Abu Vulkanik Bukan Sekadar Debu! Ini Bahayanya bagi Penderita Penyakit Pernapasan

Selasa, 08 Sep 2026, 00:14 WIB

JAKARTA - Guru besar di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. Faisal Yunus, Ph.D., Sp.P(K) menyampaikan bahwa paparan abu vulkanik bisa membahayakan penderita penyakit pernapasan.

"Itu orang dengan sudah ada penyakit parunya, maka bertambah berbahaya, karena dengan dia enggak ada itu (paparan abu) saja, dia sudah susah bernapasnya," katanya ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta pada Senin.

Ket. Foto: Anggota Dharma Wanita membagikan masker kepada pengendara sepeda motor di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Senin (7/9), guna membantu menekan dampak paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terhadap kesehatan. — Sumber: Antara foto

"Berbahayanya apa? Sering timbul serangan-serangan nafas, yang disebut namanya eksaserbasi. Jadi pada debu vulkanik ini yang ditakutkan begitu, orang-orang asma, PPOK, itu timbul eksaserbasi dengan segala konsekuensinya," katanya.

Dia menyampaikan bahwa abu vulkanik bisa mengandung partikel halus yang bila terhirup dan masuk ke saluran pernapasan bisa memicu masalah pernapasan.

Menurut dia, partikel yang berukuran 5–10 mikron dapat mencapai saluran napas bagian atas dan partikel berukuran 3–5 mikron dapat masuk hingga saluran napas tengah.

Partikel halus yang berukuran 1–3 mikron, ia melanjutkan, apabila terhirup dapat membahayakan kesehatan, terutama pada orang yang telah menderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan tuberkulosis.

Dia mengatakan bahwa partikel halus yang ukurannya kurang dari itu disebut debu respirabel karena bisa masuk sampai ke alveolus di paru-paru, tempat terjadinya pertukaran gas.

Partikel halus yang masuk ke alveolus dapat mengganggu pendistribusian oksigen, yang antara lain berperan dalam respirasi seluler dan produksi energi, mendukung fungsi otak dan saraf, membantu kinerja jantung dan sirkulasi darah, serta menjaga sistem kekebalan tubuh.

"Sehingga dengan sendirinya akan mengganggu orang untuk bernapas, melakukan aktivitas. Itu kalau orang normal. Bayangkan kalau orangnya enggak normal, sudah ada kelainan paru," kata Prof. Faisal mengenai efek paparan partikel halus.

"Penyakit apa saja yang berbahaya (akibat) debu ini, ada asma, orang PPOK. Nah orang ini dengan debu ini bisa terjadi serangan yang kita sebut namanya eksaserbasi," ia menambahkan.

Guna menekan dampak paparan abu vulkanik terhadap kesehatan, Prof. Faisal menyarankan penderita penyakit pernapasan mengurangi aktivitas di luar rumah.

Jika terpaksa beraktivitas di luar rumah, ia melanjutkan, maka sebaiknya mereka memakai masker N95.

Selain itu, menurut dia, penderita penyakit pernapasan sebaiknya menyiapkan stok obat yang sewaktu-waktu bisa digunakan kalau mengalami gejala gangguan pernapasan.

"Begitu ada gejala, cepat dipakai obatnya, baik untuk asma maupun PPOK, untuk mengurangi kemungkinan timbulnya serangan," katanya.

"Yang kita takutkan itu serangan. Kadang-kadang itu bisa berakibat fatal serangan itu," ia menambahkan.

Beberapa gunung berapi di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan, yakni Gunung Anak Krakatau, Gunung Ibu, Gunung Semeru, Gunung Lewotobi Laki-laki, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Sinabung.

Menurut informasi yang dibagikan melalui akun media sosial Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda pada 7 September 2026 pukul 15.00 WIB terdeteksi menyebar ke arah Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.