Fenomena LGBT Jadi Sorotan, MUI Bekasi Tekankan Peran Keluarga

Jumat, 04 Sep 2026, 00:15 WIB

Kabupaten Bekasi - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menyerukan penguatan ketahanan keluarga dan pendidikan karakter sebagai langkah strategis menghadapi berbagai tantangan sosial yang berkembang di kalangan generasi muda, termasuk isu lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Ketua MUI Kabupaten Bekasi KH Prof Mahmud mengatakan pendekatan yang mengedepankan dialog, pendidikan karakter, pendampingan, serta lingkungan sosial yang sehat lebih strategis dibandingkan sekadar memberikan kecaman maupun stigma.

Ket. Foto: Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bekasi KH. Prof. Mahmud. — Sumber: Antara

"Pendekatan yang mengedepankan dialog, pendidikan karakter, pendampingan dan lingkungan sosial yang sehat lebih strategis dibandingkan sekadar kecaman maupun stigma," kata Mahmud di Cikarang, Kamis.

Menurut dia, keluarga harus kembali menjadi tempat pertama bagi anak untuk memperoleh perhatian, kasih sayang, keteladanan, sekaligus ruang dialog yang aman. Kehadiran orang tua secara emosional dinilai sangat penting di tengah perubahan sosial dan derasnya pengaruh media sosial.

"Solusi permasalahan LGBT yang paling strategis bukanlah memperbanyak konflik sosial, melainkan memperkuat ketahanan keluarga. Orangtua perlu hadir secara emosional, bukan hanya secara fisik sebab anak-anak membutuhkan perhatian, dialog, kasih sayang serta figur teladan," ujarnya.

Mahmud menilai fenomena LGBT tidak dapat dilihat hanya dari satu sudut pandang. Penguatan keluarga, kata dia, perlu berjalan beriringan dengan pendidikan karakter di sekolah serta kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar.

"Sekolah diharapkan tidak hanya membangun kemampuan akademik tetapi juga menanamkan tanggung jawab, pengendalian diri, etika pergaulan serta nilai agama dan budaya," katanya.

Ia juga mendorong pendekatan keagamaan dilakukan secara ramah dan mendidik. Menurut Mahmud, dakwah seharusnya menjadi sarana membimbing masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik, bukan sekadar memberikan penghakiman.

"Dakwah yang menyejukkan sering lebih efektif dibandingkan dengan dakwah yang hanya berisi kemarahan. Tujuan agama bukan sekadar menghakimi, tetapi mengarahkan manusia menuju kehidupan yang lebih baik," katanya.

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung periode 2015-2023 itu mengatakan masyarakat Kabupaten Bekasi memiliki modal sosial yang kuat melalui budaya gotong royong, kedekatan keluarga, dan kehidupan komunal. Modal tersebut, menurut dia, perlu diperkuat agar generasi muda memiliki lingkungan yang sehat dan suportif.

Mahmud mengajak keluarga memperbanyak aktivitas bersama tanpa gawai, melibatkan remaja dalam kegiatan olahraga, seni, organisasi, maupun kegiatan sosial, menghadirkan figur teladan yang dekat dengan anak, serta membangun budaya dialog di lingkungan keluarga.

"Anak yang didengar cenderung lebih terbuka dibanding anak yang hanya dihakimi. Ketika anak tumbuh dalam keluarga yang hangat, memperoleh pendidikan moral yang baik, memiliki tujuan hidup yang jelas serta merasa dicintai dan dihargai, mereka akan lebih siap menghadapi berbagai pengaruh zaman, termasuk fenomena LGBT," ucapnya.

Ia menekankan bahwa upaya membangun generasi muda yang tangguh harus dimulai dari lingkungan terdekat. Keluarga yang kuat, pendidikan karakter yang kokoh, dan masyarakat yang peduli menjadi tiga pilar penting dalam membangun ketahanan generasi muda Kabupaten Bekasi.

"Perubahan besar dalam masyarakat tidak pernah dimulai dari ruang sidang atau media sosial, melainkan dari rumah. Rumah yang penuh kasih sayang, keteladanan dan nilai-nilai luhur akan selalu menjadi benteng pertama bagi masa depan bangsa," kata dia.

  • Kabupaten Bekasi

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.