Kota Padat Mulai Bertani, Surabaya Andalkan Urban Farming Hadapi Ancaman Pangan
Jumat, 04 Sep 2026, 20:20 WIBSURABAYA â Urban farming semakin relevan di tengah keterbatasan lahan dan kebutuhan menjaga ketahanan pangan di kawasan perkotaan.
Pemanfaatan pekarangan, lahan kosong, hingga ruang-ruang terbatas dapat diubah menjadi sumber pangan produktif melalui berbagai metode seperti hidroponik, vertikultur, maupun akuaponik.
Lebih dari sekadar aktivitas bercocok tanam, urban farming berpotensi menjadi gerakan ekonomi dan sosial masyarakat.
Jika dikelola secara berkelanjutan, hasil panen tidak hanya memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga dapat dipasarkan sehingga menciptakan nilai ekonomi sekaligus memperkuat kemandirian pangan dari tingkat lingkungan.
Pemerintah Kota Surabaya memperkuat ketahanan pangan dari lingkungan perkotaan melalui pengembangan urban farming dalam rangka memperkuat ketahanan pangan yang ada di kota setempat.
Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Surabaya Anna Fajriatin di Surabaya, Jumat (4/9), mengatakan salah satu upaya yang dilakukan yaitu dengan menyelenggarakan kegiatan Surabaya Urban Farming Competition (SUFC) 2026 yang diarahkan menjadi gerakan masyarakat untuk meningkatkan produksi pangan sekaligus menjaga pasokan dan stabilitas harga komoditas.
"Program yang digelar Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya ini sudah berlangsung pada tahun kelima dengan menjadikan cabai rawit dan bawang merah menjadi komoditas utama yang dibudidayakan, dengan target panen pada awal Desember 2026," katanya.
Ia mengemukakan, urban farming disinergikan dengan program Kampung Pancasila, khususnya pada pilar lingkungan dimana Lomba Kampung Pancasila sendiri melibatkan seluruh 1.361 RW di Surabaya.
"Di tahun 2026 ini akan menjadi sebuah sinergi yang hebat. Program dari Dinas Ketahanan Pangan melalui Urban Farming Competition akan bersinergi dengan Lomba Kampung Pancasila,â kata Anna.
Menurut Anna, kolaborasi tersebut diharapkan menjadikan urban farming sebagai gerakan bersama di tingkat kewilayahan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dari lingkungan terdekat masyarakat.
âUrban farming ini tidak hanya menjadi kegiatan lomba, tetapi menjadi gerakan bersama di setiap wilayah. Dengan keterlibatan 1.361 RW, kita ingin membangun ketahanan pangan mulai dari lingkungan masing-masing,â tuturnya.
Kepala DKPP Surabaya Nanik Sukristina mengatakan SUFC 2026 mendorong masyarakat memanfaatkan berbagai ruang di kawasan perkotaan, mulai dari pekarangan rumah, lahan aset, fasilitas umum hingga lahan yang belum termanfaatkan.
âKetahanan pangan kita mulai dari skala rumah tangga. Setelah itu, secara bertahap bisa dikembangkan ke skala yang lebih luas, misalnya tingkat RW,â kata Nanik.
Tahun ini, SUFC memiliki empat kategori, yakni urban farming terintegrasi atau terpadu, kuantitas bawang merah, kuantitas cabai rawit, dan urban farming pemula.
"Kategori urban farming terpadu menjadi pembeda karena menggabungkan pertanian dengan unsur perikanan dan peternakan," tuturnya.
Nanik menjelaskan, pada kategori kelompok tani, peserta membudidayakan cabai rawit dan bawang merah. Panitia menyediakan 30 bibit bawang merah dan satu paket benih cabai rawit, sementara media tanam serta perlengkapan budidaya disiapkan secara mandiri oleh peserta.
Penanaman dan pemeliharaan dimulai 6 September 2026. Selama kompetisi, DKPP bersama pemangku kepentingan dan mitra pendukung melakukan monitoring serta pendampingan.
âYang ingin kita dorong adalah bagaimana masyarakat bisa ikut memperkuat ketahanan pangan melalui urban farming. Pengetahuan dan pengalaman selama kompetisi diharapkan dapat diterapkan dan dikembangkan di lingkungan masing-masing, sehingga produksi pangan bisa terus berjalan,â ujarnya.
- Pemkot Surabaya
- Pertanian Perkotaan
- Urban Farming
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.