Kehadiran Influencer di US Open Mulai Uji Batas Etika Penonton Tenis
Jumat, 04 Sep 2026, 00:35 WIBNEW YORK â Kehadiran influencer dan kreator konten dengan telepon pintar serta ring light semakin mencolok di tribun US Open tahun ini. Mereka berlomba mendapatkan perhatian di tengah salah satu ajang tenis paling bergengsi dunia, terkadang justru ketika pertandingan di lapangan sedang berlangsung.
Panitia US Open menyebut sekitar 100 kreator konten mendapat akses khusus untuk meliput turnamen tahun ini. Sebanyak 20 di antaranya bahkan secara khusus ditugaskan membuat konten mengenai kuliner dan minuman yang tersedia di kompleks turnamen.
Menu seperti nugget ayam dengan topping kaviar hingga koktail terkenal âHoney Deuceâ menjadi sasaran empuk untuk konten viral di media sosial.
Di luar kelompok kreator yang mendapat akreditasi, ribuan pemburu konten amatir juga memenuhi area plaza dan tribun. Mereka datang dengan tiket yang dibeli sendiri demi mendapatkan pengalaman sekaligus materi untuk diunggah ke media sosial.
âSaya merasa setiap Grand Slam memiliki identitasnya sendiri. US Open sepertinya selalu menjadi Grand Slam dengan pertunjukan terbesar,â kata Madison Keys, finalis US Open 2017.
Kehadiran selebritas di tribun sebenarnya bukan fenomena baru. Dari bintang Hollywood hingga Presiden Amerika Serikat Donald Trump, wajah-wajah terkenal sudah lama menjadi bagian dari atmosfer US Open.
Para penonton dari kalangan ultra-kaya bahkan rela mengeluarkan ribuan dolar untuk mendapatkan tempat duduk di ajang olahraga yang menjadi salah satu panggung paling bergengsi dalam kalender musim panas New York.
Namun, meningkatnya popularitas US Open di kalangan influencer mulai menimbulkan persoalan baru.
Pada hari Senin, seorang wasit kursi terpaksa menegur sekelompok penonton yang melakukan sesi pemotretan dan mengganggu jalannya pertandingan ketika juara US Open dua kali, Naomi Osaka, sedang melakukan servis dalam laga putaran pertama melawan Anastasia Zakharova.
Insiden lain juga memicu kritik. Seorang pengguna media sosial mengunggah sejumlah foto dirinya berpose di dalam Arthur Ashe Stadium ketika Madison Keys sedang memainkan sebuah poin melawan Alina Korneeva.
Tindakan tersebut dianggap melanggar etika dasar menonton pertandingan tenis karena dilakukan saat reli sedang berlangsung.
Jessica Pegula, runner-up US Open 2024, memahami bahwa kehadiran influencer dapat membantu memperkenalkan pengalaman menonton US Open kepada khalayak yang lebih luas. Namun, ia mengingatkan bahwa batas antara membuat konten dan mengganggu pertandingan harus tetap dijaga.
âSaya bisa memahami para influencer datang dan menunjukkan pengalaman mereka di US Open,â kata Pegula.
âTetapi menurut saya sulit ketika melihat video seperti itu, ketika mereka mengambil foto dan menggunakan lampu selfie. Ada orang-orang di lapangan yang sedang berusaha tampil, dan itu adalah karier serta pekerjaan mereka. Menurut saya, hal tersebut sedikit tidak menghormati pemain. Saya pikir semuanya mungkin sudah sedikit terlalu berlebihan.â
Fenomena tersebut tidak terlepas dari popularitas US Open yang terus meningkat. Jumlah penonton yang melonjak bahkan membuat penyelenggara memperpanjang rangkaian pertandingan babak utama menjadi 15 hari.
Turnamen juga melakukan perubahan dengan menggelar kompetisi ganda campuran sebagai ajang tersendiri pada pekan sebelum pertandingan tunggal dimulai.
Di sisi lain, tenis profesional semakin agresif memanfaatkan media sosial untuk menjangkau generasi penonton baru. Tur ATP memperluas kerja sama dengan TikTok pada awal tahun ini setelah mencatat peningkatan lebih dari 25 persen jumlah unggahan dengan tagar #tennis sepanjang 2025.
Bagi Daniil Medvedev, juara US Open 2021, peningkatan eksposur tenis di media sosial pada dasarnya merupakan perkembangan positif.
âSemakin kami berusaha meningkatkan kesadaran terhadap tenis, semakin baik. Semakin populer olahraga ini, semakin bagus,â ujar Medvedev.
Namun, ia juga memahami bahwa popularitas tersebut harus tetap dibarengi dengan penghormatan terhadap pertandingan.
âKalau memang mengganggu saat pertandingan, misalnya Anda melihat cahaya atau sesuatu yang mengganggu, tentu Anda selalu bisa menyampaikannya kepada wasit,â kata Medvedev.
âSituasinya terkadang memang menantang, terutama jika hal tersebut terjadi ketika sebuah poin sedang dimainkan.â
US Open kini berada di persimpangan antara mempertahankan tradisi tenis dan mengikuti perubahan perilaku penonton modern.
Di satu sisi, influencer memberikan promosi gratis dan memperkenalkan turnamen kepada jutaan pengguna media sosial yang mungkin sebelumnya tidak mengikuti tenis. Konten tentang makanan, suasana stadion, selebritas, hingga kehidupan di balik layar juga membantu menciptakan daya tarik baru.
Namun, di sisi lain, pertandingan tenis tetap membutuhkan konsentrasi penuh. Cahaya ring light, sesi pemotretan, atau aktivitas membuat konten saat poin berlangsung dapat mengganggu pemain dan mengubah pengalaman penonton lainnya.
US Open tampaknya harus menemukan keseimbangan: membuka pintu lebih lebar bagi era digital tanpa membiarkan budaya media sosial mengalahkan inti dari turnamen itu sendiriâpertandingan tenis di lapangan.
- us open 2026
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.