US Open: Tsitsipas Bicara tentang Hilangnya Seni Backhand Satu Tangan di Laga Grand Slam
Selasa, 08 Sep 2026, 00:08 WIBNEW YORK â Kemenangan Ben Shelton atas Stefanos Tsitsipas di US Open, Senin (7/9), bukan sekadar memastikan tiket ke perempat final bagi petenis Amerika Serikat tersebut. Hasil itu juga menandai berakhirnya sebuah tradisi panjang dalam sejarah tenis Grand Slam.
Untuk pertama kalinya sejak Wimbledon 1877, tidak ada satu pun pemain dengan backhand satu tangan yang tersisa di babak perempat final tunggal putra sebuah ajang Grand Slam. Dengan tersingkirnya Tsitsipas, rangkaian sejarah selama 149 tahun tersebut akhirnya terhenti di New York.
Backhand satu tangan, yang dikenal sebagai salah satu pukulan paling elegan dalam tenis, perlahan kehilangan tempat di tengah perkembangan permainan modern yang semakin mengandalkan kekuatan, kecepatan, dan konsistensi. Pukulan dua tangan kini menjadi pilihan mayoritas pemain profesional.
Padahal, selama puluhan tahun, backhand satu tangan menjadi bagian penting dari identitas sejumlah legenda tenis. Roger Federer dan Stan Wawrinka merupakan dua figur modern yang paling identik dengan pukulan tersebut. Sebelumnya, tradisi itu diteruskan oleh nama-nama besar seperti John McEnroe dan Ivan Lendl pada era 1980-an, kemudian Pete Sampras, Stefan Edberg, dan Gustavo Kuerten pada dekade 1990-an.
Shelton bahkan menjadi sosok yang menghabisi dua pemain pengguna backhand satu tangan dalam perjalanannya di US Open tahun ini. Pada babak ketiga, ia menyingkirkan Denis Shapovalov yang juga menggunakan backhand satu tangan. Berikutnya, Tsitsipas menjadi korban di babak 16 besar. Shelton menang telak 6-2, 6-3, 6-4 dan melangkah ke perempat final.
Tsitsipas mengaku menyadari betapa drastisnya perubahan tersebut. Ia membandingkan kondisi tenis saat ini dengan era 1950-an, ketika hampir seluruh pemain masih menggunakan backhand satu tangan.
"Saya melihatnya. Pada 1950-an, saya kira 97 atau 98 persen pemain menggunakan backhand satu tangan," kata Tsitsipas setelah pertandingan. "Sekarang secara harfiah hanya dua atau tiga persen."
Menurut petenis Yunani itu, semakin langkanya backhand satu tangan merupakan sesuatu yang patut disayangkan, meski ia tidak menganggapnya sebagai ancaman terhadap masa depan olahraga tersebut.
"Ini adalah pukulan yang sangat tradisional dan klasik. Jadi, sayang sekali jika pukulan seperti itu hilang. Apakah ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk mengatasinya? Saya kira ada. Apakah dunia akan berakhir jika tidak ada lagi yang memainkan backhand satu tangan? Tidak. Tenis akan tetap berjalan seperti sekarang," ujarnya.
Tsitsipas juga menilai hilangnya variasi gaya bermain menjadi salah satu konsekuensi dari evolusi tenis modern.
Menurut dia, tenis pada masa lalu menawarkan lebih banyak karakter dan pendekatan permainan. Namun, perkembangan teknologi raket, tuntutan fisik, serta karakter lapangan membuat permainan semakin mengarah pada satu pola yang seragam.
"Dulu tenis dimainkan dengan begitu banyak variasi gaya dan variasi itu kini menyempit menjadi satu gaya tertentu, ketika semua orang bermain dengan cara yang sama. Lapangan juga menjadi lebih lambat," kata Tsitsipas.
Tsitsipas merindukan era ketika setiap pemain memiliki karakter permainan yang lebih mudah dibedakan. "Anda tidak lagi melihat banyak kepribadian di lapangan. Dulu ada pemain yang mengandalkan servis dan voli. Ada juga yang bermain dengan cara berbeda, pemain yang mengandalkan counter-punch, maupun mereka yang bertahan," tuturnya.
"Sekarang semuanya menyempit menjadi satu gaya permainan. Padahal, yang dulu membuat tenis begitu menarik adalah adanya pemain yang bermain dengan cara tertentu, sementara pemain lain menggunakan pendekatan yang berbeda."
Menurut Tsitsipas, fenomena tersebut juga tercermin dari nasib backhand satu tangan.
"Hal yang sama juga terjadi pada backhand satu tangan," katanya.
Tersingkirnya Tsitsipas sekaligus mempertegas perubahan besar dalam tenis putra. Pukulan yang dahulu menjadi simbol keanggunan dan variasi kini semakin terpinggirkan oleh tuntutan permainan modern yang mengutamakan stabilitas, kekuatan, dan kemampuan bertahan dalam reli-reli panjang.
Bagi para tradisionalis tenis, berakhirnya rangkaian 149 tahun tersebut tentu menjadi kehilangan. Namun bagi olahraga yang terus berkembang, perubahan itu menjadi bagian dari evolusi permainan.
- Stefanos Tsitsipas
- Ben Shelton
- US Open 2026
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Bertani dengan Cerdas, Pemprov Jatim Latih Petani Teknik Pengendalian Hama Ramah Lingkungan
-
Denmark-Italia Layangkan Protes Keras Imigran Ilegal Eropa Sudah Tak Terkendali
-
Bea Cukai Langsa Gagalkan Penyelundupan Moge, Polda Kepri Ungkap Penyelundupan 51 Ayam Bangkok
-
Menaker Buka Pemagangan Nasional 2026
-
BUMN Siap Melantai, Danantara Bidik Dana Pasar Modal
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.