Anak Krakatau Masih Bisa Meletus, Gempa Susulan NTT Mencapai 13.156

Senin, 07 Sep 2026, 07:28 WIB

JAKARTA – Gunung Anak Krakatau di Banten masih bisa Meletus sewaktu-waktu. Masyarakat tetap diminta waspada. Sedangkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat wilayah Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dilanda total gempa susulan 13.156 kali sejak gempa utama pada 15 Agustus 2026.

Berdasarkan data BMKG yang diunggah di akun Instagram @infobmkg  pukul 05.00 WIB, Senin, dari ribuan gelombang gempa itu, tercatat guncangan paling tinggi dengan magnitude 6,2.

Ket. Foto: letusan krakatau — Sumber: ist

Sedangkan magnitudo terkecil 0,9. BMKG juga mencatat ada 36 kali gempa dengan magnitudo lebih dari 5.

Dari ribuan gelombang gempa yang tercatat, BMKG menyebut hanya 177 kali gempa yang benar-benar dirasakan warga.

Anak Krakatau

Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM menyatakan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau saat ini terpantau mengalami penurunan, namun potensi terjadinya erupsi susulan dipastikan masih tetap ada.

Kepala PVMBG Rita Susilawati, di Serang, Minggu, menyampaikan bahwa meskipun alat pemantauan mencatat tren penurunan, hal tersebut tidak mengindikasikan bahwa aktivitas gunung api di perairan Selat Sunda itu telah sepenuhnya berhenti.

"Memang saat ini alat pemantauan kami memonitor aktivitas Gunung Anak Krakatau menurun, tetapi menurunnya itu bukan berarti akan berhenti aktivitas nya. Kemungkinan masih akan terjadi erupsi," katanya usai meninjau Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Kabupaten Serang.

Guna mengantisipasi potensi bahaya tersebut, PVMBG terus melakukan pemantauan ketat selama 24 jam penuh. Rita memastikan seluruh hasil pengamatan akan selalu dikomunikasikan kepada pemerintah daerah setempat, terutama apabila terjadi perubahan rekomendasi penanganan kebencanaan.

Terkait sebaran material erupsi, Rita mengingatkan warga dan otoritas terkait untuk mewaspadai pergerakan abu vulkanik yang arahnya sangat bergantung pada embusan angin dan bisa berubah setiap hari. Pada 6 September, sebaran abu tercatat mengarah ke wilayah barat, bagian selatan Selat Sunda, hingga ke Samudra Hindia.

"Kami memonitor di sini ada beberapa stasiun pengamatan, bekerja sama dengan BMKG dan juga ada stasiun di Australia yang kita bisa bersama-sama memantau perubahan arah angin untuk abu ini, karena abu ini juga akan memengaruhi penerbangan," ujarnya.

Langkah ini dinilai sangat krusial guna memberikan peringatan dini demi memastikan keselamatan rute penerbangan atau aviasi. Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). Rita menegaskan bahwa penetapan status kesiagaan ini tidak diukur semata dari besar atau kecilnya skala letusan, melainkan dari tingkat ancaman bahayanya terhadap masyarakat yang berada di sekitar kawasan tersebut.

Mengingat erupsi yang terus-menerus terjadi dapat mengancam warga serta nelayan, PVMBG merekomendasikan larangan beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah.

"Kapan erupsi nya secara persis itu tidak bisa kita ketahui. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan pemantauan dan membaca tanda-tandanya," tutup Rita.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.