NBA Jatuhkan Denda 475 Miliar Rupiah kepada Clippers Terkait Pelanggaran Gaji Kawhi Leonard

Jumat, 04 Sep 2026, 00:20 WIB

NEW YORK – NBA menjatuhkan hukuman terbesar dalam sejarah liga kepada Los Angeles Clippers setelah penyelidikan menemukan pelanggaran serius terhadap aturan salary cap yang melibatkan bintang mereka, Kawhi Leonard.

Clippers dijatuhi denda 30 juta dollar AS atau sekitar 475 miliar rupiah, kehilangan lima hak pilihan putaran pertama NBA Draft, serta pemilik klub Steve Ballmer dilarang terlibat dalam seluruh aktivitas NBA dan tim selama satu tahun.

Ket. Foto: Kawhi Leonard. — Sumber: NBA

Sebagai bagian dari hukuman, Clippers harus menyerahkan hak pilihan putaran pertama NBA Draft setiap tahun mulai 2029 hingga 2033. Hukuman tersebut diberikan setelah NBA menemukan bahwa organisasi Clippers membantu Leonard menghindari aturan salary cap melalui kesepakatan dengan sejumlah sponsor korporasi klub ketika sang pemain menandatangani kontrak dengan Clippers pada 2022.

Selain Ballmer, NBA juga menjatuhkan sanksi kepada sejumlah petinggi klub. Presiden operasional bisnis Gillian Zucker diskors selama satu tahun, sedangkan presiden operasi bola basket Lawrence Frank diskors selama enam bulan.

Leonard sendiri dikenai denda 700.000 dollar AS atau sekitar 11,1 miliar rupiah.

Denda 30 juta dollar AS tersebut menjadi yang terbesar sepanjang sejarah NBA, jauh melampaui rekor sebelumnya sebesar 3,5 juta dollar AS atau sekitar 55,4 miliar rupiah yang dijatuhkan kepada Minnesota Timberwolves pada 2000 karena pelanggaran aturan salary cap.

“Saya sangat kecewa dengan pelanggaran berat terhadap aturan kami serta kegagalan institusional dan kepemimpinan Clippers yang menyebabkan terjadinya pelanggaran ini,” kata Komisaris NBA Adam Silver. “Beratnya hukuman tersebut mencerminkan seriusnya pelanggaran yang terjadi.”

Clippers langsung merespons hukuman tersebut dengan menyatakan akan melakukan perlawanan. Klub menilai proses penyelidikan NBA tidak objektif dan dibangun berdasarkan narasi yang sudah ditentukan sebelumnya.

“Kami dengan tegas menolak temuan NBA, yang merupakan hasil penyelidikan yang sangat bias dan berupaya membenarkan narasi yang telah ditentukan sebelumnya, bukan berdasarkan fakta dan bukti,” kata Clippers dalam pernyataan resmi.

Klub juga mengklaim informasi yang mereka terima langsung dari NBA berbeda dengan pengumuman hukuman yang disampaikan kepada publik.

“Selama setahun terakhir, kami telah bekerja sama sepenuhnya dan dengan itikad baik. Sekarang kami akan berjuang sama kerasnya untuk membuktikan bahwa kami tidak bersalah,” lanjut pernyataan tersebut.

“Kami bermaksud menantang temuan dan hukuman ini dengan sekuat tenaga melalui setiap jalur yang tersedia dan menantikan proses arbitrase yang etis serta tidak memihak.”

Kasus ini juga berdampak terhadap masa depan Leonard. Clippers sebelumnya telah sepakat untuk menukar Leonard ke Toronto Raptors pada Juli. Namun, Raptors memilih menunggu hasil penyelidikan NBA sebelum menyelesaikan transaksi tersebut.

“Saat saya kembali ke Toronto, fokus saya adalah pada hal-hal yang bisa saya kendalikan, menutup bab ini dan melangkah maju dengan lembaran baru,” kata Leonard.

Penyelidikan NBA berawal dari dugaan bahwa Clippers memberikan kompensasi senilai 28 juta dollar AS atau sekitar 443 miliar rupiah kepada Leonard melalui kesepakatan endorsement dengan perusahaan Aspiration yang kini telah bangkrut.

Firma hukum Wachtell, Lipton, Rosen & Katz yang melakukan penyelidikan menemukan adanya pola pelanggaran dan sejumlah pelanggaran serius terhadap aturan NBA oleh organisasi Clippers. Klub tersebut juga sebelumnya pernah tersangkut kasus pelanggaran aturan terkait upaya menghindari salary cap.

Penyelidikan menyebut Clippers memprakarsai dan memfasilitasi kesepakatan pendapatan sponsorship antara Leonard dan empat perusahaan yang menjadi sponsor korporasi klub, yakni Aspiration, Boingo Wireless, Daktronics dan Lockton Insurance.

NBA menemukan bahwa Clippers mendorong perusahaan-perusahaan tersebut membuat kesepakatan dengan Leonard dengan menawarkan peluang bisnis kepada mereka.

Klub juga disebut membayar sejumlah pengeluaran pribadi Leonard dan orang-orang yang mewakilinya serta gagal melaporkan upaya tidak semestinya dari Dennis Robertson, mantan manajer bisnis Leonard, dalam mendapatkan peluang pendapatan bagi sang pemain.

Melalui Robertson, Leonard dinilai melanggar aturan salary cap dengan memperoleh pendapatan di luar lapangan yang tidak semestinya, menekan Clippers agar membantu mendapatkan peluang tersebut, serta tidak mengganti biaya yang telah dikeluarkan klub.

Robertson kemudian dilarang berhubungan dengan tim NBA dalam kapasitas apa pun yang mewakili pemain, karyawan, maupun personel NBA atau klub selama lima tahun.

Leonard menerima tanggung jawab atas tindakan yang dilakukan oleh orang-orang di lingkaran terdekatnya. Namun, ia menegaskan tidak mengetahui adanya upaya untuk melanggar aturan salary cap.

“Integritas dan rasa hormat terhadap permainan ini merupakan bagian mendasar dari diri saya. Saya menerima tanggung jawab penuh atas kekeliruan dalam mengambil keputusan yang dilakukan orang-orang di lingkaran terdekat saya dan menyesalkan gangguan yang ditimbulkan situasi ini kepada para penggemar dan keluarga saya,” kata Leonard.

“Saya menandatangani kontrak dengan Clippers serta kesepakatan yang dimaksud dengan itikad baik, sepenuhnya berkomitmen memenuhi kewajiban saya dan tanpa mengetahui adanya niat dari siapa pun untuk menghindari aturan salary cap.”

NBA dan National Basketball Players Association (NBPA) menyepakati bahwa seluruh hukuman tersebut bersifat final dan mengikat bagi semua pihak. Meski demikian, NBA menyatakan masih akan mempertimbangkan tindakan tambahan jika diperlukan.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.