Tak Mau UMKM Cuma Jadi Penonton, Pemkot Serang Bidik Rantai Pasok Industri

Jumat, 04 Sep 2026, 20:15 WIB

SERANG – UMKM selama ini dikenal sebagai penopang ekonomi, tetapi tantangan besarnya adalah bagaimana usaha kecil tidak berhenti sebagai pemain di pasar lokal.

Masuk ke rantai pasok industri dapat menjadi jalan untuk meningkatkan skala usaha melalui kepastian pasar, standar kualitas, transfer teknologi, hingga penguatan kapasitas produksi.

Ket. Foto: Ilustrasi - Kawasan industri Sawah Luhur Kota Serang, Banten. — Sumber: Istimewa.

Pemerintah pun terus mendorong kemitraan UMKM dengan industri besar agar pelaku usaha kecil benar-benar menjadi bagian dari ekosistem produksi, bukan sekadar penerima pembinaan.

Langkah ini sekaligus menjadi momentum bagi UMKM untuk naik kelas. Namun, peluang tersebut menuntut kesiapan yang lebih tinggi, terutama dalam memenuhi standar quality, cost, and delivery (QCD) serta menjaga konsistensi produksi.

Pemerintah Kota (Pemkot) Serang, Banten, tengah menyusun skema strategis guna mengintegrasikan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta Industri Kecil dan Menengah (IKM) lokal ke dalam rantai pasok berbagai sektor industri, perhotelan, hingga program Makan Siang Sekolah Bergizi.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Dinkopumkperindag) Kota Serang, Wahyu Nurjamil, di Serang, Jumat (4/9), mengatakan upaya ini dirancang agar produk lokal tidak sekadar berputar di pasar tradisional, melainkan memiliki kepastian serapan pasar yang lebih luas dan berkelanjutan.

"Pengusaha UMKM dan IKM yang ada di Kota Serang, yang berkegiatan mikro akan kita salurkan sebagai suplai kepada perusahaan-perusahaan besar, termasuk juga suplai Makan Siang Sekolah Bergizi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) maupun ke Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih," ujarnya.

Guna merealisasikan integrasi pasar yang menjamin kualitas dan kuantitas produk, Pemkot Serang memfokuskan persiapan pada beberapa aspek utama diantaranya menginventarisasi produk khas daerah seperti sate bandeng, rabeg, kue satu, hingga sayuran berdasarkan jenis, volume produksi harian, dan kecocokan serapan pasarnya.

Serta mendorong manajemen hotel menjadikan produk UMKM sebagai merchandise wajib yang terintegrasi dalam biaya menginap. Sebagai timbal balik, Pemkot menyiapkan opsi insentif pengurangan pajak hotel dan restoran bagi pelaku industri yang bersedia berkolaborasi.

"Selain itu membuka akses seluas-luasnya bagi pelaku usaha lokal untuk memasok kebutuhan SPPG pada program MBG, dengan syarat ketat pada pemenuhan standar volume dan keamanan pangan," paparnya.

Pihaknya menegaskan bahwa Pemkot Serang juga menggandeng sektor perbankan untuk mendukung suntikan modal saat permintaan produksi melonjak. Dan akan melibatkan perguruan tinggi di Kota Serang untuk menguji kandungan gizi (karbohidrat dan protein) produk UMKM, yang selama ini sampelnya masih harus dikirim ke Institut Pertanian Bogor (IPB).

Melalui langkah komprehensif tersebut, Pemkot Serang berharap dapat meningkatkan daya saing ekonomi daerah sekaligus memberikan kepastian kualitas, harga, dan kontinuitas pasokan bagi pihak industri yang menggunakan produk UMKM lokal.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.