
-
Kemensos Bedah 50 Rumah Tak Layak Huni di Natuna, Warga Kurang Mampu Terima Bantuan Rp20 Juta
-
Gelombang Panas Hantam Prancis, Panen Jagung Anjlok 35 Persen ke Level Terendah Sejak 1980
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.