Harga Pangan Bergerak, Produksi dan Pasokan Terus Diawasi
📅 Senin, 07 Sep 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menegaskan pemerintah tetap mencermati perkembangan produksi dan tidak menganggap ringan tantangan yang dihadapi petani. Terlebih lagi, kondisi iklim saat ini memberikan tekanan terhadap sektor pertanian.
Namun, berbagai langkah mitigasi telah disiapkan pemerintah untuk menjaga produksi tetap aman. Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat pompanisasi dan irigasi, meningkatkan produktivitas, serta mendorong penggunaan benih yang lebih tahan terhadap kekeringan.
“Dan wajar (terjadi penurunan produksi), karena ada kondisi iklim, tetapi dengan penurunan itu luar biasa kan ini iklim ekstrem El Nino Godzilla. Makanya kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah,” ujar Mentan Amran di Jakarta, akhir pekan lalu.
Amran mengatakan pemerintah telah melakukan persiapan jauh sebelumnya untuk mengantisipasi dampak El Nino. Selain memastikan ketersediaan air melalui pompanisasi dan irigasi, pemerintah juga mendorong peningkatan produktivitas melalui teknologi budidaya.
“Nah sekarang El Nino dampaknya insyaallah kita mitigasi, kenapa? Kita sudah persiapan jauh sebelumnya. Satu pompanisasi, dua irigasi, tiga kita tingkatkan produksi dua kali lipat nih seperti ini (PM AAS), dari 5 ton jadi 10 ton, 6 ton menjadi 11 ton. Kemudian ada benih yang tahan kekeringan,” jelasnya.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga produksi pangan di tengah tantangan iklim. Pemerintah tidak hanya menjaga luas panen, tetapi juga mendorong produktivitas agar produksi per hektare terus meningkat.
Dirinya optimistis produksi beras nasional aman meski Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan adanya penurunan tipis produksi beras pada Januari-Oktober 2026. Menurutnya, proyeksi penurunan produksi yang disampaikan BPS perlu dilihat secara proporsional jika dibandingkan total produksi nasional.
BPS memperkirakan produksi beras nasional Januari-Oktober 2026 mencapai 31,41 juta ton, turun 0,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai sekitar 31,44 juta ton. Sementara produksi padi dalam bentuk gabah kering giling (GKG) diproyeksikan mencapai 54,52 juta ton, juga turun 0,08 persen.
Basis Produksi
Mentan menilai angka tersebut perlu dilihat secara proporsional dengan total produksi nasional. Dengan basis produksi sekitar 34,7 juta ton, penurunan 0,08 persen hanya setara sekitar 30 ribu ton. “(Penurunan) 0,08 persen coba dikali 34,7 juta ton produksi beras nasional. 0,08 persen itu hanya 30 ribu ton, kecil sekali (dibandingkan 34,7 juta ton),” kata Mentan Amran.
Mentan optimistis kondisi produksi nasional juga masih berada dalam situasi yang kuat karena Indonesia mencatat surplus pangan. Ia menyebut Indonesia mencatat surplus sekitar 4 juta ton pada tahun lalu dan kembali berada dalam kondisi surplus pada tahun ini.
“Tahun lalu surplus 4 juta ton, tahun ini juga kan. 30 ribu ton hilang (susut produksi). Sementara kita 4 juta ton dua kali surplus bagaimana?” ungkapnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!