Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Yenny Wahid Sebut Demonstrasi Anarkis dan Perusakan Bukan Kultur Nahdlatul Ulama

📅 Senin, 31 Agu 2026, 01:02 WIB | Oleh:
Yenny Wahid Sebut Demonstrasi Anarkis dan Perusakan Bukan Kultur Nahdlatul Ulama Doc: ANTARA/ Asmaul
Ket. Politikus perempuan sekaligus putri Presiden ke-4 RI K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Yenny Wahid di Jombang, Jawa Timur. Yenny hadir dalam kegiatan Muktamar Ke-35 NU, 27-31 Agustus 2026.

JOMBANG  - Politikus perempuan Yenny Wahid menegaskan bahwa aksi demonstrasi anarkis hingga perusakan fasilitas saat Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) sama sekali tidak mencerminkan kultur organisasi yang selalu mengedepankan musyawarah, Sabtu (29/8).

"Sebetulnya demonstrasi, lalu kemudian chaos, marah-marah itu bukan kulturnya NU. Kultur NU itu musyawarah. Semua hal, semua perbedaan seyogianya dimusyawarahkan," kata Yenny di Jombang, Jawa Timur, Sabtu.

Pernyataan tersebut disampaikan Yenny menanggapi dinamika yang terjadi dalam pelaksanaan Muktamar ke-35 NU, termasuk aksi demonstrasi dan ketegangan yang muncul setelah adanya keputusan dalam forum muktamar.

Menurut dia, pihak yang kecewa terhadap keputusan muktamar seharusnya menerima hasil yang telah menjadi kesepakatan para muktamirin dan tidak melampiaskan kekecewaan dengan tindakan anarkis.

"Kalau ada yang kecewa dengan hasil keputusan bukan kemudian dengan cara ngamuk-ngamuk, merusak fasilitas, merusak AC dan lain sebagainya. Itu bukan caranya NU," ujar putri dari Presiden ke-4 RI K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut.

Yenny juga menilai keputusan mengenai masa idah politik perlu diterima karena telah menjadi kesepakatan dalam muktamar.

Menurut dia, kebijakan tersebut penting untuk menjaga jarak antara NU dan partai politik.

Ia mengatakan jarak tersebut diperlukan agar NU tidak mudah dimasuki kepentingan politik praktis dan tetap berada pada posisi yang netral terhadap seluruh partai politik.

"NU tetap netral, NU berada di atas semua partai politik, NU itu politiknya kebangsaan," kata Yenny.

Ia menegaskan politik kebangsaan NU semestinya diarahkan untuk mengurus persoalan rakyat dan bangsa, termasuk menjaga persatuan dan kesatuan serta mendorong kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.

Terkait terbentuknya AHWA (Ahlul Halli wal Aqdi), Yenny berharap para kiai yang terpilih dapat mengambil keputusan terbaik dalam menentukan Rais Aam maupun kandidat Ketua Umum PBNU periode mendatang.

"Semua alim, semuanya fakih. Kita tentu menaruh harapan besar bahwa beliau-beliau itu kemudian bisa mengambil keputusan yang paling pas dalam memilih Rais Aam maupun memilih kandidat ketua umum ke depannya nanti," katanya.

Yenny juga berharap para muktamirin dan seluruh pihak yang terlibat dalam muktamar dapat menerima serta menghormati keputusan yang dihasilkan para ulama demi keberlangsungan NU dalam menghadapi berbagai tantangan pada abad kedua organisasi tersebut.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
jjroyal-luwak
Advertisement
KADIN Sebut Stabilitas Ekonomi Indonesia Jadi Modal Hadapi Kondisi Global

KADIN Sebut Stabilitas Ekonomi Indonesia Jadi Modal Hadapi Kondisi Global

19 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.