FIFA Tegaskan Infantino Maju Lagi, Konflik dengan UEFA Makin Memanas

Selasa, 08 Sep 2026, 00:30 WIB

PARIS — Gianni Infantino dipastikan kembali mencalonkan diri dalam pemilihan Presiden FIFA yang akan digelar Maret 2027. Kepastian tersebut disampaikan FIFA meski Infantino terus mendapat sorotan menyusul rencana kontroversialnya yang kini telah dibatalkan untuk membuka investasi swasta dalam ajang Piala Dunia.

"Presiden FIFA telah mengumumkan pada April bahwa dia akan mencalonkan diri kembali pada 2027. Tentu saja, tidak ada yang berubah. Infantino akan mencalonkan diri kembali," kata juru bicara FIFA, Senin (7/9).

Ket. Foto: Gianni Infantino. — Sumber: FIFA

Infantino, 56 tahun, berada di bawah tekanan sejak rencana FIFA Forward Enterprise (FFE) mencuat pada akhir Juli. Program tersebut sempat diarahkan untuk membuka peluang investasi swasta dalam berbagai kegiatan FIFA sebelum akhirnya ditinggalkan setelah mendapat penolakan keras dari sejumlah pihak.

Untuk pertama kalinya sejak kontroversi tersebut mencuat, FIFA kembali menegaskan niat Infantino untuk mencalonkan diri dalam pemilihan tahun depan.

Jika kembali terpilih, mantan Sekretaris Jenderal UEFA itu akan menjalani periode keempat sekaligus terakhirnya sebagai orang nomor satu di sepak bola dunia. Masa jabatannya akan berlangsung hingga 2031.

Infantino saat ini berada di Polandia untuk menghadiri Piala Dunia Putri U-20. Namun, ia memilih tidak memberikan komentar ketika ditanya wartawan mengenai rencana politiknya pada Sabtu.

Infantino Masih Jadi Satu-satunya Kandidat

Sejauh ini, Infantino masih menjadi satu-satunya kandidat yang secara resmi menyatakan diri maju dalam pemilihan tersebut. Namun, posisi itu berpotensi berubah menjelang batas akhir pendaftaran kandidat pada 18 November.

Konflik paling keras datang dari UEFA. Konfederasi sepak bola Eropa itu bahkan menuduh Infantino melakukan "salah urus secara kriminal" terkait rencana FIFA Forward Enterprise.

UEFA menjadi pihak yang paling vokal menentang rencana tersebut. Mereka sempat mengancam akan memboikot seluruh kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia putra dan putri, jika proposal investasi swasta tersebut tidak dihentikan.

Ancaman boikot akhirnya dicabut pada 27 Agustus, menjelang Piala Dunia Putri U-20 di Polandia. Namun, keputusan tersebut tidak berarti UEFA mengubah sikap terhadap kepemimpinan Infantino.

UEFA tetap meyakini bahwa Infantino harus meninggalkan jabatannya.

Badan sepak bola Eropa tersebut bahkan telah mengajukan permintaan di Amerika Serikat untuk mendapatkan dokumen terkait rencana FIFA Forward Enterprise dari FIFA dan sejumlah mitranya.

Jika berhasil memperoleh dokumen tersebut, UEFA menyatakan akan mempertimbangkan pengajuan gugatan hukum di Swiss. UEFA mengklaim telah mendapatkan jaminan bahwa kasus tersebut memenuhi persyaratan untuk diproses di pengadilan Swiss.

Dalam perlawanannya terhadap Infantino, UEFA juga mendapat dukungan dari dua konfederasi besar lainnya, yakni CONCACAF dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).

Ketiga konfederasi tersebut terus memberikan tekanan dan bahkan berkolaborasi dalam surat terbuka yang diterbitkan bulan lalu.

"Kepemimpinan dalam sepak bola bukanlah sebuah kepemilikan. Ini bukan soal mempertahankan atau menuntut kekuasaan untuk dipertahankan," demikian isi surat tersebut.

Presiden CONCACAF Victor Montagliani kini disebut sebagai kandidat yang paling berpeluang menantang Infantino. Sementara itu, Presiden UEFA Aleksander Ceferin telah menyatakan tidak akan mencalonkan diri.

Menariknya, Montagliani sebelumnya dikenal sebagai salah satu sekutu dekat Infantino. Namun, hubungan tersebut mulai berubah, terutama setelah ia mengambil jarak dari rencana investasi swasta dalam Piala Dunia yang kini telah dibatalkan.

Bahkan sebelum polemik FFE mencuat, Montagliani disebut memiliki pandangan berbeda dengan Infantino mengenai arah dan tujuan FIFA.

Meski mendapat tekanan dari Eropa, Infantino tidak kekurangan dukungan.

Arab Saudi, yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034, menyatakan dukungannya terhadap Infantino pada bulan lalu. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) dan Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL) juga disebut memberikan dukungan kepada presiden FIFA tersebut.

FIFA sendiri balik menyerang UEFA. Pada awal September, FIFA menuduh UEFA melakukan "kampanye pencemaran nama baik" serta melakukan "ekspedisi mencari-cari kesalahan" terhadap Infantino.

Dengan 211 federasi nasional yang menjadi anggota FIFA, Infantino hanya membutuhkan mayoritas sederhana untuk memperpanjang masa kepemimpinannya.

Infantino pertama kali terpilih sebagai Presiden FIFA pada 2016 dan kembali mendapatkan mandat pada 2023. Jika terpilih lagi tahun depan, ia akan memimpin FIFA hingga 2031.

Namun, dengan batas waktu pencalonan yang masih terbuka hingga 18 November, persaingan menuju pemilihan Presiden FIFA 2027 dipastikan masih jauh dari kata selesai.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.